Daerah

Berburu Raja Buah di Lamno, Tradisi Musim Durian yang Selalu Dirindukan

22
×

Berburu Raja Buah di Lamno, Tradisi Musim Durian yang Selalu Dirindukan

Sebarkan artikel ini
Para penikmat durian menikmati buah durian segar di kawasan Lamno, Aceh Jaya, Kamis (16/7/2026) FOTO/ ABRAR

posaceh.com, Calang – Musim durian selalu menghadirkan cerita tersendiri di Aceh. Saat aroma khas sang raja buah mulai semerbak di sepanjang jalan, masyarakat dari berbagai kalangan rela menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan durian terbaik. Dari Lhoong di Aceh Besar, Lamno dan Patek di Aceh Jaya, hingga kawasan Tangse di Kabupaten Pidie, musim durian telah menjelma menjadi tradisi tahunan yang dinanti.

Perjalanan kali ini penulis membawa langkah menuju Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, Kamis (16/7/2026). Semula, tujuan kami adalah menikmati durian langsung di kebun milik warga. Namun, informasi yang beredar menyebutkan sebagian buah yang baru dipanen memiliki rasa yang cenderung tawar akibat faktor cuaca. Akhirnya, pilihan beralih ke lapak-lapak sederhana di sepanjang Jalan Lintas Barat Selatan Aceh yang dipenuhi tumpukan durian hasil panen petani.

Suasana di sepanjang jalan begitu hidup. Para pedagang dengan ramah menawarkan buah yang baru saja dipetik. Tumpukan durian tersusun rapi, sementara aroma khasnya memenuhi udara. Tidak sedikit wisatawan yang berhenti sejenak, memilih buah, lalu menikmatinya bersama keluarga di lokasi atau membawanya ke kawasan Pantai Calang yang hanya berjarak beberapa menit dari pusat penjualan.

Durian Lamno memiliki tempat istimewa di hati para pecintanya. Tekstur daging buahnya dikenal tebal, lembut, dan berminyak dengan cita rasa manis legit yang berpadu sedikit sentuhan asam. Aroma yang kuat justru menjadi daya tarik utama yang membuat banyak penikmat durian rela datang langsung ke daerah asalnya.

Puncak panen biasanya berlangsung pada Juni hingga Juli. Pada masa itu, pohon-pohon durian milik warga dipenuhi buah yang bergelantungan. Di kebun-kebun masyarakat, satu batang pohon dapat menghasilkan puluhan hingga ratusan buah, menjadi berkah tersendiri bagi para petani sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Para penikmat durian memilih dan memilah buah durian durian segar di kawasan Lamno, Aceh Jaya, Kamis (16/7/2026)
FOTO/ ABRAR

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau. Satu buah durian dijual sekitar Rp20.000 hingga Rp40.000, bergantung pada ukuran dan kualitasnya. Tidak jarang pedagang memberikan penawaran menarik, seperti empat buah seharga sekitar Rp100.000, sehingga pengunjung bisa menikmati lebih banyak dengan harga yang lebih hemat.

Di Aceh, menikmati durian memiliki cara tersendiri. Banyak orang memilih menyantapnya bersama pulut atau ketan putih hangat yang disiram santan. Perpaduan rasa gurih pulut dan manisnya durian menghadirkan pengalaman kuliner yang sulit dilupakan.

Musim durian juga menghadirkan pemandangan khas lainnya. Di hampir setiap lapak durian, manggis selalu ikut dijual. Masyarakat meyakini buah manggis dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman setelah mengonsumsi durian. Selain itu, terdapat pula tradisi lisan yang telah diwariskan turun-temurun. Konon, meminum air yang dituangkan ke dalam cangkang kulit durian dipercaya mampu mengurangi aroma durian yang tertinggal di mulut dan tubuh. Meski belum terbukti secara ilmiah, kebiasaan ini masih banyak dilakukan hingga sekarang sebagai bagian dari kearifan lokal.

Bagi yang tidak sempat datang ke Lamno, durian asal Aceh Jaya juga mudah ditemukan di berbagai lapak musiman di sepanjang jalur Banda Aceh–Calang hingga kawasan Kota Banda Aceh, seperti Sp BPKP, Lamnyong dan Peunayong. Namun, bagi sebagian orang, sensasi menikmati durian di daerah asalnya tetap memiliki nilai yang berbeda. Udara yang sejuk, pemandangan pegunungan, dan suara ombak pantai menjadi pelengkap yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.
Lamno sendiri menyimpan pesona yang lebih luas daripada sekadar durian. Daerah yang pernah dikenal karena kisah masyarakat bermata biru ini memiliki tanah yang sangat subur. Sejarah mencatat kawasan yang dahulu dikenal sebagai Meureuhom Daya pernah menjadi tempat persinggahan bangsa Portugis berabad-abad silam. Kesuburan alamnya hingga kini masih menjadi sumber kehidupan masyarakat, menghasilkan beragam komoditas perkebunan, termasuk durian yang menjadi kebanggaan daerah.

Ketika musim panen tiba, Lamno tidak hanya menawarkan buah, tetapi juga menghadirkan pengalaman. Aroma durian yang memenuhi udara, keramahan para pedagang, hamparan kebun yang menghijau, hingga kebersamaan keluarga menikmati raja buah di tepi pantai menjadikan perjalanan ke Aceh Jaya lebih dari sekadar wisata kuliner. Ia adalah perjumpaan dengan tradisi, alam, dan kehidupan masyarakat yang terus menjaga warisan rasa dari generasi ke generasi. (Abrar)