Daerah

Hari Meugang Terakhir, Pedagang Pasar Keutapang Akui Sepi Pembeli

1537
×

Hari Meugang Terakhir, Pedagang Pasar Keutapang Akui Sepi Pembeli

Sebarkan artikel ini
Yusri pedagang bahan pokok di pasar Keutapang sedang melayani pembeli, Aceh Besar, Darul Imarah, Senin (11/03/2024) FOTO/ DJ88

posaceh.com, Kota Jantho – Para pedagang di Pasar Keutapang Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar mengakui sepi pembeli walaupun hari meugang terakhir menyambut bulan suci Ramadan 1445 Hijriah. Kondisi seperti ini, disebabkan karena semua harga bahan pokok naik.

“Semua harga kebutuhan pokok naik. Sehingga daya beli masyarakat sangat menurun jika kita bandingkan dengan permintaan sembako pada meugang tahun lalu,” ungkap Yusri salah satu pedagang di Pasar Keutapang, Aceh Besar, Senin (11/03/2024).

Yusri menyebutkan cabai merah mencapai Rp 70.000 per kilo, cabai hijau Rp 30.000 per kilo, tomat Rp 15,000 per kilo, Cabai rawit Rp 40.000 per kilo, bawang merah Rp 35,000 per kilo, bawang putih Rp 38,000 per kilo, bawang bombay Rp 30,000 per kilo, sedangkan minyak goreng curah Rp20.000 per kilo.
“Biasanya, standar harga cabai Rp 30.000 perkl kilo, bila harga tomat standarnya Rp 9,000-Rp 10,000 perkilo. Namun, tahun ini naik sangat signifikan dan tidak bisa dibendung seperti harga sebelumnya,” ucapnya.

Hal yang sama juga disampaikan, Sulaiman, pedagang daging di Pasar Ketapang, mengatakan dirinya sudah dua hari berjualan daging meugang. Namun hingga hari ini masih banyak daging tertinggal.
“Biasanya masyarakat membeli daging antara dua hingga lima kilogram setiap kepala keluarga. Kini hanya satu kilogram dibeli. Meugang kali ini sepi pembeli,” kata dia.

Sulaiman mengungkapkan dirinya menyembelih dua ekor sapi pada tradisi meugang menyambut ramadhan ini dengan harapan bisa mendapat keuntungan.
“Tapi karena pembeli daging lesu, targetnya tidak tercapai. Bahkan bisa kami merugi. Coba lihat, hingga sekarang, persediaan daging masih seperti tadi pagi saya bawa,” ujarnya.

Kemudian, harga daging meugang berkisar Rp170 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram. Namun, karena lesunya pembeli, dirinya terpaksa menjual Rp150 hingga Rp160 ribu per kilogram.
“Karena persediaan daging masih banyak dan pembeli sepi, saya turunkan harganya hingga Rp150 hinggq Rp 160 ribu per kilogram,” sebutnya.

Selain itu, sepinya pembeli daging mungkin akibat perekonomian masyarakat sedang tidak baik, sehingga enggan membeli.
“Jadi, kami sebagai pedagang sangat terasa (rugi) dengan keadaan ekonomi masyarakat seperti ini,” pungkas Sulaiman. (Dj88)