Opini

Antara Membaca dan Berpikir: Ketika Ilmu Kehilangan Nalar Kritis

15
×

Antara Membaca dan Berpikir: Ketika Ilmu Kehilangan Nalar Kritis

Sebarkan artikel ini
M. Nur (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh M. Nur*

Di era banjir informasi seperti hari ini, membaca seolah menjadi simbol kecerdasan. Semakin banyak yang dibaca, semakin tinggi pula rasa percaya diri seseorang terhadap apa yang ia ketahui. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah benar kita sudah memahami apa yang kita baca, atau sekadar mengulang apa yang ditulis orang lain?

Fenomena yang berkembang justru menunjukkan hal sebaliknya. Banyak orang hari ini mampu membaca, tetapi tidak semua mampu menganalisis. Kata-kata dikonsumsi tanpa proses berpikir yang mendalam. Akibatnya, lahirlah generasi yang pandai mengutip, tetapi lemah dalam menilai. Mereka cepat setuju, tetapi lambat mempertanyakan.

Lebih mengkhawatirkan lagi, kebenaran kini sering ditentukan oleh siapa yang berbicara, bukan oleh apa yang dibicarakan. Ketika seorang “guru” atau tokoh menyampaikan sesuatu, maka itu dianggap benar tanpa perlu diuji. Nalar kritis perlahan mati, digantikan oleh loyalitas buta. Dalam situasi seperti ini, ilmu tidak lagi menjadi alat pencari kebenaran, tetapi berubah menjadi alat pembenaran.

Dampaknya tidak berhenti di situ. Ketika kemampuan berpikir kritis melemah, ruang perbedaan pun semakin sempit. Perbedaan pendapat tidak lagi dipahami sebagai keniscayaan dalam kehidupan sosial, tetapi dianggap sebagai ancaman. Dari sinilah benih-benih kebencian tumbuh. Orang tidak lagi belajar untuk memahami, melainkan belajar untuk menyerang.

Padahal, jika kita melihat masyarakat yang lebih maju, mereka justru tumbuh dari tradisi yang berbeda. Mereka tidak takut pada perbedaan, tetapi menjadikannya sebagai sumber kekuatan. Ide diuji, bukan dimusuhi. Argumen dilawan dengan argumen, bukan dengan emosi. Di sana, ilmu benar-benar berfungsi sebagai alat untuk mencari kebenaran, bukan sekadar mempertahankan pendapat.

Kita juga perlu menyadari satu hal mendasar: lingkungan belajar sangat menentukan cara berpikir seseorang. Jika seseorang belajar pada figur yang anti-kritik, maka ia pun akan tumbuh menjadi pribadi yang sama. Ia tidak terbiasa diuji, tidak siap berbeda, dan pada akhirnya hanya menjadi pengikut. Seperti nelayan yang hanya belajar dari nelayan lain tanpa inovasi, ia akan terus mengulang pola yang sama tanpa pernah berkembang.

Inilah ironi kita hari ini. Di tengah kemudahan akses ilmu, justru nalar kritis semakin terpinggirkan. Kita tidak kekurangan orang yang membaca, tetapi kita kekurangan orang yang berpikir.

Sudah saatnya kita kembali pada esensi ilmu itu sendiri. Membaca harus diiringi dengan keberanian untuk bertanya, meragukan, dan menguji. Karena pada akhirnya, kemajuan tidak ditentukan oleh seberapa banyak kita membaca, tetapi oleh seberapa dalam kita memahami dan seberapa jujur kita mencari kebenaran.

* M. Nur, S.I.Kom., M.I.Kom., Pengamat Ilmu Sosial dan Politik.