News

Disdikbud Banda Aceh Dorong Sekolah Lakukan Lawatan ke Situs Cagar Budaya

1675
×

Disdikbud Banda Aceh Dorong Sekolah Lakukan Lawatan ke Situs Cagar Budaya

Sebarkan artikel ini
Kepala Bidang Kebudayaan, Disdikbud Banda Aceh, Drs Husni Alamsyah (kiri) sedang berkomunikasi dengan pamong cagar budaya dan staf Disdibud untuk mensinkronkan jumlah situs yang ditetapkan sebagai cagar budaya. FOTO/DOK DISDIKBUD BANDA ACEH

posaceh.com, Banda Aceh – Penguatan budaya terhadap generasi muda melalui sekolah, saat terus berjalan dengan adanya aktifitas sanggar seni budaya di hampir setiap sekolah di Banda Aceh.

“Hampir rata sekolah di Banda Aceh sudah banyak sanggar seni budaya. Dengan adanya sanggar tersebut berarti telah ikut melindungi seni budaya tradisional Aceh, khusus kegiatan seni yang selama ini sudah berkembang menjadi aktiftas dan kreatifitas mereka,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Sulaiman Bakri, S.Pd. M.Pd melalui Kepala Bidang Kebudayaan Drs. Husni Alamsyah.

Untuk meningkatkan upaya penguatan budaya kepada generasi muda melalui sekolah-sekolah, Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Disdikbud akan mendorong sekolah-sekolah untuk kembali melakukan kegiatan lawatan sejarah cagar budaya bagi siswa-siswi yang pernah dibuat.

“Sekarang kita coba mendorong kembali dari masing-masing sekolah untuk dapat melakukan kegiatan lawatan sejarah ke situs-situs cagar budaya yang ada di wilayah Kota Banda Aceh,” ujar Husni.

“Kita harapkan kepada sekolah menyediakan jadwal khusus bagi siswa/siswi untuk lawatan ke situs-situs cagar budaya,” katanya.

Husni menyebutkan, pihaknya akan mendorong sekolah untuk melaksanakan kegiatan lawatan sejarah ke situs -situs cagar budaya. Tujuannya biar bisa membangkitkan motivasi siswa-siswi untuk mengenal sejarah dan cagar budaya.

Pelaksanaan lawatan siswa/i bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai sejarah cagar budaya yang ada di Kota Banda Aceh dengan melakukan disdkusi dan tanya jawab langsung dengan pemandu dari pegiat sejarah. Serta memberikan pemahaman dan informasi dari suatu peristiwa yang terjadi di masa lalu.

“Untuk penguatan cagar budaya bagi masyarakat di sekolah, kami juga menyiapkan sosialisasi dan menyampaiklahan ke pihak sekolah, terutama kepala sekolah, agar dapat sama- sama kita melindungi, menjaga dan melestarikan warisan budaya di Kota Banda Aceh,” ujarnya.

Ia mengajak kepada generasi muda dapat menjaga dan melestarikan warisan indatu, terutama terhadap situs-situs peninggalan sejarah. Tidak melupakan sejarah yang berjaya masa itu.

Sebutnya, Ini akan menjadi pembelajaran untuk melihat bagaimana perkembangan ke depan, sebab Aceh yang telah mempunyai peradaban budaya dari dulu.

Untuk penguatan budaya terhadap generasi melalui sosialisasi di sekolah, Husni mengatakan, pada 2018 kita sudah ada program untuk kunjungan ke situs – situs budaya yaitu ke makam tua bagi pelajar, namanya lawatan sejarah siswa-siswi sekolah.

“Dulu pernah ada lawatan sejarah siswa-siswi sekolah, yang bertujuan agar siswa/i dibawa masyarakat atau sekolah untuk dapat mengunjungi atau kita ajak siswa mengunjungi situs-situs sejarah yang ada di Wilayah Kota Banda Aceh,” katanya.

Tetapi, sebutnya, akhir-akhir ini lawatan sejarah itu tidak ada ketersediaan agaran lagi dalam kegiatan budaya.

“Sekarang kita dorong dari masing-masing sekolah untuk dapat melakukan, mungkin lawatan sejarah ke masing – masing situs yang ada di wilayah Kota Banda Aceh,” sebutnya.

“Karena itu punya arti penting bagi sejarah kita selaku orang Aceh, terutama bagi generasi muda agar lebih mengenal sejarah dan cagar budaya daerahnya,” ujarnya.

Lebih mengenal tokoh-tokoh yang pernah berkuasa pada kerajaan atau kesultanan Aceh, sebab Banda Aceh sebagai kota raja, kota pusaka. “Sudah tentu banyak tokoh kita yang sudah banyak berjasa pada kerajaan atau ke masyarakat Aceh masa itu.

“Kita harapkan kepada sekolah menyediakan jadwal khusus bagi siswa/siswi untuk lawatan ke situs-situs cagar budaya. kita dorong untuk melaksanakan hal tersebut, biar bisa membangkitkan motivasi siswa-siswi untuk mengenal sejarah cagar budaya.

Lima Jenis Cagar Budaya

Sementara itu, lima jenis cagar budaya yaitu benda budaya, bangunan, struktur, situs dan kawasan cagar budaya ada di Banda Aceh. Semua terdata dan tetap dalam perawatan, pemeliharaan serta terjaga kebersihannya.

Husni menyebutkan, sesuai hasil pendataan terdapat 72 situs cagar budaya dari semua jenis tersebut di Banda Aceh.

Ia merincikan, dari 72 situs cagar budaya itu masing-masing terdiri dari 1 unit benda cagar budaya, bangunan 15 unit, situs 42, struktur cagar budaya 13 dan 2 kawasan cagar budaya

Dijelaskannya, jenis benda cagar budaya yang dimiliki Banda Aceh yaitu Lonceng Cakra Donya yang berada di Museum Aceh Rumah di kawasan Gampong Peuniti.

Untuk jenis bangunan cagar budaya ada 15 bangunan yaitu Pendopo Gubernur, Gedung Bapperis, Gedung Sentral Telepon Belanda, Geudung Bank Indonesia, Masjid Raya Baiturrahman, Geudung Landraad Koeta Radja,Tower Air Belanda, Rumah Opsir Militer Belanda, Meuseum Rumoh Aceh, Rumah Teuku Nyak Arief, Bangunan Instalasi Air, Masdjid Baiturrahim, Mesjid Tuha Ulee Kareng, Masjid Tuha Lueng Bata dan SMA Negeri 1.

Sedangkan situs cagar budaya berupa makam-makam raja dan ulama, kawasan cagar budaya yaitu Gampong Pande dan rumah toko (Ruko) lama di Gampong Peunayong. Dari semua jenis cagar budaya itu sebagian ada milik pribadi dan lembaga. (Sudirman Mansyur).