Pada tahun-tahun 1980-an, sebelum aspal benar-benar jinak dan sebelum jam tangan lebih dipercaya daripada matahari, ada satu bunyi yang selalu dinanti di jalur Beureunuen–Tangse–Geumpang: deru berat mesin kerap disebut Mototong.
Bus tua berwarna cokelat-oranye itu bukan sekadar kendaraan. Ia adalah penanda waktu. Ketika ia berhenti di Keude Mane, debu jalan beterbangan, anak-anak berlari mendekat, dan pedagang kopi mengangkat kepala—tahu bahwa kampung sebentar lagi ramai.
Di atas papan rute tertulis tebal:
BEUREUNUEN – TANGSE – GEUMPANG
Dan di depannya terpasang plat, namun tidak ada yang hafal, karena saat itu bus tua itu hanya satu dan tidak perlu penanda dari mobil lainnya.
Mototong selalu datang dengan cerita.
Di bangku depan, sopir duduk santai tapi waspada, satu tangan di setir besar, satu lagi siap meraih tuas persneling. Ia hafal setiap tanjakan, tikungan tajam, dan lubang jalan di Tangse—bahkan yang tertutup genangan hujan. Kondektur berdiri setengah badan di pintu, memanggil penumpang dengan suara khas, seolah semua orang di kampung adalah keluarganya sendiri.
Penumpangnya beragam.
Petani kopi dari Geumpang, pedagang kain dari Beureunuen, ibu-ibu membawa ayam dalam keranjang, anak sekolah yang matanya penuh rasa ingin tahu. Di atap, karung beras, rotan, dan hasil kebun diikat kuat—kadang lebih berat dari muatan di dalam.
Namun menjelang akhir dekade itu, ketika kalender pelan-pelan menunjukkan 1989–1990, suasana mulai berubah.
Konflik Aceh kian naik tensinya. Jalur yang dulu hanya dikenal sebagai lintasan dagang dan silaturahmi, mulai menyimpan bisik-bisik yang lebih berat. Di dalam Mototong, percakapan kadang terhenti tiba-tiba saat melewati pos tertentu. Sopir tak lagi banyak bercanda, sorot matanya lebih tajam dari biasanya.
Nama Pawang Rasyid mulai sering disebut—pelan, hampir berbisik.
Ia dikenal sebagai panglima Aceh Merdeka yang melegenda, bergerak di sekitar hutan Mane dan Geumpang. Hutan-hutan yang selama ini akrab bagi penumpang Mototong—tempat mereka menurunkan rotan dan hasil kebun—kini juga menjadi ruang perlawanan. Gunung dan rimba yang dulu hanya bergema oleh suara mesin tua, kini menyimpan jejak perjuangan.
Kadang, di bangku belakang Mototong, ada penumpang yang lebih banyak diam.
Tak ada yang bertanya terlalu jauh. Semua paham, di masa itu, diam sering kali lebih aman. Tapi di balik diam, ada keyakinan, ada harap, ada doa yang ikut melaju bersama bus tua itu—menyusuri Tangse menuju Geumpang.
Perjalanan melewati Tangse tetap bukan perkara cepat.
Mesin Mototong meraung panjang di tanjakan, lalu menurun perlahan di tikungan sempit, seakan sedang berbincang dengan gunung dan hutan—hutan yang kini bukan hanya saksi alam, tapi juga saksi sejarah. Jika hujan turun, roda kadang tergelincir, penumpang turun mendorong bersama-sama. Tak ada keluhan—yang ada justru tawa singkat, lalu kembali senyap, sadar zaman sedang berubah.
Di Keude Mane, Mototong biasanya berhenti sebentar.
Ada yang turun untuk shalat, ada yang sekadar minum kopi panas. Sopir mengecek mesin, menyiram radiator, sementara penumpang saling bertanya kabar—kini dengan suara lebih pelan. Di sinilah kabar kampung bertukar, jodoh masih dibicarakan, tapi juga terselip cerita tentang patroli, hutan, dan nama-nama yang kelak jadi legenda.
Mototong mengajarkan satu hal yang kini mulai hilang:
perjalanan bukan sekadar sampai tujuan, tapi tentang kebersamaan—bahkan di masa yang penuh ketidakpastian.
Kini, jalur itu sudah berubah. Aspal halus, kendaraan cepat, dan waktu terasa tergesa. Tapi bagi mereka yang pernah duduk di bangku kayu Mototong, suara mesinnya masih tinggal di ingatan—bercampur dengan debu jalan, tawa penumpang, dan ingatan akan masa ketika Aceh pedalaman menjalani hidup, perjuangan, dan harapan di jalan yang sama.
Mototong mungkin sudah lama berhenti.
Namun kisahnya—bersama hutan Mane, Geumpang, dan nama Pawang Rasyid—tak pernah benar-benar sampai di terminal akhir.(Hasnanda Putra)











