Banghas

Fakta Dibalik Legenda Putroe Neng Bersuami 100 Lelaki

4751
×

Fakta Dibalik Legenda Putroe Neng Bersuami 100 Lelaki

Sebarkan artikel ini

Aceh menyimpan banyak kisah para tokoh perempuan yang dikenal jago bertempur dan mampu memimpin kerajaan dengan baik. Selain cerdas, perempuan dari ujung barat Indonesia ini juga memiliki paras menawan cantik jelita.

Di antara kisah yang cukup melegenda penuh misteri, adalah kisah seorang jenderal wanita rupawan yang mampu memenangkan medan pertempuran dengan cara tersendiri.

Putroe Neng, demikian wanita perkasa yang disebut memiliki nama asli Nian Nio Lian Khie.

Banyak kisah tentang putri cantik ini, yang kuburannya berada di Gampong Blang Pulo, Lhokseumawe.

Meurah Johan, suami pertama Putroe Neng

Suatu waktu di malam pertama. Sang pengantin putri dari kamar pengantin memancarkan kemilaunya, pengantin pria seorang Raja segera saja menghampirinya.

Nian Nio Liang Khie atau Putroe Neng perempuan jelita itu dan menurut cerita tutur yang berkembang si pengantin pria adalah Sultan Meurah Johan. Pancaran kemolekan tak redup dalam remang malam membuat rindu Sultan tak tertangguhkan.

Namun, kejadian mengerikan justru mereka dapatkan. Sultan Meurah meregang nyawa beberapa saat setelah menyentuh pujaan hatinya itu Tubuhnya kaku dan bibirnya membiru usai malam pertama dengan Putroe Neng.

Waktu berjalan, perjalanan cinta putri asal Kerajaaan Tiongkok itu belum juga berakhir. Setiap yang menjadi suami Putroe Neng, meninggal pada malam pertama. Sampai lah pada angka ke 99, jumlah pengantin pria yang telah merenggang nyawa.

Racun magis Putroe Neng

Akhirnya diketahui bahwa Putroe Neng memiliki racun pada alat kelaminnya. Racun tersebut ditanam oleh neneknya saat ia beranjak belia. Suasana pertempuran dan bahaya mengancam cucu jelitanya, membuat sang nenek memasang ‘senjata tersembunyi’ berupa racun pada organ intim Putroe Neng.

Lelaki ke-100

Hingga akhirnya datanglah seorang laki-laki ke-100 untuk meminang Putroe Neng bernama Syeikh Syiah Hudam.

Syeikh Syiah Hudam kemudian menjadi pengantin pria yang selamat di malam pertama dan mampu menarik racun yang ada dalam tubuh istrinya dengan bermodalkan bambu.

Meski racun sudah tak lagi bersemayam di tubuh Putroe, pasangan ini sama sekali tidak dikaruniai keturunan hingga keduanya beranjak tua sampai akhir hayat.

Benarkah cerita ini? Kisah tentang Putro Neng banyak disarikan dari novel Ayi Jufridar yang bercerita tentang kisah misteri bersuami seratus Putroe Neng.

Sementara di Kota Banda Aceh juga terdapat sebuah sungai yang dikenal dengan Krueng Neng. Adakah kaitan dengan Nian Nio Liang Khie atau Putroe Neng? Masih butuh banyak literasi sejarah mengungkap tabir penuh legenda ini.

Seterusnya, apakah suami pertama dari Putroe Neng yang disebut Sultan Meurah Johan itu adalah pendiri kerajaan Aceh di Gampong Pande. Sebagaimana tertulis dalam sejarah Kota Banda Aceh, disebutkan Sultan Meurah Johan adalah raja pertama Kerajaan Aceh yang memerintah dari tahun 601 H/1205 M sampai dengan tahun 631 H/1234 M. Beliau mangkat pada hari Kamis, 1 Rajab 631 H dan dimakamkan di Gle Weueng, Aceh Besar.

Kisah di atas yang menyebut suami keseratus Putro Neng adalah Syeikh Syiah Hudam juga memiliki misteri. Faktanya, nama ulama tersebut adalah pimpinan pasukan Kesultanan Peureulak yang membantu kerajaan Lamuri di bawah pimpinan seorang ulama Syekh Abdullah Kan’an yang bergelar Syiah Hudan (turunan Arab dari Kan’an).

Syekh Abdullah Kan’an adalah seorang ulama asal Kanaan, Palestina yang mula-mula menyiarkan agama Islam ke Aceh Besar. Menurut catatan wikipedia, Ia datang ke Aceh Besar bersama dengan Meurah Johan pada tahun 576 H/1180 M. Ia merupakan ahli pertanian yang pertama kali membawa bibit lada ke Aceh. Namanya dalam masyarakat Aceh dikenal dengan Teungku Chik Lampeuneu’euen dan kampung yang didiaminya dinamakan dengan Lampeuneu’euen yang sekarang termasuk dalam wilayah kecamatan Darul Imarah di Aceh Besar.

Sekali lagi, kita butuh banyak penelitian untuk mengungkap kisah sejarah, agar suatu hari generasi kita tidak menyebut sejarah sebagai sebuah legenda karena kurangnya literasi yang kita tinggalkan dan justru dongeng akan dianggap sebagai fakta sejarah. (Hasnanda Putra)