Berita kriminalitas paling sering membuat judul dengan menyebut asal daerah pelaku. Saya tidak tahu pasti, apakah ini bagian dari 5 W 1 H?.
Orang kampung bersangkutan langsung mengerutkan dahi tatkala nama desanya ditaruh di belakang nama pelaku kejahatan, disebar kemana-mana. Bayangkan kalau nama kecamatan, maka dari camat sampai warga dari desa lain di kecamatan itu merasakan dampak, konon lagi ketika menyebut malah asal kabupaten, misal Pria asal daerah pulan perkosa pulen. Kita tegas: Mengutuk perbuatan pelaku, dan prihatin judul berita.
Kadang miris sekali, maksud viral sebuah berita justru mencoreng nama baik daerah, nangka dimakan seorang- getah kena sekampung.
Menarik membaca “Mengapa berita buruk seperti mendominasi isi media”, beritagar.id (22/9/2020). Ketika kita membaca surat kabar, atau melihat berita di televisi, kabar buruk seperti bencana, korupsi, perang, atau kejahatan, kerap dijadikan berita utama pada halaman muka. Sementara berita tentang suatu kemajuan jarang diberitakan.
Kecenderungan seperti itu terjadi di mayoritas belahan dunia, tak hanya di sebuah wilayah yang penuh konflik.
Bill Gates pernah mengatakan bahwa “headlines, in a way, are what mislead you because bad news is a headline, and gradual improvement is not”–berita utama, sedikit banyak, telah menyesatkan Anda karena berita buruk adalah berita utama, dan kemajuan yang bertahap tidak.
Bagaimana sebuah berita kerap membuat kita malu membaca, bukan hanya karena modus pelakunya tetapi seperti bahasan di atas yaitu mengaitkan pelaku dengan kampung membuat malu kolektif.
Saya mengutip sebuah artikel bagus di kumparan.com, “Sebuah Berita Buruk di Keadaan yang Tidak Begitu Baik” (22/4/2020).
Menurut Almas Rifki, Bad news dan good news adalah dua berita yang penting untuk disampaikan kepada pembaca. Istilah bad news is a good news adalah langkah untuk menaikan kepekaan pembaca terhadap berita aktual yang memang biasanya berupa keburukan yang bisa memberikan sebuah dampak kepada pembaca. Lagi, itu akan menjadi suatu berita yang baik bagi pembaca untuk mengambil jalan berpikir berikutnya.
Lebih lanjut ditulisnya, namun ada satu hal yang patut diperhatikan semua orang yang bergerak di bidang jurnalistik yaitu keseimbangan berita. Seimbang yang juga bisa diartikan sebagai adil adalah hak pembaca yang harus terpenuhi. Jika sebuah warta mewartakan bad news karena tingkat urgensi yang tinggi agar pembaca lebih waspada dan peka terhadap perubahan yang mungkin akan terjadi dalam waktu dekat, baiknya warta tersebut juga mewartakan good news di dekat kolom berita yang urgensinya tinggi tadi. Good news bisa berupa pencapaian-pencapaian anak bangsa di kancah mancanegara atau hal-hal lain yang berupa kabar baik yang memiliki nilai berita yang baik pula.
Ya, demikianlah berita berperan juga “meningkatkan” imun pembaca, apalagi dalam musim corona ini. Tentu tidak masalah sebuah berita buruk diwartakan agar perilaku kejahatan tidak diulangi dan warga lainnya bisa lebih waspada. Namun ketika judul berpengaruh pada kepentingan yang lebih luas maka ada baiknya judul tidak boleh menghakimi asal daerah.
Dunia berita memang tidak pernah berhenti mengabari, dan kita mendapatkan banyak informasi dari kerja-kerja jurnalistik teman-teman media. Hidup di dunia di mana batasan negara hampir tidak terlihat lagi, sungguh sebuah berita dari penjuru dunia selalu dinanti.
Berita yang dibaca tidak selalu harus membuat kita tertawa, kadang juga menangis terbawa dalam kisah, dan ketika sebuar kabar mengungkap tabir kejahatan kita akan bersepakat mengutuk para pelaku atas keburukannya.
Bagaimanapun kesalahan seorang, tidak bijak mencoreng kesalehan sekampung. Wallahualam.*(Banghas)*











