Internasional

Gandum Kiriman Rusia Picu Ketegangan Ukraina dan Israel

16
×

Gandum Kiriman Rusia Picu Ketegangan Ukraina dan Israel

Sebarkan artikel ini
FOTO/Deutsche Welle (DW)

posaceh.com, Jakarta – Selama ini, hubungan Ukraina dan Israel terjalin baik dan kooperatif, hingga munculnya perselisihan terkait gandum. Hal ini bermula dari sebuah postingan Facebook Kateryna Yaresko, seorang jurnalis dari proyek SeaKrime.

Proyek Seakrime bernaung di bawah Myrotvorets Center, organisasi independen yang menyelidiki kejahatan atas keamanan nasional Ukraina.

Pada 12 April, Yaresko melaporkan bahwa kapal kargo Rusia, Abinsk, telah tiba di pelabuhan Israel, membawa gandum Ukraina yang dicuri.

Ia mengatakan bahwa kapal tersebut telah tiba di Haifa, Israel, dengan muatan 43.765,18 ton gandum dari wilayah Ukraina yang diduduki. Saat dipublikasikan, tidak ada konfirmasi resmi akan informasi tersebut.

Kedua menteri luar negeri saling berseteru
Dua minggu kemudian, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengatakan bahwa kapal lain dengan muatan gandum curian wilayah Ukraina yang diduduki Rusia telah berlabuh di Israel. Akibatnya, duta besar Israel di Kyiv dipanggil menghadap Kementerian Luar Negeri Ukraina.

“Sulit dipahami mengapa Israel tidak memberikan tanggapan yang sesuai terhadap permintaan resmi Ukraina terkait kapal yang sebelumnya mengantarkan barang curian ke Haifa,” kata Sybiha di platform media sosial X.

“Kini, setelah kapal lainnya dengan muatan serupa tiba di Haifa, kami sekali lagi memperingatkan Israel agar tidak menerima gandum curian tersebut dan untuk tidak merusak hubungan kedua negara.”

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menanggapi kemarahan pihak Kyiv. “Bukti yang mendukung tuduhan tersebut belum diserahkan,” tulisnya di X, sambil menambahkan bahwa masalah tersebut akan diselidiki dan bahwa pihak berwenang Israel akan bertindak sesuai hukum.

“Anda bahkan tidak mengajukan permohonan bantuan hukum sebelum menggunakan jalur media dan jejaring sosial,” katanya. “Hubungan diplomatik, terutama antara negara-negara sahabat, tidak dijalankan lewat Twitter atau media.”

Kementerian Luar Negeri Ukraina pun merilis kronologi sengketa gandum tersebut. Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa masalah tersebut telah dibahas oleh para diplomat kedua negara di akhir Maret dan pada 15 April. Ukraina meminta bantuan hukum internasional dari Israel terkait kapal Abinsk.

“Pihak Israel secara prematur menyelesaikan proses pembongkaran muatan kapal tersebut dan mengizinkannya berangkat, meskipun Ukraina telah meminta agar tidak melakukan hal hal tersebut,” kata Kementerian Luar Negeri.

Ukraina bersiap paket sanksi
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga turut angkat bicara mengenai perselisihan ini.

“Di negara normal mana pun, pembelian barang curian merupakan tindak pidana yang berkonsekuensi hukum. Hal ini berlaku secara khusus bagi gandum yang dicuri Rusia,” tulis Zelenskyy di Telegram pada 30 April.

Ia mengatakan bahwa Rusia secara sistematis mengangkut gandum dari wilayah Ukraina yang diduduki Rusia lalu mengekspornya. “Perdagangan semacam itu melanggar hukum Israel. Ukraina telah mengambil semua langkah diplomatik yang diperlukan untuk mencegah insiden semacam ini,” kata Zelenskyy.

Ia menekankan bahwa Ukraina sedang menyusun paket sanksi berdasarkan informasi intelijen. Paket tersebut akan menargetkan semua pihak yang terlibat dalam pengangkutan gandum ini, serta orang-orang yang “berusaha mendapatkan keuntungan dari kegiatan kriminal tersebut.”

Menurut Zelenskyy, Kyiv sedang berkoordinasi dengan mitra-mitra Eropa untuk memastikan bahwa individu-individu yang dimaksud juga dimasukkan ke dalam daftar sanksi Eropa.

Meminta Bukti
Pakar militer Israel, David Sharp, menduga bahwa pihak Israel tidak akan memperburuk situasi jika telah menerima bukti yang komprehensif dari Kyiv mengenai asal-usul gandum dari wilayah yang diduduki.

“Tidak ada yang menginginkan masalah ini dari memburuknya hubungan dengan Ukraina hingga sanksi,” kata Sharp kepada DW. Pertanyaannya adalah bukti apa yang sebenarnya disajikan Ukraina dan apa yang sebenarnya diterima pihak Israel.

