Internasional

Bibit Perang Rusia-Ukraina Telah Bersemai di Donestk dan Luhansk

1712
×

Bibit Perang Rusia-Ukraina Telah Bersemai di Donestk dan Luhansk

Sebarkan artikel ini

Posaceh.com – Dua wilayah yang memproklamirkan diri merdeka dari Ukraina, Donetsk dan Luhansk, yang kemerdekaannya diakui Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin, terletak di sabuk karat di Ukraina timur, dan keluar dari kendali Kyiv pada 2014.

Sejak saat itu, lebih dari 14.000 orang tewas dalam pertempuran antara tentara Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Moskow di wilayah itu.

Di sinilah bibit konflik Rusia-Ukraina bersemai, yang saat ini dikhawatirkan akan berujung perang besar di kawasan Eropa. Ancaman perang dan invasi Rusia ke Ukraina telah diperingatkan Barat sejak sekitar sebulan terakhir. Seperti apa kawasan Donetsk dan Luhansk yang dikendalikan pemberontak pro Rusia?

Donetsk, dikelilingi tumpukan bijih besi, adalah kota utama di cekungan tambang Donbas.

Pernah bernama Stalino, Donetsk merupakan hub industri berpasir yang didominasi pertambangan.

Daerah ini juga salah satu pusat produksi baja utama Ukraina. Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (22/2), wilayah ini memiliki 2 juta penduduk.

Sementara itu Luhansk, sebelumnya bernama Voroshilovgrad, juga merupakan kota industri dengan penduduk 1,5 juta jiwa.

Kedua wilayah ini terkumpul di dalam kawasan cekungan, berbatasan dengan Rusia di tepi utara Laut Hitam – rumah bagi budidaya batu bara yang besar.

Kemunculan orang berbahasa Rusia di wilayah itu dimulai ketika banyak pekerja Rusia dikirim ke sana setelah Perang Dunia II pada era Soviet.

Dua wilayah itu telah terperangkap dalam konflik bersenjata dengan tentara Ukraina sejak pemberontakan bersenjata yang didukung Kremlin setelah pencaplokan Krimea oleh Rusia pada 2014.

Kemerdekaan mereka, diumumkan setelah referendum, tidak diakui oleh komunitas internasional.

Kyiv dan Barat mengatakan Rusia memicu pemberontakan di wilayah timur Ukraina itu, memberikan senjata dan mengerahkan tentara di sepanjang perbatasan untuk memperkuat mereka.

Putin mengatakan pada Senin, dia mengakui kemerdekaan Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk.

Donbas juga berada di jantung pertempuran kultural antara Kyiv dan Moskow, yang mengatakan bahwa wilayah tersebut, sebagian besar Ukraina timur, berbahasa Rusia dan perlu dilindungi dari nasionalisme Ukraina.

Upaya untuk mengatasi konflik di Ukraina timur, yang ditetapkan dalam perjanjuan Minsk 2015, mengalami kebuntuan. Kyiv dan separatis saling menuding melanggar perjanjian tersebut.

Serangkaian gencatan senjata gagal karena pelanggaran berulang kali yang dilakukan oleh pihak yang berkonflik.

Alur politik dari kesepakatan tersebut, yang meramalkan otonomi tingkat besar untuk daerah pemberontak dan pemilihan lokal di bawah hukum Ukraina, tetap menjadi surat mati, dengan masing-masing pihak saling menyalahkan atas kegagalan tersebut.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson mengecam pengakuan Rusia atas kemerdekaan Donetsk dan Luhansk yang dikuasai separatis, menyebutnya “pelanggaran nyata kedaulatan dan integritas Ukraina”.

Masing-masing dari kedua republik tersebut ingin otonomi penuh dari pemerintah pusat dan memiliki presiden yang diklaim sendiri.

Denis Pushilin, terpilih pada 2018 dalam sebuah pemilihan yang disengketakan Kyiv, adalah pemimpin apa yang disebut Republik Rakyat Donestk. Sementara itu Luhansk dipimpin oleh Leonid Pasechnik.

Banyak panglima perang dan pejabat dari kelompok separatis tewas dalam beberapa tahun terakhir dalam serangan, korban pertempuran atau dalam operasi pasukan Ukraina, menurut laporan yang tidak bisa diverifikasi.

Pemimpin pemberontak Donetsk, Alexander Zakharchenko, tewas dalam serangan bom di kafe Donetsk pada Agustus 2018. Dia merupakan korban pemberontak paling terkenal dalam konflik tersebut sampai saat ini. (Merdeka.com)