Nasional

Amran Kucurkan Rp 40 M untuk Pembibitan Kopi Aceh Usai Bencana 

20
×

Amran Kucurkan Rp 40 M untuk Pembibitan Kopi Aceh Usai Bencana 

Sebarkan artikel ini
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumpulkan ratusan mahasiswa untuk berdiskusi terkait tata kelola pertanian dan pangan di kediamannya, Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026).FOTO/KOMPAS.com

posaceh.com, Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menganggarakan dana hingga Rp 40 miliar untuk pembibitan kembali kopi Aceh yang terdampak bencana.

Informasi tersebut Amran sampaikan saat dimintai tanggapan terkait harga biji kopi arabika di pasar domestik yang naik 30 hingga 40 persen imbas bencana yang menerjang kawasan Gayo, Aceh, pada akhir November 2025 lalu.

“Anggarannya kami siapkan tadi kurang lebih Rp 30 miliar sampai Rp 40 miliar,” kata Amran saat ditemui di kediamannya, Kalibata, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Amran mengaku telah bertemu dengan Rektor Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Mirza Tabrani, pagi ini.

Bersama pimpinan perguruan tinggi terkemuka di Aceh itu, Amrah membahas kerja sama pembangunan pembibitan ulang untuk kebutuhan perkebunan kopi. “Itu kita kerja sama bangun pembibitan bersama-sama bangun kembali,” tutur Amran.

Ditemui di Kantor Barantin, Bekasi Jawa Barat, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan Kementerian Pertanian telah menjalankan program penanaman kembali (replanting) sejak dua tahun lalu. Salah satu sasaran program tersebut adalah perkebunan kopi di Aceh yang dinilai sebagai salah satu komoditas unggulan.

“Kalau replanting kan kita jalan sudah dari tahun lalu, ya. Kopi, kemudian kakao kan kita sudah kan, peremajaan itu semua kan?” ujar Sudaryono, Rabu (29/4/2026).

Dairi Sudaryono menyebut, pemerintah menganggarkan penanaman ulang tanaman kopi khusus untuk daerah Gayo. Program tersebut menggunakan anggaran peremajaan 9 komoditas perkebunan strategis senilai Rp 9,95 triliun yang digelontorkan dalam waktu tiga tahun.

Anggaran itu digelontorkan karena banyak tanaman komoditas perkebunan diketahui telah berumur tua sehingga produktivitasnya menurun.

“Untuk bagaimana menempatkan semua sektor perkebunan kita yang tadinya juara itu kembali juara lagi. Kopi, kakao, kelapa, kemudian pala, lada, mete, kemudian gambir, termasuk tebu di situ, ya,” kata Sudaryono. Sebelumnya, Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) menyebut harga biji kopi arabika di pasar lokal dilaporkan naik 30 hingga 40 persen. AEKI mencatat, harga biji arabika naik dari 6,5 dollar AS per kilogram menjadi 9,3 hingga 9,5 dollar AS per kilogram.

“Sempat mencapai level tertingginya pada bulan Januari 2026 di level 10 dollar AS (per kilogram) lebih,” kata Ketua Kompartemen Industri dan Specialty Coffee AEKI Moelyono Soesilo saat dihubungi Kompas.com, Jumat (24/4/2026).(Muh/*)