Siapa yang tidak kenal dengan Ulee Kareng, episentrum kopi Aceh. Orang luar pecinta kopi sangat mengenal wilayah ini, sebagai destinasi ngopi yang seakan tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Kota Banda Aceh.
Menariknya, kawasan ini tidak memiliki lahan kebun kopi, namun sejak lama menjadi sentral pengelolaan biji kopi robusta dan deretan warung kopi. Biji kopi robusta sebagai bahan baku itu didatangkan dari kawasan Aceh Jaya dan sebagian dari kebun kopi dari Tangse, di Pidie.
Racikan kopi telah memberi Citarasa kopi Ulee Kareng yang khas dan harum. Aromanya telah membius nusantara dan dunia, terlebih pasca gempa tsunami 2004 lalu. Ribuan relawan nusantara dan dunia yang datang waktu itu sangat suka nongkrong minum kopi di Ulee Kareng.
Salah satu brand kopi yang terkenal di kawasan ini adalah Solong Kopi dan masih ada beberapa merk warung kopi lainnya yang telah membuat nama Ulee Kareng tenar mendunia.
Namun ternyata penyebutan Ulee Kareng adalah kekeliruan terlalu jauh, mengikuti pengucapan orang Belanda yang susah mengeja kata-kata dalam bahasa Aceh. Seperti penyebutan Olele untuk Ulee Lheue, hingga sampai kini masih ada orang kita yang mengeja kata pengucapan lidah orang Belanda itu.
Nah untuk Ulee Kareng, sebenarnya nama aslinya adalah Ulee Kareung, dalam bahasa Melayu ditulis karang atau kareung dalam bahasa Aceh. Jadi kawasan ini terletak di dataran tinggi, sehingga banjir besar yang pernah melanda Banda Aceh sejak dahulu disebut tidak pernah menenggelamkan kawasan ini sama sekali.
Suatu waktu di 22 April 2013, penulis mengundang sejarawan Nurdin AR pada acara peringatan ulang tahun Kota Banda Aceh ke 808 di Gampong Pande. Dalam tausiah sejarahnya beliau mengungkapkan sejarah tentang Ulee Kareng. Menurut mantan Kepala Museum Negeri Aceh ini, banyak orang salah mengira bahwa Ulee Kareng itu dengan terjemahan kepala ikan teri, padahal yang sebenarnya adalah Ulee Kareung atau bukit karang dan itu disebutkan dalam Qanun tertinggi Aceh Meukuta Alam.
Penegasan kebenaran cerita ini juga ditulis Hasan Basri M Nur, dalam aceh.tribunnews (16/3/2017), Bukan Ulee Kareng tapi “Ulee Kareung”. Mengutip pendapat Sejarawan Aceh, Drs. Nurdin AR, M.Hum, dalam diskusi tersebut, bahwa yang benar adalah Ulee Kareung.
“Ini punya referensi kuat dalam Qanun Meukuta Alam. Di sana jelas tertulis dalam bahasa Arab-Jawi kata “Karang” terdiri dari huruf kaf, ra di depannya alif dan ghain bertitik tiga,” kata Nurdin AR didampingi Dr. Harun Al-Rasyid, dosen Bahasa Indonesia FKIP Unsyiah.
Nurdin AR yang juga dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry ini menambahkan, beberapa tahun lalu beliau pernah menemui orang yang sudah sangat tua, dan beliau mengucap Ulee Kareung untuk menunjuk kawasan yang disebut Ulee Kareng sekarang ini.
Di banyak kesempatan, sejarawan Nurdin tidak bosan-bosan mengklarifikasi kesalahan penyebutan nama tempat ini, beliau juga sering bercerita sesuai nama aslinya Ulee Kareung, kawasan ini adalah daratan tinggi di Kota Banda Aceh yang seberat apa pun banjir di Banda Aceh, tetap aman dari banjir besar.
Ulee Kareng juga dikenal dengan Simpang Tujuhnya, jalur jalan sebanyak tujuh alur dan terdapat banyak pohon asam jawa peninggalan Belanda. Penataan kawasan ini di masa depan, diharapkan akan makin mempercantik kawasan destinasi kuliner kopi utama di Banda Aceh.
Andai nanti ada pembangunan tugu di tengah simpang tujuh, tidak ada salahnya kita menyarankan untuk ditulis kata asli Ulee Kareung, sekaligus mengenang asal mula Ulee Kareng.
Membandingkan makna tempat ini dari nama asli dan nama barunya, maka kita sebenarnya bisa kembali memperkenalkan penyebutan asli sehari-hari tanpa harus mengubah nama resminya. Ini sekaligus upaya meluruskan sejarah untuk generasi mendatang.
Ya, ke Ulee Kareung yok, kita ngopi. (Banghas)











