posaceh.com, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah akan tetap menjalankan strategi diversifikasi sumber impor minyak mentah (crude oil) sekalipun jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali normal.
Menurut dia, pemerintah telah menjalin kontrak jangka panjang dengan sejumlah negara pemasok minyak di luar kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional dan mengurangi risiko gangguan pasokan.
“Kalau persoalan impor crude, sekalipun Selat Hormuznya sudah dibuka tetap kita sudah melakukan kontrak jangka panjang dengan negara negara lain,” ungkap Bahlil di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Meski begitu, pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk kembali meningkatkan impor minyak dari kawasan Timur Tengah apabila harga yang ditawarkan lebih kompetitif.
“Tapi kalau harganya kompetitif, maka tidak menutup kemungkinan juga untuk kita membuka akses pasar di Timur Tengah,” ujar Bahlil.
Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan tengah mempersiapkan pertemuan tingkat tinggi di Swiss pada pekan ini.
Pertemuan tersebut disebut menjadi bagian dari upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik yang berlangsung, membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, serta mencari titik temu terkait program nuklir Teheran.
Mengutip laporan media Prancis BFMTV yang mengacu pada sejumlah sumber yang dekat dengan proses negosiasi, pertemuan itu kemungkinan digelar pada Kamis atau Jumat mendatang setelah berakhirnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7.
Pembicaraan diperkirakan berlangsung di wilayah berbahasa Jerman di Swiss, meski hingga kini Washington maupun Teheran belum memberikan konfirmasi resmi.
Rencana pertemuan tersebut muncul di tengah negosiasi yang masih berlangsung antara kedua negara.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei sebelumnya mengatakan bahwa nota kesepahaman antara Iran dan AS belum akan ditandatangani dalam waktu dekat, namun berpotensi rampung dalam beberapa hari ke depan.
“Dokumen tersebut tidak akan ditandatangani pada hari Minggu, tetapi dapat diselesaikan dalam beberapa hari mendatang,” kata Baghaei, seraya menegaskan bahwa jalur diplomatik antara kedua pihak masih tetap terbuka.
Meski demikian, hasil konkret dari kemungkinan pertemuan di Swiss itu masih belum pasti.
Belum diketahui apakah kedua negara akan mencapai kesepakatan resmi atau sekadar melakukan kontak langsung untuk melanjutkan proses negosiasi yang sudah berjalan dalam beberapa waktu terakhir.
Harga minyak dunia ambruk pada awal perdagangan pekan ini setelah Amerika Serikat dan Iran dikabarkan mencapai kesepakatan damai yang membuka jalan bagi kembali normalnya lalu lintas energi di Selat Hormuz.
Sentimen tersebut langsung menghapus sebagian premi risiko geopolitik yang selama beberapa pekan terakhir menopang harga minyak di level tinggi.
Berdasarkan data Refinitiv hingga Senin (15/6/2026) pukul 08.00 WIB, harga minyak Brent berada di US$83,92 per barel, merosot 3,91% dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu di US$87,33 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dalam, yakni 4,58%, ke posisi US$80,99 per barel dari sebelumnya US$84,88 per barel.(Muh/*)
