posaceh.com, Kota Jantho – Dalam mewujudkan penurunan angka stunting, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBPP dan PA) Kabupaten Aceh Besar gelar pertemuan sosial dengan seluruh Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) dari seluruh kecamatan di Aceh Besar, di Aula Kantor Camat Indrapuri, Rabu (22/2/2023).
Penurunan angka stunting jadi program yang terus di gadang sampai saat ini, Kepala Perwakilan (Kaper) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Aceh Drs Sahidal Kastri MPd yang hadir dalam pertemuan menyebutkan, upaya yang dilakukan mulai mendapatkan hasil yang positif. Pada Tahun 2021, Provinsi Aceh berada diperingkat ketiga tertinggi kasus stunting di Indonesia, dan pada Tahun 2022 menjadi peringkat kelima.
“Kita sudah turun dua peringkat, jangan berpuas dengan hanya perolehan itu. Kita harus bisa menekankan angka stunting semaksimal mungkin. Khususnya untuk kawasan Aceh Besar, penurunan angka stunting dari sebelumnya Tahun 2021, 32,4 persen menjadi 27 persen,” sebut Kaper BKKBN Aceh.
Ia mengatakan dua intervensi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2021, dalam hal itu terkandung 20 indikator. Pada bagian A sembilan indikator spesifik, dan B dengan jumlah 11 indikator sensitif. Salah satu intervensi sensitif yang sering terjadi, pemberian makanan secara langsung terhadap ibu yang kekurangan energi. “Tidak hanya untuk ibu, namun juga diberikan terhadap anak-anak yang kekurang gizi,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala DP2KBPP dan PA Aceh Besar, Drs Fadhlan menyampaikan bahwa pertemuan tersebut dilakukan untuk melakukan sosialisasi dan evaluasi terhadap upaya penurunan kasus stunting yang terjadi dalam tingkat kecamatan.
“Pertemuan ini tiap bulannya kita lakukan, dengan ini bisa dikemukakan setiap tantangan dan hambatan yang terjadi dilapangan,” tuturnya.
Kemudian, lanjut Fadhlan, faktor utama anak mengalami stunting karena kurangnya gizi yang diperoleh, baik dalam masa kandungan hingga setelah lahiran. Banyak juga yang beranggapan bahwa makanan yang penuh gizi merupakan makanan yang mahal, pemahaman tersebut kurang tepat.
“Seharusnya orang tua lebih memperhatikan kandungan gizi yang terdapat dalam makanan anak,” katanya.
Drs Fadhlan mengungkapkan, pada tahun 2023 target penurunan angka stunting sebesar tujuh persen. Berbagai upaya akan dilakukan untuk mencapai angka tersebut.
“Angka target tersebut memang besar, untuk itu kita harus mengatur rencana-rencana sehingga dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik,” pungkasnya.(Wahyu Desmi)











