Banghas

Pawang Rasyid dan Harimau Aulia

7447
×

Pawang Rasyid dan Harimau Aulia

Sebarkan artikel ini
ilustrasi pria bersenapan

Seorang pria berdiri di tepi Krueng Mane, Geumpang, sore hari di tahun 1990. Sepucuk senapan serbu dibawanya kemanapun pergi.

Hari itu menjadi peristiwa paling menegangkan dalam hidupnya. Seekor harimau tepat berdiri di depannya. Matanya tak berkedip dan saling berhadapan. Tak ada pilihan lari, karena aliran sungai yang sangat deras selepas hujan besar ini bukanlah pilihan menceburkan diri ke sungai.

Senapan tua itu dalam posisi di pundaknya. Tidak mungkin dipindahkan dalam posisi menembak. Dalam situasi rumit berbahaya ini, orang-orang tua mengajarkan agar tidak bergerak dan berkedip.

Lelaki ini akhirnya bagai patung, sedang raja hutan ini dalam posisi menyerang. Sudah banyak cerita pengalaman orang yang diserang harimau, kebanyakan tidak selamat. Cakaran dan gigitan cukup mematikan, karnivora paling ditakuti di hutan aulia Mane.

Harimau Sumatera

Tiba-tiba saja lelaki ini bersuara di antara bunyi arus sungai dan kesunyian hutan belantara.

“Saleum hai meutuah Po Teumpat, ulon tuan syara gata Pawang Rasyid,” kata nya memperkenalkan diri dan bersikap untuk tenang. Sedangkan mulutnya terus komat kamit membaca do’a.

Harimau seperti menyadari sesuatu, seakan mengenal nama yang disebut dan segera saja melenturkan kakinya ke tanah. Terlihat kepalanya berkali-kali mengarah ke kanan, seperti sebuah isyarat. Sesaat kemudian sang Po Teumpat ini meninggalkan tempat dan bergerak ke arah kiri.

“Alhamdulillah, Allah peu seulamat,” gumam Pawang Rasyid dalam hati dengan penuh syukur.

Harimau Sumatra atau Panthera tigris sumatrae yang hidup dan menguasai hutan raya Mane dan Geumpang, dianggap pemilik rimba sehingga penduduk setempat memanggilnya Po Teumpat atau Rimueng Aulia.

Teringat isyarat kepala harimau ke arah kanan, lelaki ini mencoba keberuntungan dibalik petunjuk pemilik hutan aulia Mane ini.

Beberapa kali dengan mengandalkan “petunjuk alam”, Pawang Rasyid lolos dari kematian. Tubuhnya begitu berharga, hingga di sebuah pos militer sketsa wajahnya digambar dengan kali silang pertanda harus dicari hidup atau mati.

Pawang Rasyid bersama beberapa tokoh kombatan angkatan pertama ini dicari para tentara, setelah beberapa peristiwa penting pasca deklarasi Halimon.

Akhir Hidup Sang Penakluk Hutan

Jejak Pawang Rasyid kerap tak bisa diendus, kadang terlihat sesaat namun terus menghilang dengan cepat. Segala upaya terus dilakukan untuk melacak keberadaan panglima paling dicari militer ini. Hadiah materi dengan iming-iming bagi siapapun yang dapat menunjukkan keberadaannya. Namun tetap saja sulit ditemukan, biarpun jaringan intelijen lokal terus disebar ke pelosok di Mane dan Geumpang.

Pagi itu di 17 Juni 1995 pukul 17.00, seseorang yang diyakini sebagai agen lokal menemukan jejak Pawang Rasyid. Sebuah lokasi yang terjal dengan gubuk kecil berdiri di antara belantara hutan. Terlihat perempuan dan anak kecil di antara beberapa lelaki. Awalnya temuan ini disebut-sebut berdasarkan tangisan anak kecil di tengah hutan.

Pagi naas itu, 20 Juni 1995, penyergapan dilakukan dan baku tembak terjadi namun kondisi terkepung membuat posisi tempur tidak seimbang. Pawang Rasyid tertembak bersama 6 orang lainnya termasuk seorang perempuan dan dua anak kecil.

Penyergapan Pawang Rasyid dianggap sebuah keberhasilan, hingga kenaikan pangkat luar biasa satu tingkat kepada 12 anggota Komando yang ikut dalam operasi ini.

Begitulah akhir hidup sang penakluk hutan aulia Mane, Pawang Rasyid. Sosok yang dikenang dalam tutur cerita dari orang ke orang, sebagai lelaki bersahaja penuh kharisma di rimba raya Mane Geumpang.

Kisah yang selalu diingat beberapa generasi yang merasakan konflik paling memilukan dalam sejarah Aceh. Penderitaan yang tak berujung dan kematian telah begitu banyak, sampai akhirnya datang perdamaian. Seperti pepatah orang tua, pat ujeun yang hana pirang, pat prang yang hana reuda. Teruslah berdamai dan menebar kebaikan. (Hasnanda Putra).