InternasionalNasional

Fenomena ‘Gerhana’ Bintang Akhir Pekan Nanti, Bisa Dilihat di RI?

24
×

Fenomena ‘Gerhana’ Bintang Akhir Pekan Nanti, Bisa Dilihat di RI?

Sebarkan artikel ini
Fenomena astronomi langka akan menghiasi langit malam pada akhir April 2026. FOTO/*

posaceh.com, Jakarta – Fenomena astronomi  langka akan menghiasi langit malam pada akhir April 2026. Fenomena langka itu adalah ‘gerhana’ bintang atau okultasi asteroid.

Observatorium Bosscha mengungkap fenomena ini akan terjadi pada Minggu malam (26/4) sekitar pukul 19.41 WIB. Bosscha juga memastikan fenomena ini dapat diamati dari wilayah Indonesia

Bosscha, dalam laman resminya, menjelaskan bahwa okultasi adalah peristiwa ketika obyek langit tertutupi obyek langit lainnya yang lebih besar dari sudut pandang pengamat di Bumi. Pada saat ini, sebuah bintang sedang tertutup oleh asteroid.

Fenomena ini sering disebut sebagai ‘gerhana’ bintang karena secara visual menyerupai gerhana, meski yang terjadi bukan gerhana seperti Matahari atau Bulan. Cahaya yang meredup hanya beberapa saat, namun memiliki nilai ilmiah tinggi.

Pada peristiwa kali ini, asteroid (1201) Strenua akan melintas di depan sebuah bintang lainnya sehingga cahaya bintang tersebut tampak meredup atau bahkan menghilang pada suatu saat.

Fenomena ini terjadi ketika asteroid (1201) Strenua melintas di depan bintang HIP 35933 (HD 58050) dan menutupi cahayanya selama beberapa detik, kata Bosscha dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).

Strenua diketahui sebagai sabuk asteroid utama yang mengorbit Matahari di antara Mars dan Jupiter. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa asteroid ini memiliki ukuran puluhan kilometer dan merupakan objek yang relatif redup.

Oleh karena itu, pengamatan melalui metode okultasi menjadi salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan akurasi data mengenai bentuk dan dimensinya.

Pengamatan okultasi asteroid

Untuk mendukung pengamatan fenomena ini, Observatorium Bosscha menginisiasi Kampanye Nasional Pengamatan Fenomena Langit Langka Okultasi Asteroid Strenua. Kampanye ini akan melibatkan 44 titik pengamatan dari 34 institusi, komunitas, dan kontributor individu di seluruh Indonesia

Ini menjadikannya salah satu kolaborasi observasi astronomi berbasis publik terbesar di Indonesia.

“Observatorium Bosscha menerjunkan empat tim pengamat yang akan ditempatkan di Lembang (Observatorium Bosscha dan Jayagiri), Ciater (Subang), serta Kupang (Nusa Tenggara Timur),” kata Bosscha.

“Kupang dipilih sebagai lokasi strategis karena memiliki peluang kondisi cuaca yang lebih baik, sehingga meningkatkan kemungkinan keberhasilan pengamatan,” lanjutnya.

Menurut Bosscha dengan menggabungkan data dari berbagai lokasi, para peneliti dapat merekonstruksi lintasan bayangan asteroid untuk memperoleh informasi mengenai ukuran, bentuk, dan karakteristik fisiknya dengan ketelitian tinggi.(Muh/*)