Banghas

Cinta Marsose di Tangse

3939
×

Cinta Marsose di Tangse

Sebarkan artikel ini
Sumber gambar : wikiwand

Mentari enggan keluar, kabut pagi masih menutupi lembah dataran tinggi ini. Hari itu, ahad Desember 1912. Letnan Satu H.J. Schmidt berdiri di tepi Krueng Mukoh, sungai “air es” yang membelah Kota Tangse.

“Sudahlah Letnan, apa yang kau cari disini?,” Sartiwi tiba-tiba muncul dari rimbun pohon.

Schmidt tak bergeming, sorot matanya terus saja memandang Gunung Singgah Mata.

“Aku lelah Tiwi, ” Schmidt melemas.

“Apakah aku tidak salah dengar Letnan, seorang pemimpin Marsose yang ditakuti mengaku lelah? Hanya karena seorang anak kecil Ma’at Muda!, ” Sergah Sartiwi.

“Aku tidak sedang memikirkan perang, menjauhlah. Aku butuh ketenangan, ” Schmidt meninggi.

Sartiwi, perempuan Nusantara pengisi hari-hari Tentara Marsose itu segera saja menjauh. Tidak dinyana, pesona dirinya yang anggun dicari banyak perwira Kolonial di Kutaraja ternyata dicibir seorang perwira kecil yang tak tahu diri itu.

Perang belum usai, pengejaran sisa-sisa Mujahidin Tiro menghabiskan banyak biaya, tenaga dan nyawa Tentara Belanda. Di Tangse, Belanda membangun tangsi besar dan pendopo perwira. Setelah Kutaraja, Tangse bakal dijadikan “istana” kedua petinggi Kolonial.

Schmidt perwira Belanda yang lancar berbahasa Aceh, ketangkasan berperang dan mengejar tanpa ampun pejuang menempatkan nya sebagai sosok Kolonial yang diperhitungkan di Kutaraja.

**
Korps Marechaussee te Voet atau Marsose, adalah satuan militer yang dibentuk pada masa kolonial Hindia Belanda sebagai upaya menghadapi perlawanan gerilya di Aceh.
**

Penugasannya ke Tangse terlalu berat, bukan karena beratnya medan tempur atau terlalu kokohnya pertahanan pejuang. Namun, seorang gadis Tangse telah mencuri perhatian nya. Meninggal kan lembah sejuk ini bukan sekedar perpisahan biasa, seseorang yang sangat dicintainya tidak akan pernah dilihatnya lagi.

“Aku gadis kampung bukan none kulit putih mu, janganlah kau bermimpi terlalu jauh Schmidt, ” Kata Nyak Mameh suatu senja, gadis cantik yang cukup menyita waktu perwira Marsose ini.

Nyak Mameh tinggal di Pulo Mesjid, gampong tua yang tidak jauh dari Kuta Tangse. Berkali-kali Schmidt mengunjungi kediaman Nyak Mameh, namun tidak sekalipun pernah duduk berdua. Tradisi kuat yang melarang pria dan perempuan nonmuhrim berduaan apalagi saling menatap dihargai perwira Marsose ini. Setiap kali dikunjungi, Schmidt duduk di bawah Rumoh Aceh, sementara Nyak Mameh berada di atas. Bolong-bolong kayu lantai rumah memberi ruang keduanya berkomunikasi tanpa saling memandang.

“Satu hal lagi Letnan, aku Muslimah hanya akan kawin dengan seorang Muslim, ” Tegas Nyak Mameh.

“Lon teupeu gata han mungken meusandeng ngen sidroe Kaphe, ” Kata Schmidt sadar diri.

“Aku tak pernah memaksamu menjadi seorang Muslim Schmidt, ” Lanjut Nyak Mameh.

Schmidt tahu, andai Belanda mau memenuhi surat Tgk Chik Ditiro maka tidak akan ada perlawanan. Begitupun, cintanya dengan Mameh hanya tinggal Mat Jaroe Malem saja. Chik Ditiro tak pernah minta harta atau kuasa, beliau hanya mau menyerah bila Belanda mengucap kalimat syahadat.

Gemercik air bening yang terus saja mengalir, kicau Murai Batu menari-nari digendang telinga. Schmidt segera beranjak setelah seorang Kopral Marsose mengingatkannya bahwa matahari telah tepat diatas kepala, petanda siang telah tiba.

**
Waktu terus mengubur kenangan, begitupun adanya tentang ingatan seorang dara tetap dibawa Schmidt sampai suatu hari perwira handal ini pindah ke daerah lain. Naas bagi Schmidt yang tak hanya kehilangan Nyak Mameh, namun tusukan berani seorang pejuang di tahun 1933 mengakhiri hidupnya.(Hasnanda Putra)