News

Direktur RSUDZA: Pemulihan Pasokan Obat dan Penyelesaian Kewajiban Vendor Jadi Prioritas

11
×

Direktur RSUDZA: Pemulihan Pasokan Obat dan Penyelesaian Kewajiban Vendor Jadi Prioritas

Sebarkan artikel ini
Direktur RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Dr. Muhazar, S.KM., M.Kes FOTO/ DOK MPA

posaceh.com, Banda Aceh – Direktur RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Dr. Muhazar, S.KM., M.Kes, menegaskan bahwa pemulihan pasokan obat dan penyelesaian kewajiban kepada seluruh vendor menjadi prioritas utama manajemen rumah sakit. Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama para penyedia obat yang membahas kondisi pasokan, mekanisme pembayaran, dan langkah percepatan perbaikan tata kelola administrasi guna memastikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tetap berjalan optimal, di ruang rapat RSUDZA, Selasa (28/7/2026).

Dr Muhazar menjelaskan, kekosongan sebagian obat yang masih terjadi dipengaruhi belum optimalnya pasokan dari sejumlah vendor sebagai dampak keterlambatan pembayaran kewajiban rumah sakit pada tahun 2025. “Meski menghadapi keterbatasan keuangan, manajemen terus berupaya menormalkan ketersediaan obat melalui komunikasi intensif dengan seluruh vendor agar distribusi kembali stabil dan kebutuhan pelayanan pasien dapat terpenuhi,” ujarnya.

Menurut Dr. Muhazar, pembayaran kepada vendor tetap dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan keuangan rumah sakit dan mekanisme yang berlaku. Penurunan nilai klaim pelayanan dalam beberapa waktu terakhir turut memengaruhi kemampuan pembayaran secara menyeluruh. “Kami RSUDZA berkomitmen menyelesaikan seluruh kewajiban dan akan mengupayakan dukungan anggaran Pemerintah Aceh pada tahun 2026 untuk mempercepat pelunasan utang serta memperkuat kembali pasokan obat,” tuturnya.

Dalam pertemuan tersebut, para vendor menyampaikan bahwa keterlambatan pembayaran berdampak pada kemampuan mereka memenuhi pesanan karena juga memiliki kewajiban kepada pabrikan dengan jangka waktu pembayaran tertentu. Menindaklanjuti hal itu, manajemen RSUDZA akan mempercepat pembenahan administrasi, mempercepat proses verifikasi dokumen, serta menyusun pola pembayaran yang lebih terukur, transparan, dan memberikan kepastian bagi seluruh mitra penyedia obat.

“Hubungan rumah sakit dengan vendor harus dibangun atas dasar kepercayaan, komunikasi yang baik, dan komitmen bersama menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan. Fokus utama kami adalah memastikan pasien tetap memperoleh pelayanan terbaik. Karena itu, kami akan terus memperbaiki tata kelola keuangan dan administrasi agar pasokan obat kembali normal dan pelayanan kepada masyarakat Aceh semakin optimal,” demikian Dr. Muhazar.(Mar)