Banghas

Cheng Ho dan Cakra Donya

3068
×

Cheng Ho dan Cakra Donya

Sebarkan artikel ini
Lonceng Cakra Donya di Musium Negeri Aceh, Banda Aceh

Suatu waktu dalam sebuah pelayaran keempat di tahun 1410 Laksamana Agung Cheng Ho tiba di seputaran Selat Malaka dan akhirnya singgah di sebuah kerajaan di pesisir utara Aceh.

Cheng Ho dalam setiap pelayaran yang disinggahinya, dia menunjukkan kepedulian tinggi dengan penduduk lokal.

Dalam kapal besarnya, Cheng Ho memiliki tim medis dan tim pertanian yang diturunkan pada daerah-daerah yang disinggahinya, termasuk ketika singgah di Aceh.

Ketika singgah pertama sekali di Aceh, Cheng Ho mengerahkan 317 kapal, termasuk 60 kapal induk, dan lebih dari 27.000 awak kapal. Kapal-kapal seperti ditulis Hum Sin Hoon, ukuran kapal-kapal besarnya sekitar 145 m x 60 m. Armada ini memang sangat kolosal di abad ke-15 dan mencerminkan kemampuan pembuatan kapal yang lebih maju di China.

Di Samudera Pasai, secara khusus karena kejujuran penduduk kerajaan, Cheng Ho membuka basis dengan mendirikan guanchang (gudang) besar. Samudera menurut armada Cheng Ho dipandang sebagai pelabuhan kunci bagi belahan utara Selat Malaka. Samudera Pasai kemudian digunakan oleh Cheng Ho sebagai tempat “pemberhentian” di jalur ke selatan India. Jalur ini juga dianggap sebagai pelabuhan terakhir sebelum kapal-kapal memulai pelayaran panjang melintasi Samudera Hindia ke Ceylon dan bagian selatan India.

Relasi erat antara Samudera dengan Dinasti Ming yang bertahun-tahun kemudian terjalin melalui kunjungan berbalas antara dua negeri. Dalam kunjungan tersebut Cheng Ho juga menyampaikan hadiah dari Kaisar Cina, Lonceng Cakra Donya.

Bila kita menyingkap sejarah lebih lanjut, ketika Cheng Ho singgah di Samudera Pasai, yang berkuasa saat itu adalah Ratu Nahrasiyah memerintah tahun 1405-1428 M. Sang Ratu adalah anak dari Zainal Abidin Malikudzahir atau cucu dari Sultan Malikussaleh. Berkuasa dengan arif selama 20 tahun lebih.

Ilustrasi Cheng Ho

Itulah Cheng Ho sang Laksamana yang terukir dalam tinta emas penjelajah dunia paling berpengaruh sepanjang masa. Berlayar dari tahun 1405-1433, Cheng Ho memimpin armada laut terbesar didunia dalam tujuh pelayaran besar dan bersejarah.

Dalam Buku Cheng Ho, Profesor Hum Sin Hoon menyebutkan dalam hal waktu dan segi jumlah kekuatan pelayaran, Cheng Ho tiada tandingnya.

Pelayaran perdana Cheng Ho (tahun 1405) dilakukan 87 tahun lebih dulu dibandingkan dengan kedatangan Christopher Columbus (tahun 1492), juga lebih dahulu dibandingkan Vasca da Gama melintasi Afrika Selatan (1497) dan Ferdinan Magellan yang berlayar keliling dunia 100 tahun (1519) setelah pelayaran ke-6 Cheng Ho.

Lonceng yang berpindah

Seorang Raja Aceh yang naik tahta pada tahun 1496 melakukan ekspansi besar-besaran memperluas kerajaan Aceh. Sultan Ali Mughayat Syah yang menjadi Raja pertama Aceh Darussalam mulai menundukkan dan menyatukan beberapa wilayah dalam periode pertama kepemimpinannya, seperti Daya, Pedir sampai Pasai.

Ketika kerajaan Pasai ditaklukan oleh Kerajaan Aceh Darussalam dibawah komando Sultan Ali Mughayatsyah pada 1542 M, lonceng itu diboyong ke Istana Darud Dunia Banda Aceh, pusat Kerajaan Aceh Darussalam.

Pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), lonceng ini pernah dipasang di buritan kapal induk Cakra Donya. Karena ukuran kapal yang sangat besar, Portugis pernah menyebutnya dengan nama Espanto del mundo atau teror dunia.

Setelah tidak digunakan lagi dalam kapal, lonceng besar ini kemudian hari digantung dalam komplek Istana Darud Dunia. Lonceng ini sering dibunyikan ketika Sultan mengumpulkan penghuni istana mendengar pengumuman dan titah sultan.

Ketika zaman Belanda pada tahun 1915 lonceng tersebut kemudian dipindahkan ke Museum Negeri Aceh. Kondisi saat ini lonceng tua ini masih berada dalam komplek Museum dan menjadi objek yang paling banyak dikunjungi sekaligus destinasi sejarah yang mengesankan.

Begitulah jejak warisan Lonceng Cakra Donya di Banda Aceh, sebuah perjalanan bersejarah persahabatan Tiongkok yang dibawa Laksamana agung Cheng Ho untuk negeri Aceh. Sebagaimana namanya Cakra Donya, lonceng itu adalah tanda atau kabar untuk dunia. (Hasnanda Putra)