Iskandar Muda menjadi Sultan penuh keunikan, awalnya dia bertengkar dengan Sultan Muda di Banda Aceh dan mencari perlindungan pada Gubernur Pedir di Sigli. Keduanya, baik Sultan Muda dan Gubernur Pidie adalah Paman bagi Iskandar Muda yang kala itu berusia 21 tahun.
Lantas dihasut nya Gubernur Pedir agar diizinkan membawa pasukan untuk menyerbu Banda Aceh. Kebetulan Paman (Sultan Muda) di Aceh bereaksi lebih cepat, menyambutnya, mengalahkan Pasukan Pedir yang dipimpin Iskandar Muda dan menawannya.
Tiba-tiba Portugis melihat huru-hara perang saudara, menyerbu istana Aceh. Sultan Muda mengetahui ketangkasan dan keberanian Iskandar Muda, mengeluarkan dari penjara dan memberinya kedudukan Panglima. Iskandar Muda berhasil memukul mundur Portugis yang sudah mendarat.
Tiba-tiba pamannya Sultan Muda meninggal dunia, malam kemenangan tersebut, jadilah Panglima itu sebagai Sultan menggantikan pamannya. Penobatan Iskandar Muda sebagai Sultan dilakukan pada 6 Zulhijah 1015 H (awal april 1607 M).
Tinggal pamannya satu lagi di Pedir (Gubernur), terus Iskandar mengirim pembunuh-pembunuh bayaran untuk membunuh pamannya sendiri. Jadilah dia sendiri menguasai Aceh dan Pedir.
Begitulah Beaulieu seorang Laksamana Perancis memberi kesaksian tentang pribadi seorang Iskandar Muda yang memimpin Aceh dari 1607-1636.
Sejarah tentang Iskandar Muda ini terdapat dalam Buku Kerajaan Aceh Darussalam, ditulis Denny Lombard, seorang Profesor di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales (EHESS, Sekolah Tinggi Ilmu-ilmu sosial).
Berbeda dengan banyak penulis Eropa lainnya, Denys Lombard dalam pembahasannya tentang masa tiga puluh tahun pemerintahan Sultan Iskandar Muda ialah penggunaan sumber-sumber Melayu setempat (Bustan as-Salatin, Hikayat Aceh, Adat Aceh) di samping sumber-sumber Eropa dan Tionghoa.
Watak Sultan Iskandar Muda yang agak berbeda dari cerita-cerita tutur orang tua, dikisahkan oleh Laksamana Agustin de Beaulieu yang bermukim di Bandar Aceh setahun lebih pada tahun 1620-1621.
Buku karya Denys Lombard ini juga dipuji Ali Hasjmy. Menurutnya buku tersebut yang bercerita tentang Kerajaan Aceh Darussalam melebihi Snouck, bahkan telah mendustakan Snouck pada bahagian-bahagian tertentu.
Iskandar Muda Sang Penakluk
Memulai pemerintahannya pada 1607 setelah seluruh pendahulunya “dibereskan”, Iskandar Muda mulai melakukan perubahan besar-besaran pada militernya.
Dengan memanfaatkan kekuatan, Iskandar Muda segera saja menyusun kekuatan Tentara dengan melibatkan peran besar sejumlah Gubernur di wilayah kekuasaannya. Serangkaian tindakan angkatan laut mulai dilakukan di Selat Malaka, sekaligus sebagai tanda bahwa Aceh akan menguasai jalur perdagangan paling sibuk di negeri-negeri Melayu.
Sejarah kemudian mencatat dalam masa kepemimpinannya, Kerajaan Aceh mengalami masa kejayaan setelah melakukan ekspedisi penaklukan ke sejumlah wilayah di Sumatera dan Semenanjung Malaya.
Deli ditaklukan pada 1612 kemudian menyusul Johor pada 1613. Setahun berlanjut, Bendera Aceh telah berkibar di Bintan, selanjutnya Sultan Iskandar Muda menguasai Pahang di 1618, Kedah di tahun 1619, dan Nias pada 1624-1625.
Penaklukan Pahang menarik, selain menjadikannya sebagai wilayah penaklukan, Putri Pahang yang cantik juga dibawa ke Bandar Aceh.
Tidak banyak membutuhkan waktu, wilayah kerajaannya segera saja meliputi sebagian besar pantai barat dan pantai timur Sumatera.
Di Bandar Aceh, pusat kerajaan, Sultan Iskandar Muda menata pemerintahan dengan baik. Pelabuhan Aceh yang disebut-sebut berada di jalur “Teluk Aceh” antara Pulau Weh dan Pulau Aceh menjadi bandar paling ramai di masa tersebut.
Sejumlah peraturan besar lahir di masa kepemimpinannya. Dalam hal kemakmuran rakyat, Sultan Iskandar Muda membuat peraturan untuk menjamin kesejahteraan.
Musuh terbesarnya adalah Portugis, hingga negara ini tidak boleh berdagang di wilayahnya. Bangsa Eropa yang boleh masuk ke wilayah kekuasaan Aceh hanya Inggris dan Belanda.
Selat Malaka, pintu masuk Nusantara dikontrol penuh Angkatan Laut Kerajaan Aceh. Barang-barang ekspor utama dari Aceh lada dan rempah-rempah lainnya.
Dalam bidang pemerintahan, Sultan menata wilayahnya dengan baik dan membagi wilayah kecil kerajaan untuk para putra-putri nya yang sebagian hasil perkawinan dirinya dengan putri dari kerajaan tersebut.
Sosoknya dikenang sebagai Raja besar yang pernah dimiliki Nusantara, seorang Sultan dari Aceh. Iskandar Muda adalah pemimpin Sumatera dan sebagian tanah Semenanjung, yang sebagian peninggalannya adalah wilayah Aceh dan beberapa bekas kerajaan di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan negeri-negeri Malaysia.
Sultan Iskandar Muda merupakan salah satu pemimpin dunia yang lebih mementingkan kesejahteraan rakyat dan kemajuan negerinya.
Sultan Iskandar Muda meninggal dunia di usia 43 tahun, yang sebagian riwayat menyebutkan akhir hidupnya pada 27 September 1636.
Negara mengakui kepahlawanannya yang berjuang mengusir penjajah dari negeri Nusantara. Sultan Iskandar Muda dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1993.
Begitulah, seorang Raja agung di negeri Nusantara, Sultan Iskandar Muda. (Hasnanda Putra).











