Nasional

KKN MAS Kelompok 98 Dorong Inovasi Pertanian Wringinsongo Melalui Alat Penabur Pupuk dan Briket Bonggol Jagung

21
×

KKN MAS Kelompok 98 Dorong Inovasi Pertanian Wringinsongo Melalui Alat Penabur Pupuk dan Briket Bonggol Jagung

Sebarkan artikel ini
Kelompok 98 Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah 'Aisyiyah (KKN MAS) 2026 Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (20/8/2026). FOTO/*

posaceh.com, Malang –  Kelompok 98 Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah ‘Aisyiyah (KKN MAS) 2026 mendorong inovasi di sektor pertanian Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Melalui dua program kerja, yakni pembuatan alat penabur pupuk dan pembuatan briket bioenergi dari limbah bonggol jagung.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis (20/8/2026) mulai pukul 15.30 WIB di Balai Desa Wringinsongo dan melibatkan kelompok tani dari Dusun Nongkosongo dan Dusun Sumberingin.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan melibatkan para anggota kelompok tani dalam praktik penggunaan alat penabur pupuk serta pembuatan briket dari bonggol jagung.

Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Sejumlah petani turut mencoba merakit dan menggunakan alat penabur pupuk yang diperkenalkan mahasiswa KKN MAS.

Sementara itu, peserta lainnya mengikuti praktik pembuatan briket dari bonggol jagung dengan pendampingan mahasiswa.

Ketua Kelompok KKN MAS 98, Gibran El Ghifari, mengatakan bahwa kedua program tersebut dipilih berdasarkan potensi dan kebutuhan masyarakat Desa Wringinsongo yang berkaitan erat dengan sektor pertanian.

“Kelompok 98 memilih kedua program tersebut karena melihat potensi dan kebutuhan masyarakat Desa Wringinsongo yang berkaitan dengan sektor pertanian,” ujar Gibran.

Menurutnya, pembuatan alat penabur pupuk dilatarbelakangi kebutuhan petani akan alat sederhana yang dapat membuat proses pemupukan lebih praktis, efisien, dan tidak terlalu bergantung pada tenaga manual.

Alat tersebut diharapkan dapat membantu petani melakukan pemupukan dengan lebih mudah, cepat, dan merata sekaligus mengurangi beban tenaga kerja.

Hal tersebut mendapat tanggapan positif dari anggota kelompok tani. Khoirul Anwar, salah satu anggota kelompok tani, menilai alat penabur pupuk dapat menjadi alternatif yang membantu petani dalam proses pemupukan.

“Saya kira cukup membantu dari semua bahan praktik yang ada itu. Untuk yang paling, karena mungkin sementara ini petani sangat berminat itu alat penabur pupuk. Soalnya di samping nggak terlalu capek, presisi juga,” kata Khoirul.

Selain alat penabur pupuk, KKN MAS Kelompok 98 juga memperkenalkan pemanfaatan bonggol jagung sebagai bahan dasar briket bioenergi.

Program ini berangkat dari adanya limbah pertanian yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Melalui pengolahan tersebut, bonggol jagung yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat memiliki nilai guna sebagai bahan bakar alternatif.

Ketua Kelompok Tani Sejahtera 1, Supri Yanto, mengapresiasi pelatihan pembuatan briket yang diberikan oleh mahasiswa KKN MAS.

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi kelompok tani sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah pertanian.

“Sangat terima kasih sekali untuk menjadikan ilmu buat kelompok tani, petani kami yang ada di Sejahtera 1 ini. Mudah-mudahan bermanfaat selamanya,” ujar Supri Yanto.

Ia juga menilai inovasi tersebut dapat menjadi langkah positif bagi kemajuan petani, terutama dalam memanfaatkan limbah pertanian dan mengurangi pekerjaan yang selama ini masih dilakukan secara manual. Supri berharap pelatihan yang diberikan dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dari sisi pemerintah desa, inovasi yang diperkenalkan KKN MAS Kelompok 98 juga dinilai memiliki manfaat bagi petani. Kepala Dusun Nongkosongo, Budi Utomo mengatakan penggunaan alat penabur pupuk berpotensi membuat proses pemupukan lebih efisien dan merata dibandingkan metode penaburan secara manual.

“Untuk alat pemupukan ini mungkin sangat berguna sekali. Selama ini petani menggunakannya secara manual dengan cara ditabur. Mungkin dengan alat ini bisa lebih efisien waktu, juga pemupukannya lebih merata,” ujar Budi Utomo.

Budi juga berharap program kerja mahasiswa KKN MAS dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Wringinsongo. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa secara langsung di tengah masyarakat tidak hanya memberikan manfaat bagi desa, tetapi juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa dalam memahami kebutuhan masyarakat.

Melalui dua inovasi tersebut, KKN MAS Kelompok 98 berharap program yang telah diperkenalkan dapat terus dimanfaatkan oleh kelompok tani setelah kegiatan KKN berakhir.

Pemanfaatan teknologi sederhana dalam proses pemupukan serta pengolahan limbah bonggol jagung menjadi briket diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mengoptimalkan potensi pertanian Desa Wringinsongo sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih produktif.(Muh/*)