Pertama kali dalam beberapa dekade, puncak Himalaya bisa terlihat. Kabut asap telah berkurang drastis sehingga pegunungan Dhauladhar, bagian dari Himalaya terlihat jelas dari daerah Punjab India.
Sebagaimana dilansir Nationalgeographic, Himalaya yang terletak lebih dari 160 kilometer jauhnya, terlihat untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.
Pemandangan berbeda itu tidak akan terlihat pada Seulawah, gunung berapi di perbatasan Aceh Besar dan Pidie dengan ketinggian 1810 mdpl. Selain ketinggian kalah jauh dengan Himalaya yang mencapai 8.848 mdpl, juga tingkat polusi yang belum tinggi. Namun sejak kondisi darurat ditetapkan Pemerintah Aceh dan penerapan jam malam waktu itu, beberapa pengendara merasakan suasana berbeda ketika melintasi Seulawah. Ada nuansa kesegaran dan kenyamanan lebih dari biasanya.
Benarkah bumi sedang bersih-bersih?
Sebagian menyebut pandemi global ini, cara bumi “menyucikan diri”. Manusia sudah terlalu banyak, kenderaan yang dipakai hilir mudik telah menambah polusi udara, belum lagi pembakaran hutan untuk lahan baru.
Bumi seakan sedang mengeluarkan racun, yang lama menyumbat pori-pori tanah. Sebuah proses eliminasi, penyingkiran polusi untuk kembali bersih.
Mungkin warga Jakarta juga mulai merasakan suasana udara yang segar setelah puluhan tahun hidup dalam kepungan polusi.
Di Jakarta, jumlah kendaraan umum yang beroperasi jauh menurun dan bahkan dibatasi. Bahkan hampir sebagian tempat usaha pun banyak yang tutup.
Anjuran pemerintah dengan menggalakan di rumah aja berdampak pada lingkungan. Kondisi udara makin membaik.
Habitat Virus
Sebuah tulisan di minanews mengutip dari New York Times, David Quammen, seorang penulis menyebutkan “kita tebang pohon; kita bunuh binatang atau mengirimnya ke pasar hewan. Kita ganggu ekosistem yang stabil dengan menghilangkan inang alami virus-virus tersebut. Akibatnya, secara alami, virus-virus membutuhkan inang baru untuk dapat bertahan hidup dan berkembang. Seringkali, kitalah inang baru untuk virus tersebut. Kita telah menjadikan kondisi di mana virus lepas dari penyekat ekologis alami mereka, tempat di mana mereka sedikit dan tidak ada persaingan, bahkan dalam satu binatang. Kita perkenalkan virus ke habitat baru yang kaya yang disebut populasi manusia, di mana mereka dapat berkembang biak dengan baik, namun menyebabkan masalah besar bagi manusia.”
Semua saling bergantung, ketika kita merusak habitatnya, maka makhluk yang kehilangan tempat tinggal itu mencari rumah-rumah baru, dan tubuh manusia menjadi incaran karena tidak ada pilihan lain bagi virus itu berkehidupan. Benar kata orang awam, virus itu pada awalnya tidak bergerak namun manusia lah yang membawanya kemana-mana. Dan, ketika dia telah menyebar tanpa batasan, manusia tak mampu berbuat apa-apa.
Dunia Tanpa Superman
Virus Corona memperlihatkan betapa manusia, makhluk kecil lemah tak berdaya. Tidak ada Superman di dunia ini, film bukanlah kehidupan nyata. Semuanya tidak mampu sedikitpun menunjukkan kekuatan, negara kuat sekalipun menjadi lemah.
Ganjar Pranowo dalam sebuah diskusi (28/3), menyentil, “Hari ini orang-orang yang sombong, merasa dirinya seperti Superman yang bisa menyelesaikan, sudahlah sujudlah anda dalam-dalam.”
Begitulah, belum terlambat untuk memperbaiki keadaan, dan paling baik sekarang bergerak serentak menghentikan penyebaran virus.
“Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (Al-A’raf : 10)
Kita punya waktu untuk memperbaiki cara kita hidup dalam lingkungan, di dalamnya tidak hanya tempat tinggal manusia tetapi juga berjuta habitat lainnya berkehidupan.
Bersyukur dan terus menebar kebaikan, itulah sebaik-baik berkehidupan. *(Banghas)*











