InternasionalNasional

Potensi Awan Cumulonimbus 15-21 Juni 2026, BMKG Petakan Tiga Wilayah dengan Cakupan Tertinggi

19
Ilustrasi awan cumulonimbus, petir. FOTO/Envato/Mint_Images

posaceh.com, Jakarta— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui informasi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah Indonesia untuk periode 15 hingga 21 Juni 2026.

Informasi tersebut merupakan produk prakiraan cuaca penerbangan yang dihasilkan berdasarkan model cuaca numerik untuk memetakan potensi sebaran pertumbuhan awan Cumulonimbus selama tujuh hari ke depan.

Awan Cumulonimbus merupakan jenis awan konvektif yang dapat berkaitan dengan fenomena cuaca signifikan seperti hujan lebat, petir, angin kencang, hingga penurunan jarak pandang.

Karena itu, keberadaan awan ini menjadi salah satu parameter yang diperhatikan dalam pemantauan kondisi atmosfer.

Dalam peta prakiraan BMKG, potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan persentase cakupan spasial maksimum, yakni Isolated CB (ISOL), Occasional CB (OCNL), dan Frequent CB (FRQ).
Kategori ISOL menunjukkan cakupan area kurang dari 50 persen, OCNL menunjukkan cakupan antara 50 hingga 75 persen, sedangkan FRQ menunjukkan cakupan area lebih dari 75 persen.

Tiga Wilayah Masuk Kategori Frequent

Berdasarkan hasil pemodelan cuaca terbaru, terdapat tiga wilayah yang masuk kategori Frequent (FRQ) dengan persentase cakupan spasial awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen untuk periode 15-21 Juni 2026.

Ketiga wilayah tersebut seluruhnya berada di kawasan perairan, yaitu:

* Laut Jawa bagian timur;
* Samudra Hindia barat Lampung;
* Selat Malaka bagian tengah.

Kategori Frequent menunjukkan potensi cakupan awan Cumulonimbus yang lebih luas dibandingkan kategori lainnya.

Namun, persentase tersebut menggambarkan luas area potensi pertumbuhan awan berdasarkan pemodelan cuaca dan bukan peluang hujan pada satu titik lokasi tertentu.
Sebaran Potensi Cumulonimbus Kategori Occasionan

Selain wilayah kategori FRQ, BMKG juga memprakirakan sejumlah wilayah masuk kategori Occasional (OCNL) dengan cakupan spasial maksimum antara 50 hingga 75 persen.

Wilayah tersebut tersebar di berbagai kawasan Indonesia.

Wilayah Daratan/Provinsi:

* Aceh, Banten, Bengkulu, DKI Jakarta, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.

Wilayah Perairan Laut:

* Laut Banda, Laut Jawa bagian barat, Laut Jawa bagian tengah, Laut Jawa bagian timur, Laut Maluku, Laut Natuna Utara, Laut Seram, serta Laut Sulawesi bagian barat, tengah, dan timur.

Wilayah Samudra:

* Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Bengkulu, Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai, Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, Samudra Hindia barat Lampung, Samudra Hindia selatan Banten, Samudra Pasifik utara Maluku, Samudra Pasifik utara Papua, serta Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya.

Pada pembaruan periode 15-21 Juni 2026 ini, wilayah kategori Frequent (FRQ) didominasi kawasan perairan.

Tiga wilayah dengan cakupan potensi awan Cumulonimbus tertinggi tidak mencakup wilayah daratan.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya dinamika atmosfer yang terus berubah sesuai perkembangan sistem cuaca dan hasil pemodelan terbaru BMKG.

Masyarakat dapat memantau perkembangan cuaca harian serta informasi peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, termasuk aplikasi InfoBMKG, karena kondisi atmosfer dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu. (Muh/*)

Exit mobile version