Setelah peristiwa Cumbok, pembantaian berdarah terbesar di Aceh dimulai pasca 1 Oktober 1965. Kejadian pembunuh besar-besaran ini terjadi di seluruh Aceh. Dari banyak tulisan, disebutkan lokasi pembantaian itu antara lain berada sekitar daerah Lhoknga dan Ie Suum Aceh Besar. Sementara di Pidie lokasi pembantaian berada sekitar Glee Gapui dan daerah Keumala Dalam. Begitu pun di banyak lokasi pembantaian lainnya di Aceh, nyaris tak lagi diketahui dan telah lama terkubur dalam lintasan waktu.
Asal Mula Pembantaian
Jess Malvin penulis buku The Army and The Indonesian Genocide – Mechanics of Mass Murder menyebut serangan dan pembantaian PKI di Indonesia ternyata dimulai dari Aceh. Saat itu Pangdam dijabat Brigjen Ishak Djuarsa dianggap sangat anti komunis, dan yang bersangkutan disebut-sebut sebagai aktor paling bertanggungjawab ketika itu.
Ribuan orang terbunuh tanpa status jelas apakah yang bersangkutan anggota PKI atau bukan. Karena dari fakta yang ada, jumlah anggota PKI di Aceh tidak banyak dan berbeda dengan kondisi di Pulau Jawa. Namun kenyataannya pembunuhan balasan terhadap apa yang disebut G30S PKI masif terjadi secara massal di seluruh Aceh.
Dalam buku yang mengungkap pembunuhan massal tersebut, peneliti dari Sydney Southeast Asia Centre ini menemukan banyak dokumen internal militer saat berada di Aceh. “Ketika saya mulai mendengar cerita tentang 1965-66 saya dikejutkan oleh betapa miripnya pola kekerasan di antara kedua peristiwa itu,” ujarnya, sebagaimana dikutip Tempo (25/9/2018).
Tahun 2008, Melvin memulai penelitiannya dengan mewawancarai para penyintas dan pelaku kekerasan peristiwa 1965-66 tentang pengalaman mereka. Ia juga mencoba datang ke bagian Arsip Negara di Banda Aceh. Melvin sempat pesimistis bisa mendapatkan dokumen yang ia butuhkan, namun ternyata ia justru mendapat banyak sekali dokumen berkaitan dengan peristiwa 1965 di Aceh.
“Saya hampir tidak dapat mempercayai nasib baik ketika saya diberi kotak penuh dokumen-dokumen militer internal yang mencatat secara detail bagaimana militer telah memerintahkan dan mengatur pembunuhan,” ujarnya.
Serangan Mematikan di Aceh
Jess Melvin memberi argumentasi mengapa serangan terhadap PKI dimulai di Aceh. Alasan pertama, kata dia, karena militer memiliki kekuatan yang sangat kuat di Sumatera. Alasan kedua karena kepemimpinan militer di Aceh sangat terkonsolidasi dan tidak simpatik terhadap PKI. Komandan militer provinsi, Ishak Djuarsa pun sangat antikomunis. Dia diangkat setelah kampanye PKI dan PNI yang disengaja telah memaksakan pengunduran diri mantan Gubernur Aceh, Ali Hasjmy, dan mantan Panglima Militer, M. Jasin, pada tahun 1962. Kedua orang itu dituduh oleh PKI dan PNI karena terlalu akomodatif terhadap mantan anggota Darul Islam di provinsi ini.
Pemecatan Jasin menciptakan konflik permusuhan antara pimpinan militer dan PKI di Aceh. Mereka menggunakan kekuatan darurat militer untuk memberangus PKI. Dalam banyak hal, pergerakan militer di Aceh selalu menarik dilihat.
Tokoh PKI Aceh
Tidak banyak buku atau cerita yang mengungkap tokoh-tokoh PKI di Aceh. Barangkali yang paling tenar adalah Thaib Adamy. Tokoh PKI ini memiliki jejak rekam menolak DI/TII Aceh.
Thaib Adamy pernah menjadi satu-satunya wakil PKI di DPRD Aceh di tahun 1957 dan terpilih kembali dalam Pemilu selanjutnya.
Ketika duduk sebagai anggota parlemen, Thaib Adamy bersikeras mendesak pemerintah agar tidak memberikan ampunan bagi para pejabat daerah Aceh yang pernah terlibat DI/TII. Bahkan pada 1962, dia tidak segan-segan mengkritik rencana penerapan Syariat Islam di masa Gubernur Ali Hasjimy.
Namun menariknya ketika yang bersangkutan disidang dihadiri ribuan warga. Kejadian ini terjadi di ruang persidangan Pengadilan di Kantor Kodim 0102, Sigli. Mereka berasal dari berbagai penjuru Aceh. Mereka terkesima menyaksikan pembacaan pledoi Thaib Adamy di hadapan Hakim.
Naskah pidato pembelaan itu kemudian menjadi sebuah buku Atjeh Mendakwa yang diterbitkan Komite PKI Aceh.
Thaib diadili setelah Petinggi Comite PKI Aceh ini menyampaikan sebuah pidato dalam Rapat Umum PKI di Sigli tanggal 3 Maret 1963. Pidato dianggap menghasut rakyat dan akhirnya ditangkap pada 29 Maret 1963.
Penahanan tokoh PKI Aceh ini menjadi isu nasional dan dibahas khusus pada Kongres Nasional Ke-VII PKI Pusat di Jakarta pada 26 Desember 1963. Thaib Adamy selesai menjalani tahanan beberapa hari sebelum meletusnya G30SPKI di Jakarta.
Dibandingkan gejolak di Pulau Jawa atau daerah lainnya, pelarangan dan gerakan anti PKI muncul lebih awal di Aceh. Hal ini diperkuat oleh Muzakarah Ulama Aceh pada 17-18 Desember 1965. Teungku Abdullah Ujong Rimba setelah acara kemudian mengumumkan fatwa haram ideologi komunis dan menegaskan semua anggota PKI adalah “kafir harbi” atau yang memusuhi Islam.
Uniknya, keputusan Ulama Aceh ini lebih duluan dari dikeluarkannya Tap MPRS No. 25 Tahun 1966 tentang pelarangan PKI di Indonesia.
Seterusnya kerusuhan berkecamuk. Dimulai pembakaran Kantor Komite Pusat PKI Aceh di Neusu Banda Aceh dan perusakan beberapa rumah kediaman yang dituduh PKI.
Thaib Adamy menjadi satu dari ribuan orang yang raib di Aceh selama serangan terhadap PKI setelah upaya pemberontakan yang gagal. Ada adagium lokal berkembang saat itu, “meu awai-awai, meunye lheuh keu awak nyan ka dipoh tanyo leubeh awai”, artinya ini lebih pada persoalan siapa duluan memulai, bisa jadi andai PKI sukses memberontak maka giliran rakyat yang kontra akan dihabisi.
Pembunuhan besar-besaran pasca pemberontakan PKI telah melengkapi rangkaian peristiwa berdarah di Aceh. Duka, air mata dan aroma kematian seakan belum beranjak dan terus menjadi kisah-kisah lintas waktu di negeri ujung barat pintu masuk Indonesia ini. (Hasnanda Putra).
