posaceh.com, Banda Aceh – Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Fifi Febryanti Sukman, S.Sn., M.Sn., meluncurkan buku dan film dokumenter berjudul “Dokumentasi Jejak Maskulinitas Syeh Dahri dalam Tari Seudati” di Mini Studio Perpustakaan Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Jumat (25/9/2026).
Karya tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan perjalanan hidup, pengalaman berkesenian, serta warisan pengetahuan Syeh Dahri Dalam Tari Seudati. Proses dokumentasi dilakukan melalui pengumpulan data, wawancara dengan keluarga, sahabat dan murid serta pendokumentasian berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan dan perjalanan kesenian Syeh Dahri.
Peluncuran buku dan dokumenter tersebut turut dihadiri Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ISBI Aceh Dr Ratri Candrasari, M.Pd., Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Aceh Besar Imam Munandar, S.TP., Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar Cut Jarita Susanti, S.Pd., sejumlah dosen ISBI Aceh serta undangan lainnya.

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ISBI Aceh, Dr. Ratri Candrasari, M.Pd., memberikan apresiasi terhadap karya yang mengangkat perjalanan dan warisan kesenian Syeh Dahri tersebut.
Menurutnya, dokumentasi terhadap tokoh seni dan budaya seperti Syeh Dahri penting dilakukan agar pengetahuan dan pengalaman para pelaku seni aceh dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kisah Syeh Dahri ini perlu kita angkat dan lestarikan. Seudati merupakan kesenian yang mengandalkan kekompakan yang luar biasa. Karena itu, karya seperti ini penting untuk menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya Aceh,” katanya.
Ratri berharap buku dan dokumenter tersebut tidak hanya menjadi karya akademik, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran dan referensi bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang ingin mengenal lebih jauh tentang Tari Seudati.
“Kami memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas karya anak bangsa ini. Semoga buku dan dokumenter ini dapat memberikan manfaat dan menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Sementara itu, Dosen ISBI Aceh Fifi Febryanti Sukman, S.Sn., M.Sn., mengatakan kegiatan tersebut menghasilkan dua luaran utama, yakni buku biografi Syeh Dahri dan video dokumenter yang ditampilkan dalam kegiatan peluncuran.

“Kedua karya ini diharapkan dapat menjadi arsip budaya, bahan pembelajaran, sekaligus media untuk memperkenalkan dan meneruskan warisan Seudati kepada generasi berikutnya,” katanya.
Fifi menyadari hasil dokumentasi tersebut belum dapat merekam seluruh perjalanan hidup Syeh Dahri maupun seluruh kekayaan Tari Seudati. Menurutnya, masih banyak cerita, arsip, foto, syair dan pengalaman para pelaku seni yang perlu dihimpun dan didokumentasikan.
“Kami menyadari bahwa hasil kegiatan ini tentu belum dapat merekam seluruh perjalanan hidup Syeh Dahri dan seluruh kekayaan Seudati. Masih banyak cerita, arsip, foto, syair, serta pengalaman para pelaku yang perlu dikumpulkan dan dilanjutkan pada masa mendatang,” ujarnya.
Ia berharap karya tersebut dapat menjadi pijakan awal untuk membangun dokumentasi tentang Seudati yang lebih lengkap dan berkelanjutan.
“Semoga buku dan dokumenter ini dapat menjadi salah satu bentuk penghormatan kepada Syeh Dahri serta memberi manfaat bagi upaya pelestarian Tari Seudati di Aceh,” ungkapnya.
Fifi juga menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan melalui program Dana Indonesia Raya, keluarga almarhum Syeh Dahri, para narasumber, tim produksi, serta seluruh pihak yang telah mendukung proses penyusunan buku dan dokumenter tersebut. (Zal)











