posaceh.com, Sabang – Komitmen membangun budaya literasi mengantarkan MTsN Sabang meraih penghargaan sebagai Sekolah Literasi Nasional dari Nyalanesia dalam Program Festival Literasi Aceh.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas konsistensi madrasah dalam menumbuhkan budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis melalui berbagai program literasi yang dijalankan secara berkelanjutan.
Kepala MTsN Sabang, Muhammad Nasir, S.Pd., mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut.
Menurutnya, penghargaan itu bukan sekadar simbol prestasi, melainkan bukti nyata dari kerja keras, dedikasi, dan sinergi seluruh ekosistem madrasah.
“Alhamdulillah, kami menyikapi penghargaan ini dengan rasa syukur yang mendalam, rasa bangga, sekaligus kerendahan hati. Penghargaan ini merupakan hasil kolaborasi guru, siswa, tenaga kependidikan, dan orang tua,” ujarnya, saat diwawancara RRI, Kamis (6/8/2026)
Muhammad Nasir menjelaskan, penghargaan tersebut diberikan oleh Nyalanesia, sebuah platform pengembang literasi sekolah di Indonesia yang berfokus pada pemerataan kualitas pendidikan dan penguatan budaya literasi.
Melalui program Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB) Nasional, Nyalanesia memfasilitasi sekolah menerbitkan buku ber-ISBN, memberikan pelatihan kepenulisan, serta mengapresiasi sekolah yang berkomitmen membangun budaya literasi..
Menurutnya, keberhasilan MTsN Sabang tidak terlepas dari berbagai program literasi yang telah menjadi bagian dari aktivitas madrasah.
Program tersebut meliputi pembiasaan pagi literasi setiap hari Selasa, penerbitan buku antologi karya siswa dan guru, workshop kepenulisan, pendampingan menulis, pemberdayaan pojok baca dan perpustakaan, hingga ekstrakurikuler karya tulis dan literasi.
“Keberhasilan tersebut juga didukung oleh tersedianya ruang, waktu, dan fasilitas khusus untuk pengembangan literasi. Selain itu, guru berperan sebagai teladan, fasilitator, sekaligus motivator, sementara siswa didorong untuk aktif membaca dan menuangkan gagasannya dalam bentuk karya tulis. Dukungan orang tua juga menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya literasi,” tambahnya.
Meski demikian, Muhammad Nasir mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, terutama dalam menjaga minat baca di tengah pesatnya perkembangan media digital dan penggunaan gawai.
Ke depan, MTsN Sabang akan terus memperkuat budaya literasi melalui digitalisasi perpustakaan, publikasi karya siswa dalam bentuk e-book, serta integrasi literasi dengan sains dan computational thinking.
“Kami berharap penghargaan yang diraih menjadi motivasi untuk menjadikan literasi sebagai identitas setiap lulusan MTsN Sabang, sehingga lahir generasi yang kritis, kreatif, berwawasan luas, dan santun dalam berkomunikasi,” pungkasnya.(Muh/*)











