posaceh.com, Teakengon — Para peserta Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 mengikuti kegiatan “Gelar Wicara Peran Sastra Kreatif Nusantara” di kawasan wisata Bur Telege, Aceh Tengah, Rabu (24/6/2026).
Kegiatan diawali dengan penampilan Tari Guel oleh Sanggar Pepanyi Aceh Tengah yang memukau para peserta. Selanjutnya, Ketua Panitia Pelaksana Daerah PPN XIV Aceh Tengah, Purnama Kahar, menyampaikan persalamen Ari Negeri Gayo yang sarat pesan silaturahmi dan kebangkitan sastra.
Dalam sambutannya, Purnama menegaskan pentingnya menjaga hubungan antarsastrawan serta menghidupkan kembali tradisi sastra yang sempat meredup. Ia juga mengapresiasi kehadiran sekitar 200 penyair dari berbagai daerah dan negara yang dinilai mampu menjadi inspirasi bagi perkembangan sastra di Aceh.
Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, M.SP, turut menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Aceh Tengah sebagai salah satu lokasi kegiatan PPN XIV Aceh.
“Kami dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mendukung penuh kegiatan ini dan akan berupaya memberikan kenyamanan serta keamanan bagi seluruh peserta,” ujarnya.
Ia berharap para peserta dapat menikmati pesona alam Tanah Gayo selama berada di Takengon. Menurutnya, selain dikenal sebagai daerah penghasil kopi dan palawija, Aceh Tengah juga memiliki potensi besar di sektor pariwisata dan UMKM.
“Mudah-mudahan Aceh Tengah ke depan dapat menjadi kota sastra, mengingat kekayaan budaya yang dimiliki. Selamat menikmati keindahan alam dan kuliner khas daerah kami,” tambahnya.
Kegiatan ini juga diramaikan dengan parade puisi yang dibawakan penyair dari 14 negara, serta penampilan Ketua BMKT Aceh Tengah, Yusrizal, bersama Sanggar Oloh Guwel yang menyuguhkan puisi bertema kisah, harapan, dan cinta.
Memasuki sesi utama, gelar wicara dipandu oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, S.S., M.Hum. Sejumlah narasumber memaparkan pandangannya terkait peran sastra kreatif dalam kehidupan masyarakat.
Dr. Salman Yoga S., S.Ag., MA dari The Gayo Institute menekankan bahwa sastra kreatif memiliki peran sentral sebagai media refleksi sejarah dan budaya, wadah kampanye kemanusiaan, serta instrumen menjaga identitas bahasa daerah di tengah arus globalisasi.
Menurutnya, sastra daerah merupakan pilar utama dalam melestarikan bahasa ibu seperti Bahasa Gayo agar tidak punah, sekaligus menumbuhkan kebanggaan budaya, khususnya di kalangan generasi muda.
Ia juga menyoroti perkembangan sastra di Tanah Gayo yang kini mulai berkolaborasi dengan musik, sehingga lebih menarik bagi generasi Z.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si., memaparkan konsep “5 Si” dalam pengembangan sastra kreatif, yakni fasilitasi, edukasi, kolaborasi, apresiasi, dan digitalisasi.
Menurutnya, pemerintah perlu memfasilitasi ekosistem sastra, memberikan edukasi yang menjangkau sekolah, mendorong kolaborasi antara sastrawan dan pendidik, memberikan apresiasi terhadap karya, serta memanfaatkan digitalisasi sebagai ruang baru bagi kreativitas sastra.
“Digitalisasi membuka peluang besar bagi karya sastra untuk berkembang melalui berbagai medium seperti puisi, cerpen, hingga animasi,” jelasnya.
Sastrawan Malaysia yang juga Presiden Persatuan Penulis Nasional Malaysia (PENA), Mohamad Saleeh Rahamad, menyampaikan bahwa sastra kreatif berperan sebagai penggerak intelektual dan pembina bangsa.
Ia menilai sastra memiliki fungsi penting dalam menyemai nilai kemanusiaan, memperkukuh identitas nasional, serta menjadi sarana kritik sosial yang konstruktif.
“Sastra bukan sekadar hiburan, tetapi juga medium untuk merakam realitas, membangun pemikiran masyarakat, dan bahkan meramalkan masa depan,” ungkapnya.
Dalam diskusi tersebut, salah satu maestro sastra juga berharap adanya kesempatan bagi para sastrawan untuk menulis puisi tentang Aceh dalam berbagai aspek, yang kemudian dibukukan agar Aceh semakin dikenal di kancah dunia.
Adapun rangkaian kegiatan PPN XIV Aceh 2026 meliputi upacara pembukaan dan penutupan, seminar internasional, festival puisi internasional, gelar wicara, bincang sastra, dialog kebudayaan, temu penyair internasional, hingga pameran instalasi karya puisi dan peluncuran antologi puisi bertajuk “Nurani Kemanusiaan.”(Rnld)
