posaceh.com, GAZA – Pasukan penjajahan Israel (IDF) kembali mengumumkan kematian tujuh prajuritnya di Jalur Gaza, kemarin. Terkait angka kematian pasukan Israel tersebut, Abu Ubaida Juru bicara resmi Brigade al-Qassam menyatakan bahwa para pejuang Palestina sedang “berburu bebek” di Gaza.
Setelah sekitar dua setengah bulan serangan ke Gaza, Israel masih terpuruk secara politik dan menderita kerugian militer besar di Jalur Gaza antara selatan dan utara. Pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap lebih dari 19 ribu warga Gaza sejak 7 Oktober lalu terbukti belum bisa menghentikan perlawanan pejuang Palestina.
Dalam analisisnya, Aljazirah Arabia menilai ungkapan “berburu bebek”, yang disampikan Abu Ubaida, adalah ringkasan dari strategi umum perlawanan, yang didasarkan pada ketabahan di lapangan, melelahkan tentara Israel, menimbulkan kerugian besar pada peralatan tempur dan personel. Para pejuang juga juga menyadari bahwa Israel tidak siap menghadapi perang yang berkepanjangan, kerugian besar, dan mobilisasi umum yang terus-menerus, juga tidak siap menghadapi perang jalanan dan konfrontasi langsung.
Dengan jumlah itu, total pasukan Israel yang tewas di Gaza sejak serangan darat pada 27 Oktober lalu telah mencapai angka 129 personel. Jumlah itu termasuk 119 perwira dari berbagai pangkat dan 65 prajurit yang berasal dari divisi elite.
Sementara juru bicara Brigade al-Qassam menegaskan, bahwa jumlah kematian jauh lebih tinggi daripada apa yang diumumkan oleh tentara pendudukan Israel. VIdeo-video yang secara rutin dilansir Hamas serta data yang diterbitkan oleh media Israel menunjukkan hal ini. Surat kabar Israel Haaretz, misalnya, melaporkan bahwa jumlah korban luka di rumah sakit Israel pada 12 Desember saja sudah mencapai 4.591 orang.
Pakar militer menyatakan kepada Aljazirah bahwa kerugian sebenarnya yang dialami tentara Israel bisa mencapai sepuluh kali lipat dari jumlah yang diumumkan secara resmi. Hal ini berdasarkan pengamatan lapangan terhadap tahapan perang dan kejadian sehari-hari.
Operasi lapangan menunjukkan bahwa jalan-jalan di Gaza, bangunan-bangunan dan puing-puingnya telah berubah menjadi labirin yang rumit dan perangkap mematikan bagi tentara Israel. Sementara kelompok perlawanan menerapkan taktik tempur yang mengancam tentara pendudukan, dan menggunakan persediaan senjata mereka, pengetahuannya di lapangan dan jaringan terowongan yang rumit yang menguras tenaga Israel setiap hari.
Taktik gerilya itu menimbulkan kebingungan di kalangan tentara penjajah. Terbukti dengan sedikitnya 20 prajurit IDF yang tewas ditembak teman sendiri, serta tiga tawanan Israel yang ditembak mati meski telah mengangkat tinggi bendera putih dan meminta pertolongan dalam bahasa Ibrani.
Di sisi lain, gerakan perlawanan dan Hamas masih mempertahankan struktur militer dan organisasi mereka secara lengkap. Mereka masih menunjukkan kemampuan untuk mengendalikan jalannya pertempuran, memberikan kejutan, dan melakukan pertempuran dengan kecepatan dan diversifikasi operasi tempur.
Pada akhirnya, kekecewaan terhadap “respon strategis” IDF terus bermunculan. Tentara Israel tidak mencapai tujuan militer atau politik yang menentukan. Serangan Israel ke Gaza tidak menghasilkan apa-apa selain kehancuran brutal, kejahatan perang, dan pembunuhan ribuan warga sipil, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dan perempuan. Hal-hal itu memunculkan tekanan kepada Israel soal gencatan senjata.
The Wall Street Journal melansir bahwa kekalahan Israel baru-baru ini di medan perang di Gaza menunjukkan bahwa tujuan komprehensif tentara Israel masih sulit dicapai. Surat kabar tersebut melihat bahwa peningkatan jumlah kematian warga Israel di wilayah perkotaan dan daratan di Jalur Gaza, bahkan di bagian utara Jalur Gaza, menunjukkan adanya pergeseran dalam taktik perang militer Israel. “Di kalangan militer dan keamanan, beberapa pihak mulai mempertanyakan strategi ini,” tulis WSJ mengutip mantan pejabat Mossad Shalom Ben Hanan.
