Di barat Kota Banda Aceh, pada hamparan yang kini bernama Kecamatan Meuraxa, berdiri sebuah gampong tua yang menyimpan lapisan-lapisan sejarah Aceh: Gampong Blang Oi. Ia bukan sekadar nama pada peta, melainkan simpul ingatan—tentang sawah, ulama, perang, dan seni.
Menurut sebuah sumber, nama Blang Oi sendiri berasal dari dua kata sederhana dalam bahasa Aceh: blang, hamparan persawahan luas, dan oi, sejenis tanaman berbunga putih yang dahulu tumbuh subur di sela pematang. Pada masa ketika Banda Aceh belum menjadi kota padat, Blang Oi adalah lanskap agraris—tanah basah yang memberi makan, memberi makna, dan memberi ketenangan.
Namun Blang Oi tidak hanya hidup dari lumpur sawah. Di gampong inilah, menurut tradisi lisan dan sejumlah catatan lokal, Syeh Abdurrauf as-Singkili, yang lebih dikenal sebagai Teungku Syiah Kuala, pernah bermukim dan membuka pengajian. Ulama besar abad ke-17 itu menjadikan Blang Oi sebagai salah satu ruang sunyi untuk menyemai ilmu. Hingga sebelum tsunami 2004, masyarakat masih mengenal sebuah balai pengajian yang disebut Balai Teungku Syiah, penanda bahwa gampong ini pernah menjadi simpul intelektual dan spiritual Aceh.
Ketika sejarah bergerak ke arah yang lebih gaduh, Blang Oi ikut terseret ke pusarannya. Pada tahun 1873, saat pasukan Hindia Belanda berhasil mendarat di Ulee Lheue, kawasan Meuraxa—termasuk Blang Oi—menjadi medan pertempuran yang sengit. Catatan kolonial Belanda, termasuk laporan militer dan memoar perwira seperti dalam De Atjeh-Oorlog karya P.J. Veth serta arsip Koloniaal Verslag, menggambarkan perlawanan rakyat Aceh yang gigih di wilayah-wilayah sekitar pesisir barat Banda Aceh.
Blang Oi, dengan rawa, sawah, dan jalur sempitnya, menjadi ruang yang menyulitkan gerak pasukan kolonial. Di sini, perang bukan sekadar bentrokan senjata, tetapi pertarungan pengetahuan lokal melawan kekuatan modern. Dentum meriam dari arah laut bertemu dengan keberanian rakyat yang mempertahankan tanahnya sejengkal demi sejengkal.
Belanda mendaratkan pasukannya di Ulee Lheue (Pantai Ceureumen), Aceh, pada tanggal 5 April 1873.
Berikut adalah detail peristiwa pendaratan tersebut:
* Pemimpin: Pasukan Belanda dipimpin oleh Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler.
* Jumlah Pasukan: Belanda mendaratkan sekitar 3.200 pasukan dengan 168 perwira.
Dalam peta perlawanan Aceh tahun 1873, Blang Oi bukanlah wilayah pinggiran yang pasif. Letaknya di barat Kutaraja menjadikannya salah satu lapis pertahanan alami sebelum pasukan kolonial dapat menembus pusat kekuasaan Kesultanan Aceh.
Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler yang memimpin pasukan Belanda menggempur pantai Aceh berhari-hari sampai akhirnya sukses mendarat di pantai Ulee Lheue pada 5 April 1873, bersama sekitar 3.200 pasukan dengan 168 perwira.
Para pejuang dari Blang Oi, bersama gampong-gampong di Meuraxa, membangun garis hadang di persawahan, rawa, dan jalur air yang mereka kenal sejak kecil. Mereka memanfaatkan pematang sebagai parit, semak sebagai perlindungan, dan jalan sempit sebagai perangkap. Tujuannya satu: memperlambat, melemahkan, dan menguras tenaga pasukan Belanda agar Istana Darud Dunia dan Masjid Raya Baiturrahman tidak mudah dijangkau.
Bagi para pejuang Blang Oi, mempertahankan tanah bukan semata urusan strategi, melainkan soal marwah dan iman. Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya bangunan ibadah, dan Darud Dunia bukan sekadar istana—keduanya adalah simbol keberlanjutan Aceh. Karena itu, perlawanan dilakukan dengan kesadaran penuh bahwa setiap jengkal sawah yang dipertahankan adalah waktu yang dibeli bagi Kutaraja untuk bertahan. Sergapan mendadak, perlawanan kecil yang berulang, dan keberanian orang-orang biasa inilah yang menjadikan perjalanan Belanda menuju jantung Aceh tidak pernah mudah.
Dari gampong ini pula lahir satu warisan budaya Aceh yang kini mendunia: motif Pinto Aceh. Pada tahun 1935, seorang perajin seni bernama Mahmud Ibrahim menciptakan motif ini—terinspirasi dari bentuk pintu dan ukiran tradisional Aceh yang sarat simbol. Pinto Aceh bukan sekadar ornamen; ia adalah bahasa visual tentang keterbukaan, kehormatan, dan identitas. Bahwa motif ini berakar dari Blang Oi menegaskan satu hal: gampong kecil pun bisa memberi sumbangan besar bagi kebudayaan bangsa.
Tsunami 2004 memang meluluhlantakkan Meuraxa, menghapus banyak jejak fisik masa lalu. Namun Blang Oi tidak kehilangan jiwanya. Sejarahnya tetap hidup—dalam cerita orang tua, dalam motif ukiran, dalam nama-nama tempat, dan dalam kesadaran kolektif warganya.
Blang Oi adalah contoh bagaimana sebuah gampong di Banda Aceh tidak hanya berdiri di atas tanah, tetapi di atas ingatan. Sawah yang pernah menghijau, ulama yang pernah mengajar, perang yang pernah berkecamuk, dan seni yang terus bertahan—semuanya bertemu di sini, membentuk identitas yang tenang namun kokoh.
Jika Banda Aceh adalah kitab besar sejarah Aceh, maka Blang Oi adalah salah satu halaman tuanya: mungkin tak selalu dibaca, tetapi menyimpan kalimat-kalimat penting tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. (Hasnanda Putra)











