Nasional

Daihatsu Akui Pelemahan Rupiah Paksa Industri Lakukan Penyesuain

19
×

Daihatsu Akui Pelemahan Rupiah Paksa Industri Lakukan Penyesuain

Sebarkan artikel ini
Booth Daihatsu di GIIAS 2024. FOTO/ADM

posaceh.com, Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi tekanan terhadap industri otomotif nasional. Kondisi tersebut membuat pelaku industri harus mulai melakukan berbagai penyesuaian, mulai dari efisiensi biaya hingga penguatan komponen lokal untuk menjaga keberlangsungan bisnis.

Marketing Director PT Astra Daihatsu Motor, Sri Agung Handayani, mengatakan dampak depresiasi rupiah tidak hanya dirasakan Daihatsu, tetapi juga seluruh industri otomotif di Indonesia.

Sebab, masih ada sejumlah komponen kendaraan yang bergantung pada impor sehingga sensitif terhadap perubahan kurs.

“Saya rasa depresiasi ini berdampak bukan hanya pada pabrik Daihatsu. Ini akan terjadi pada seluruh industri yang ada di Indonesia. Maka saya yakin akan ada penyesuaian,” ujar Sri Agung di Tangerang, Rabu (20/5/2026).

Menurut dia, ADM saat ini memiliki tingkat lokalisasi komponen lebih dari 80 persen. Namun demikian, beberapa komponen masih berasal dari luar negeri sehingga tekanan nilai tukar tetap memengaruhi struktur biaya produksi kendaraan.

Untuk menghadapi situasi tersebut, Daihatsu mulai menjalankan sejumlah strategi efisiensi di internal perusahaan.

Langkah yang dilakukan antara lain restrukturisasi biaya manufaktur hingga pembahasan bersama rantai pasok untuk mempercepat pengembangan komponen lokal.

“Jadi kita restructure biaya dan melakukan efisiensi di manufacturing kita. Lalu kita ada pembahasan juga dengan total supply chain untuk mencari solusi dalam pengembangan lokalisasi dari beberapa komponen,” katanya.

Sri Agung menegaskan, meski tekanan biaya mulai terasa, perusahaan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis, termasuk terkait penyesuaian harga kendaraan. Daihatsu disebut tidak ingin seluruh dampak kenaikan biaya langsung dibebankan kepada konsumen.

“Tapi apa yang akan dilakukan Daihatsu akan dilakukan dengan sangat hati-hati dan prudent. Artinya, tidak semua dilakukan dan di-deploy kepada customer,” ujarnya.

ADM juga memastikan hingga saat ini belum ada kenaikan harga kendaraan Daihatsu dalam empat bulan terakhir. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga pasar pembeli mobil pertama atau first car buyer yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan Daihatsu di Indonesia.

Di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang, perusahaan menilai pasar kendaraan terjangkau masih memiliki permintaan cukup kuat, terutama dari wilayah rural dan daerah berkembang yang kini menjadi salah satu sumber pertumbuhan penjualan. Selain pasar domestik, kinerja ekspor juga menjadi penopang penting industri otomotif nasional.

Daihatsu mencatat ekspor kendaraan masih mengalami pertumbuhan pada tahun ini, seiring meningkatnya permintaan dari sejumlah negara tujuan utama.

Dengan kondisi kurs yang masih fluktuatif, industri otomotif diperkirakan akan terus melakukan berbagai penyesuaian dalam beberapa waktu ke depan, terutama untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan daya beli konsumen.(Muh/*)