Sharp menekankan bahwa Israel adalah negara dengan sistem peradilan yang independen, di mana hubungan bisnis swasta dilindungi oleh hukum. Kementerian Luar Negeri tidak dapat memerintahkan seorang pengusaha untuk membatalkan kontrak pembelian gandum. Melakukan hal itu akan mengakibatkan pejabat pemerintah digugat ke pengadilan.

“Mengakhiri kontrak memerlukan bukti hukum yang kuat, termasuk bukti intelijen,” jelas Sharp. “Jika Ukraina ingin Israel memblokir kesepakatan, kecurigaan semata atau postingan media sosial tidak cukup. Ukraina harus memberikan bukti yang dapat digunakan pemerintah Israel di pengadilan atau diserahkan ke kantor kejaksaan.”

Tantangan dalam pengumpulan bukti

Ivan Us, konsultan senior di Institut Studi Strategis Nasional di Kyiv, menjelaskan bahwa ini bukan kali pertama Rusia berusaha melegalkan gandum hasil curian dari wilyah Ukraina. Gandum tersebut diangkut dari wilayah yang diduduki, dicampur dengan gandum Rusia di depot transshipment, dilaporkan sebagai gandum Rusia, dan akhirnya dijual kembali.

“Dari sudut pandang kami, ini adalah gandum curian, tetapi bagi pembeli, ini mungkin tampak sebagai produk legal,” kata pakar kebijakan luar negeri tersebut. Hal ini mempersulit pengumpulan bukti dan penuntutan hukum.

Menurut Serhiy Danylov dari Asosiasi Ukraina untuk Studi Timur Tengah, kedutaan Ukraina telah memberikan informasi intelijen kepada pihak Israel mengenai rute, pengiriman gandum melalui laut, serta pemilik dan logistik di balik pengiriman tersebut. Danylov mengkritik Israel karena mengabaikan semua peringatan yang diberikan Ukraina.

“Meskipun kapal pertama tidak memicu reaksi yang begitu kuat, kini kita melihat dimensi baru dari respons Ukraina,” kata Danylov kepada DW. “Dalam pernyataannya, Zelenskyy untuk pertama kalinya menyebut sanksi, termasuk yang dikoordinasikan dengan Uni Eropa. Ini bukan lagi sekadar protes diplomatik, melainkan sinyal bahwa langkah-langkah konkret akan diambil. Tanggapan Kementerian Luar Negeri Israel, jujur saja, tidak menyenangkan. Mereka secara efektif membantah bahwa ada bukti yang cukup.”

Ukraina minta bantuan hukum Israel
Sementara itu, Kyiv telah mengirimkan paket dokumen ke pihak Israel untuk membantu mereka menindak kapal Rusia yang mengangkut gandum curian. Jaksa Agung Ukraina Ruslan Kravchenko mengumumkan hal ini di Telegram pada 29 April. Kapal yang dimaksud bernama Panoramitis.

“Permohonan bantuan hukum telah diajukan kepada otoritas Israel,” kata Kravchenko. Ia menekankan bahwa Ukraina telah meminta mitra Israel untuk menahan kapal beserta muatannya, menggeledahnya, mengamankan dokumen kapal dan muatan, mengambil sampel gandum, serta menginterogasi awak kapal.

Menurut Kravchenko, sejak dimulainya invasi skala penuh Rusia ke Ukraina, lebih dari 1,7 juta ton produk pertanian dengan nilai total sekitar €388 juta (Rp7,9 triliun) telah diekspor secara ilegal dari wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.

Pada 30 April, dari laporan kantor berita Interfax-Ukraine yang mengutip surat kabar The Marker Israel menyatakan bahwa perusahaan Israel Zenziper akhirnya menolak menerima kiriman tersebut, yang kemungkinan besar merupakan gandum hasil curian dari Ukraina. Kapal kargo tersebut telah pun telah meninggalkan Haifa.

“Kami menang, kapal kargo itu meninggalkan pelabuhan menuju perairan netral. Kami akan menindaklanjuti proses pidana dan sanksi ini sampai tuntas,” kata Duta Besar Ukraina untuk Israel, Yevgen Korniychuk, kepada kantor berita tersebut.

Menurut sebuah laporan, pemasok Rusia telah mengetahui adanya perintah penolakan muatan tersebut. Perusahaan impor gandum Zenziper menyatakan bahwa “Pemasok Rusia, pengirim gandum tersebut harus mencari lokasi bongkar muat lainnya.”

“Ini adalah pertama kalinya pengiriman gandum, yang diyakini telah dicuri di Ukraina, tidak diterima dan dibongkar muat di Israel,” kata media Israel seperti dikutip Interfax-Ukraine.(Muh/*)