Bangunan sebuah masjid kerap menunjukkan sebuah kemajuan peradaban, desain arsitektur yang dirancang berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal yang ada menjadikan bentuk masjid bermacam rupa.
Model Masjid Tuha Indrapuri adalah arsitektur asli Aceh, seperti juga desain yang dibangun kembali di Masjid Tgk Dianjong Gampong Peulanggahan dan Masjid Syeikh Abdurrauf Gampong Blang Oi di Banda Aceh.
Seorang perencana yang sangat berjasa menjaga nilai-nilai identitas masjid kuno Aceh adalah Ismail Sofyan, seorang pengusaha nasional asal Aceh yang berjasa membuat desain Masjid Blang Oi Banda Aceh dan Masjid Raya Pondok Indah Jakarta.
Arsitektur masjid kuno di Aceh sangat khas, seperti model masjid Indrapuri yang atap masjid berbentuk persegi dan mengerucut seperti piramida atau tumpang tersusun tiga, yang tiap susunannya menyisakan celah udara.

Arsitektur masjid beratap piramida ini, kemudian diadopsi daerah-daerah lain di nusantara seiring dengan tersebarnya pengaruh Islam dari Aceh. Seperti model masjid di Jawa dan di zaman modern ditiru oleh bentuk masjid Muslim Pancasila.
Nilai Akustik Masjid
Seorang pakar akustik Dr Zulfian pernah meneliti tentang masjid kuno di Aceh. Beliau seorang mantan dosen dan penulis beberapa waktu lalu pernah menjadi mahasiswa beliau di Program Magister Teknik Kimia Unsyiah.
Dalam sebuah diskusi penulis bersama Tim majalah Diwana dengan Zulfian, disebutkan masjid dengan gaya atap piramida seperti yang ditiru desainnya oleh Masjid Blang Oi menyimpan banyak keunggulan.
Dalam struktur Masjid Indrapuri lama terdapat kontruksi bangunan kayu tanpa dinding, menunjukkan nuansa sederhana yang menyatu dengan alam tropis. Kemudian dari sisi dalamnya, berdasarkan kajian ilmiah, masjid beratap triagle (segitiga) seperti ini lebih memberi aspek kenyaman bagi pengunjungnya karena memiliki tingkat akustik lebih baik. Artinya suara dalam masjid ini terdengar lebih jelas, dibanding dengan masjid berbentuk datar atau kubah.

Inilah keunggulan dari masjid beratap triagle yang banyak tidak diketahui orang,” ungkap Pakar Akustik dari Unsyiah, Dr. Zulfian waktu itu.
Menurutnya hasil riset Dr Zulfian membuktikan secara ilmiah bahwa desain atap piramida bersusun tiga seperti masjid Aceh memiliki karakteristik suara paling baik, dibanding dengan bangunan berbentuk kubah atau datar. Bangunan berbentuk kubah atau datar tingkat suara dengungnya dinilai tinggi apalagi di wilayah tropis seperti di Aceh.
Hal yang perlu dicatat bahwa masjid-masjid beratap piramida tersusun tiga sudah dirancang dan berkembang di Aceh sejak abad 15-16, sementara teori akustik baru dikenal abad 20.
“Ini patut kita banggakan bahwa orang kita dulu sudah lebih maju sebelum teori akustik lahir,” ujar Zulfian.
Menurutnya orang zaman dulu lebih mementingkan nilai dan ruh yang terkandung dari sebuah bangunan. Sementara manusia modern selalu menganggungkan kemegahan dan keindahan bangunan, tapi sering melupakan rohnya.
“Roh sebuah masjid adalah suara. Shalat jamaah, khutbah, mengaji semua berkaitan dengan suara,” sebut Zulfian kepada tim waktu itu.
Model Kubah Masjid di Aceh
Sebagian besar Masjid di Aceh sekarang tidak lagi mengikuti model arsitektur Aceh, namun mengikuti model Masjid Raya Baiturrahman yang memiliki kubah. Masjid Raya sendiri bangunan sekarang adalah peninggalan Belanda pada 1879.
Ahmad Sugeng Riady, dalam tulisannya Masjid dan ragam atapnya menuliskan pendapat Abdul Ghafur dengan risetnya soal Perspektif Historis Arkeologis Tentang Keragaman Bentuk-Bentuk Masjid Tua Di Nusantara mengungkapkan bahwa atap masjid di Nusantara bisa dibedakan menjadi dua, yakni masjid beratap tumpang seperti kebanyakan masjid-masjid di Nusantara dan masjid beratap kubah yang pengaruhnya mulai masuk ke Indonesia pada abad ke 19. Bahkan, ada juga masjid yang memiliki atap dengan kombinasi tumpang dan kubah, seperti Masjid Istiqlal di Jakarta.
Beberapa masjid di ibukota kabupaten kota di Aceh mengikuti pola beratap kubah dengan bentuknya beraneka ragam. Masing-masing menunjukkan kekhasan tersendiri sebagai sebuah kemajuan peradaban arsitektur.
Sebuah bangunan masjid yang mengikuti pola apapun, idealnya tergambar nilai identitas lokal dalam desain arsitekturnya sehingga akan nampak sisi budaya lokal dengan keistimewaan masing-masing. (Hasnanda Putra)











