News

Pemkab Pidie Gelar Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 

2351
×

Pemkab Pidie Gelar Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 

Sebarkan artikel ini
Penjabat Bupati Pidie, Ir. H. Wahyudi Adisiswanto menjadi pembina upacara peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2022 di GOR Alun-alun Kota Sigli, Sabtu (22/10/2022). FOTO/ HARMADI

* Pj Bupati Ajak Seluruh Masyarakat Merayakannya

 

posaceh.com, Sigli – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie menggelar upacara peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2022 di GOR Alun-alun Kota Sigli, Sabtu (22/10/2022).

 

Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2022 mengangkat tema Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan bermakna dengan menghadiri Ribuan santri dari berbagai Dayah yang ada di seluruh kabupaten Pidie, bahwa santri dalam kesejarahannya selalu terlibat aktif dalam setiap fase perjalanan Indonesia.

Adapun kegiatan yang dilakukan membacakan Ayat Suci Al-Qur’an beserta membaca Shalawat Badar dari Dayah Nura Pidie. dan Upacara pengibaran bendera merah putih ini dipimpin upacara Tgk Syahrul Ramadhan, dari dewan guru Dayah Baldatul Mubarakah Lamkawe, pembinaan ucapan oleh PJ Bupati Pidie Ir. H. Wahyudi Adisiswanto, pengibaran Bendera Merah Putih oleh para santri Al-Furqan Bambi.

 

Penjabat Bupati Pidie, Ir. H. Wahyudi Adisiswanto, mengatakan, dalam pidatonya ini amanat Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Penetapan 22 Oktober merujuk pada tercetusnya “Resolusi Jihad” yang berisi fatwa kewajiban berjihad demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad ini kemudian melahirkan peristiwa heroik tanggal 10 Nopember 1945 yang kita peringati sebagai Hari Pahlawan.

“Ini ditetapkan pada tahun 2015, kita pada setiap tahunnya selalu rutin menyelenggarakan peringatan Hari Santri dengan tema yang berbeda. Untuk tahun 2022 ini, peringatan Hari Santri mengangkat tema Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan,”kata Ir. H. Wahyudi Adisiswanto dalam pidatonya.

 

Lanjut Pj Bupati Pidie tema ini Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan, bahwa santri dalam kesejarahannya selalu terlibat aktif dalam setiap fase perjalanan Indonesia, ketika Indonesia memanggil santri tidak pernah mengatakan tidak,

Santri dengan berbagai latar belakangnya siap sedia mendarmabaktikan hidupnya untuk bangsa dan negara.

“Ketika Indonesia masih dijajah, para santri turun ke medan laga, berperang melawan penjajah. Menggunakan senjata bambu runcing yang terlebih dahulu didoakan Kiai Subchi Parakan Temanggung, mereka tidak gentar melawan musuh,” ucap PJ Bupati Pidie.

 

Melalui momentum tersebut, ia juga menyampaikan bahwa peringatan Hari Santri bukanlah milik santri semata, namun milik semua komponen bangsa yang mencintai tanah air.

“Karena itu, saya mengajak semua masyarakat Indonesia, apapun latar belakangnya, untuk turut serta ikut merayakan Hari Santri. Merayakan dengan cara napak tilas perjuangan santri menjaga martabat kemanusiaan untuk Indonesia,” ujarnya.

 

Pj Bupati Pidie juga menyampaikan, bahwa catatan- catatan di atas menunjukkan bahwa santri dengan segala kemampuannya bisa menjadi apa saja. Sehingga SANTRI itu memiliki singkatan dari _Insan Taqwa Republik Indonesia. Santri sekarang telah merambah ke berbagai bidang profesi, memiliki keahlian bermacam-macam, bahkan mereka menjadi pemimpin negara.

Meski bisa menjadi apa saja, santri tidak melupakan tugas utamanya, yaitu menjaga agama itu sendiri. Santri selalu mengedepankan nilai-nilai agama dalam setiap perilakunya.

Pembacaan Ikrar Santri Indonesia oleh Tgk Muhammad Fauzan, pengurus RTA Pidie. Doa oleh Waled Rasyidin Ahmad, pimpinan Dayah Nura Pidie, dan kegiatan diakhiri dengan Pawai Ta’aruf Shalawat dan Zikir, dari alun alun kota Sigli menuju ke Gedung Pidie Convention Center (PCC) Sigli.

Hadir para Alim Ulama, Abu Lamkawe dan sejumlah ulama lainnya. Para Kyai dari Jawa Timur, selaku undangan khusus Pj. Bupati Pidie, adalah para Kyai Pencetus Lahirnya Hari Santri Nasional, para Pimpinan Kyai muda bersatu.

Para Kyai tersebut, yaitu KH. Thoriq Darwis bin Ziad, pengasuh pondok pesantren Babussalam, Kabupaten Malang. Seterusnya H. Musyaroh Usman, pengasuh pesantren Sulaiman, Trenggalek.

Kemudian, KH. Nabil Hasbullah, pengasuh pondok pesantren Darul Hikam Joresan Mlarak, Ponorogo, serta KH. Reza Hasbullah, pengasuh pondok pesantren Darul Hikam Joresan.(Harmadi)