Banghas

Gampong Dua Belas: Kisah Penjaga dari Mileuk

383
×

Gampong Dua Belas: Kisah Penjaga dari Mileuk

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Gampong Dua Belas Mileuk, lokasi antara Tangse dan Jantho Seulimum

Hutan di jalur tua antara Jantho, Seulimum, dan Tangse bukan sekadar deretan pohon. Ia adalah halaman pertama sejarah Aceh yang belum selesai dibaca. Di sanalah, di kawasan yang oleh orang-orang lama disebut Seumileuk—daratan luas—tersimpan jejak Suku Mante, bangsa awal Aceh yang hidup dalam sunyi, menjaga jarak, dan memelihara harga diri lebih tinggi dari hidup itu sendiri.

Di ujung jalan tanah menuju Gampong Mileuk, kampung tua yang pernah dikenal sebagai Kampung Rumoh Dua Belas, berdiri seorang perempuan. Orang-orang memanggilnya Cut Mileuk. Ia bukan tokoh besar, tak pula pejabat. Tapi caranya berdiri, menatap bukit, dan berbicara tentang hutan membuat siapa pun paham: ada sesuatu yang ia jaga lebih dari sekadar kampung.

Cut Mileuk berkulit sawo matang, rambut hitam panjang kerap disanggul sederhana. Matanya jernih, seperti air Krueng yang mengalir pelan di kaki bukit. Ia tumbuh bersama cerita—tentang manusia hutan yang tak suka diganggu, tentang tawa aneh dari rimbun, tentang gelang rotan dan langkah cepat yang menghilang sebelum sempat didekati. “Orang tua kami menyebut mereka Mante,” katanya suatu sore. “Bukan untuk ditakuti, tapi untuk dihormati.”

Sejarawan Aceh, H.M. Zainuddin, dalam Tarikh Aceh dan Nusantara, mencatat Mante sebagai bagian dari bangsa Melayu tua pembentuk Aceh. Mereka disebut sebagai penduduk awal Aceh Besar, berpusat di Seumileuk, lalu menyebar ke lembah-lembah. Hikayat bahkan merekam bagaimana dua orang Mante memilih mati kelaparan ketimbang kehilangan martabat saat ditangkap pada masa Sultan Alauddin Ali Mughayat Syah. Sejak itu, keluar maklumat: jangan mengganggu Mante.

Waktu berlalu. Hutan tetap berdiri—hingga manusia modern datang dengan beko, rakus dan tergesa. Penambangan liar mengoyak bukit, mengeruhkan sungai, dan membuka jalan menuju Mileuk. Suara mesin menggantikan suara burung. Tanah yang dulu dipijak Mante kini digali tanpa rasa bersalah.

Di saat itulah warga Tangse bangkit. Mereka menghadang alat berat di jalan menuju Mileuk. Tak ada senjata, hanya tubuh dan keyakinan. Cut Mileuk ada di barisan itu. Ia tak berteriak. Ia berdiri. Diamnya lebih keras dari suara mesin. “Kami bukan menolak pembangunan,” ujarnya, “kami menolak pemusnahan.”

Bagi Cut Mileuk, hutan adalah arsip hidup. Setiap pohon menyimpan cerita. Setiap alur sungai adalah kalimat panjang tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. “Kalau hutan ini habis,” katanya pelan, “Mante akan benar-benar hilang. Dan bersama mereka, hilang pula sebagian diri kita.”

Cerita tentang Mante memang sering dianggap mitos. Snouck Hurgronje mencatatnya dengan ragu, menyebutnya sekadar istilah ejekan. Tapi bagi orang Mileuk, Mante bukan kebodohan. Mereka adalah cara hidup: tidak serakah, tidak gaduh, dan tahu kapan harus menyingkir demi keseimbangan.

Sore itu, kabut turun dari bukit. Cut Mileuk berjalan menyusuri batas hutan, menyentuh batang-batang tua. Di wajahnya, kecantikan bukan sekadar rupa, tapi keteguhan. Ia seperti bayangan perempuan Mante masa silam—penjaga sunyi, penaut ingatan.

Mileuk mungkin kecil di peta. Tapi di sanalah pertaruhan besar berlangsung: antara ingatan dan amnesia, antara hutan dan mesin, antara warisan dan kerakusan. Selama masih ada perempuan yang berdiri menjaga kampungnya, sejarah belum sepenuhnya kalah.

Dan mungkin, jauh di balik rimbun yang tersisa, Suku Mante masih mendengar—menilai, apakah manusia Aceh hari ini masih pantas mewarisi tanah yang dulu mereka jaga dengan nyawa dan keteguhan. (Hasnanda Putra)