News

Status Zona Hijau dan Merah Masih Temporary di Aceh

1709
×

Status Zona Hijau dan Merah Masih Temporary di Aceh

Sebarkan artikel ini
FOTO/ WAHYU DESMI Tim Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19 Aceh Besar melakukan pemeriksaan masyarakat terkait virus corona di Montasik
FOTO/ WAHYU DESMI Tim Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19 Aceh Besar melakukan pemeriksaan masyarakat terkait virus corona di Montasik

POSACEH.COM,BANDA ACEH – Pasca penetapan status zona untuk wilayah yang terindikasi positif Corona oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini tim gugus percepatan penanganan Covid-19 yang di Ketuai oleh Letjen TNI Doni Monardo yang juga kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah membuat “penafsiran” yang keliru oleh beberapa kepala daerah.

Seperti diketahui, Pemerintah Pusat telah mengeluarkan pengumuman yang berisikan bahwa ada 102 kabupaten/kota yang masuk dalam zona hijau dan 14 diantaranya ada di Aceh. Bila merunut kepada 14 kabupaten/ kota maka masih ada sembilan kabupaten/ kota di Aceh yang tidak termasuk dalam zona hijau.
Nah, sembilan kabupaten/ kota tersebut masuk ke zona merah, ternyata.

 

Bahkan, usai mendapat Surat Edaran (SE) Gubernur Aceh Nomor 440 /7810 tentang Penerapan Masyarakat Produktif dan Aman dari covid 19 pada kriteria zona merah dan zona hijau di Aceh, tertanggal 2 Juni 2020.

Terkait zona yang di terima wilayahnya, ada dua kepala daerah yang sangat gigih berjuang dan bekerja keras agar masyarakat di daerahnya tidak tertular virus Covid-19.
Dua kepala daerah tersebut adalah Wali Kota Banda Aceh H Aminullah Usman SEAk MM dan Bupati Aceh Besar Ir H Mawardi Ali.

Hampir setiap jam berita tentang upaya mereka memutuskan mata rantai wabah virus Covid-19 ini masuk dalam media sosial, online dan dipastikan setiap pagi sudah ada berita tentang perjuangan mereka untuk menutup pergerakan virus Corona itu yang diberitakan di satu atau dua koran harian terbitan Aceh.

Selain itu, ada yang lebih dari Wali Kota Banda Aceh dari pada Mawardi Ali adalah ketika Bang Carlos di wawancarai Stasiun Telivisi Nasional tentang keberhasilannya dalam upaya penanganan dan memutus mata rantai penularan virus Corona, hebatnya lagi sebagai kepala daerah yang menjadi ibukota provinsi dan barometernya Aceh, Aminullah sangat bersemangat seolah virus Covid-19 telah usai di bumi Serambi Mekkah dan pihak stasiun Televisi itupun seperti kecolongan, mengapa Aminullah yang menjadi narasumber nya terkait keberhasilan menekan penularan wabah mematikan itu.

Alhasil, begitu mendapatkan penilaian, justru Banda Aceh tidak masuk dalam zona hijau dan dikatagorikan wilayah zona merah, sebaliknya Kabupaten Aceh Besar justru masuk bersama 14 kabupaten/ kota yang dikatagorikan dalam zona hijau.

Yang lebih “gila” lagi adalah ketika mengetahui daerah yang dipimpinnya masuk zona merah, Wali Kota bersama DPRK Banda Aceh dan unsur Forkopimda justru melakukan protes kepada Plt Gubernur Aceh.

Sementara Bupati Aceh Besar yang tahu daerahnya masuk dalam zona hijau justru memberikan apresiasi dan ucapan terimakasih atas atensi Plt Gubernur Aceh.

Sepertinya dua kepala daerah ini berfikir kalau wabah Corona ini macam main bola.
Yang mendapatkan zona hijau sudah menang, patut memberikan apresiasi untuk Plt Gubernur Aceh dan yang masuk zona merah harus protes karena sudah kalah dalam pertandingan, memangnya Plt Gubernur Aceh itu wasit, ada ada saja.
Hemat saya, Wali Kota Banda Aceh dan Bupati Aceh Besar bukanlah orang sembarangan, mereka orang orang hebat dan pintar, kedua kepala daerah ini di usung oleh mayoritas partai politik yang sama yaitu Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Golkar dan Partai NasDem.
Pertanyaannya, kenapa terlalu cepat mengambil kesimpulan, misalnya Aminullah Usman sudah begitu bersemangat akan menjadi contoh bagi daerah lain, bagaimana penindakan terhadap wabah Corona ini, nah begitu keluar hasilnya merah, sehingga seluruh elemen di kota Banda Aceh kecewa, itu wajar, melihat kegigihan dan upaya Bang Carlos sapaan akrab Wali Kota Banda Aceh hal itu bisa di terima, namun baiknya tidak perlu melakukan protes kepada Gubernur Aceh.

Begitu juga Aceh Besar, terharu dan bahagia itu manusia, setelah melakukan ikhtiar dan doa, hasilnya hijau didapati, mantap, tapi tidak perlu juga mengapresiasi Plt Gubernur Aceh yang perlu di apresiasi adalah masyarakatnya, yang telah berusaha mengikuti protokol kesehatan dengan disiplin dan hasilnya membahagiakan.

Janganlah Bapak bapak ini menganggap Plt Gubernur Aceh seperti wasit, yang zona hijau memberikan apresiasi dan masuk zona merah melakukan protes, emangnya main bola, ada kalah menang.

Harus sama sama kita ingat dan resapi bersama, bahwa wabah virus ini belum berakhir, sebelum ditemukan vaksin, kita harus terus Berikhtiar dan Berdoa agar daerah kita Aceh ini bebas dari penularan wabah yang namanya Covid-19.
Baik Pak Wali maupun Pak Bupati saya hanya bisa berharap agar tetap bersemangat memberikan himbauan kepada masyarakat seperti yang telah bapak bapak lakukan selama ini.
Terhadap penilaian Pemerintah Pusat, tentunya mereka memberikan penilaian dengan referensi dan barometer yang jelas dan cermat.
Khusus untuk Pak Walikota Banda Aceh kami berharap untuk bangkit dan terus bekerja bersama seluruh jajaran Pemerintah Kota serta warga bersama memutuskan penyebaran Covid-19.
Corona ini bukan macam kita main bola pak,harus selalu menang ketika tim kita bermaterikan pemain pemain hebat, Corona ini tak nampak, tiba-tiba ada yang positif, inilah yang mungkin menjadi acuan sehingga daerah kita masuk dalam zona merah, mari sama sama kita kerja lebih keras lagi, bersama kita bisa.

Pak Mawardi, sekarang ini wajar bapak bersyukur, arahan bapak pun sangat tepat, agar masyarakat tetap waspada dan terus ikuti protokol kesehatan plus jaga wudhu.(T Azhari)