DaerahWisata

Banyak Gen Z yang Tak Paham Fungsi Jeungki

1766
×

Banyak Gen Z yang Tak Paham Fungsi Jeungki

Sebarkan artikel ini
Petugas anjungan Aceh Besar, Siti Maisarah menjelaskan fungsi Jeungki pada pengunjung yang datang ke anjungan Aceh Besar, di PKA-8 Banda Aceh, Sabtu (11/11/2023). FOTO/ALFARIZI

posaceh.com, Banda Aceh – Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke 8 bukan hanya sebagai pameran budaya semata, namun PKA menjadi satu media belajar bagi masyarakat khususnya para Gen Z yang lebih akrab dengan gadget.

Petugas anjungan Aceh Besar, Siti Maisarah mengatakan, rata-rata anak-anak muda yang datang ke anjungan Aceh Besar selalu menanyakan apa dan fungsi Jeungki.

“Anak-anak yang datang sering tanya fungsi Jeungki,” kata Maisarah, di Anjungan Aceh Besar PKA-8, Banda Aceh, Sabtu (11/11/2023).

Menurutnya, alat penumbuk itu secara tidak langsung sedikit menghilang tergerus perkembangan zaman. Jeungki adalah sebuah alat tradisional terbuat dari kayu pilihan yang digunakan oleh masyarakat Aceh, baik untuk menumbuk kopi, sagu, emping beras, tepung atau menumbuk bumbu masakan dan kelapa dalam proses pengolahan minyak kelapa dengan cara tradisional Aceh.

“Dahulu, menjelang hari-hari besar tiba, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, jeungki mulai beroperasional, iramanya terdengar riuh rendah dari rumah-rumah panggung di Aceh,” ungkap Maisarah

Ia mengatakan, seperti kebiasaan pada umumnya, persiapan membuat kue di lakukan pada hari-hari terakhir bulan ramadhan. Saat itulah jeungki mulai berderak, menghaluskan tepung dengan suaranya yang khas dan teratur.

Suara jeungki yang berdentam dihasilkan dari suara lesung yang bertubrukan dengan alu yang diayunkan oleh sekelompok wanita. Jam operasional jeungki tergantung dari banyaknya antrian, biasanya di mulai usai subuh, hingga sahur menjelang.

“Biasanya jeungki di letakkan di bawah rumoh Aceh yang berbentuk panggung, yang tujuannya untuk menghindari terik matahari, dan apabila hujan turun, aktivis menumbuk tidak terganggu,” jelasnya.

Maisarah mengungkapkan, sayangnya seiring perkembangan zaman dan alasan-alasan praktis lainnya, keberadaan jeungki mulai tersingkirkan dan sudah sulit ditemui. Jika pun ada, mungkin hanya ada di pelosok desa dan jumlahnya satu dua, dan sebagian sudah masuk museum bahkan hanya di jadikan hiasan oleh kolektor.

“Masa-masa kejayaan jeungki telah lama berlalu, sekarang jeungki telah dianggap kuno dan tidak praktis. Bisa jadi anak-anak jaman sekarang tak pernah tahu apa itu Jeungki, baik dari segi bentuk, maupun jasa-jasanya, dan bahwasanya jeungki pernah berjasa besar dalam memperkaya khazanah budaya masyarakat Aceh di masa lalu,” pungkas Maisarah. (AMZ/*)