posaceh.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus melemah, nyaris menyentuh angka Rp 18 ribu per satu dolar. Apakah hal ini sudah berdampak serius terhadap industri otomotif di Tanah Air?
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) terus melakukan berbagai upaya untuk menstimulasi penjualan kendaraan roda empat di Indonesia, salah satunya melalui pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 yang berlangsung pada Juli-Agustus.
Di sisi lain, industri otomotif juga mendapat tantangan dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus terjadi belakangan ini. Dengan adanya fenomena itu, apakah harga mobil bakal ikutan naik dalam waktu dekat ini?
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan, dengan terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, tak otomatis harga mobil ikutan naik. Sebab, industri juga memikirkan efek jangka panjangnya.
“Biasanya pelaku industri otomotif itu nggak segampang itu ‘oh ini naik, hari ini kita (naikkan harga mobil)’. Kan kita bukan kayak fast moving things, perlu penghitungan. Sebab kalau kemudian itu terlalu gegabah, itu yang terjadi malah sebaliknya, orang akan nahan beli. Begitu nahan beli, ini kan stoknya banyak. Stok barang jadi, yang belum jadi, komponen, dan sebagainya. Komitmen buat beli raw material. Panjang. Jadi kita jaga optimismenya,” bilang Kukuh kepada wartawan di Jakarta (26/5/2026).
Beberapa agen pemegang merek di Indonesia juga belum memiliki rencana menaikkan harga mobil. Honda misalnya, masih mempertahankan harga mobil saat ini.
Honda diuntungkan dengan tingkat komponen dalam negeri yang tinggi, sehingga tidak terlalu bergantung pada komponen impor.
“Tentunya pelemahan rupiah sekarang ini memberi tekanan ya buat kami yang melakukan importasi, misalnya impor (CBU) ataupun komponen, juga kadang produksi buat bahan-bahan produksi kami juga ada yang masih (dibeli) menggunakan mata uang asing. Tapi sebagian besar produksi kami di pabrik Karawang itu sudah memiliki tingkat kandungan dalam negeri yang sangat tinggi, jadi bisa menahan dampak pelemahan rupiah,” ungkap Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy.
Hal senada juga diungkapkan Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan. Kata Luther, dinamika politik, geopolitik, ekonomi yang terjadi saat ini, baik di Indonesia maupun di global, memang berdampak pada adanya fluktuasi dari ongkos produksi. Kendati begitu, BYD belum berencana menaikkan harga jual mobil mereka.
“BYD di Indonesia investasi jangka panjang dan kita telah memikirkan kondisi-kondisi ini dari masa-masa kita melakukan comprehensive study. Sampai saat ini kami masih tetap positif dan confident dengan strategi yang kami miliki, baik secara produk, pricing, juga promosi-promosi yang kami akan lakukan. Sampai saat ini belum ada perubahan dengan adanya situasi-situasi tersebut,” kata Luther.(Muh/*)











