Banghas

Jejak Terakhir Pawang Harimau dari Ulu Masen

41
×

Jejak Terakhir Pawang Harimau dari Ulu Masen

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pertempuran paling mematikan ketika marsose menyerang Petua Gam Masen di Gunung Singgah Mata (Ai)

Kematian, bagi orang Aceh dalam masa perang, bukan sekadar akhir—melainkan garis takdir yang dijalani dengan keberanian. Begitulah kiranya kisah yang menutup riwayat seorang tokoh yang namanya bergaung dari pesisir hingga pedalaman: Peutua Gam Masen.

Awal tahun 1910, ketika Perang Aceh belum juga mereda, pemerintah kolonial Belanda meningkatkan tekanan di wilayah pedalaman. Pada 28 Februari 1910, seorang komandan Marsose bernama Schmidt menerima perintah langsung dari Gubernur Jenderal di Kutaraja. Targetnya jelas: Tangse. Daerah yang dikenal keras, liar, dan menjadi basis para pejuang yang tak mudah ditaklukkan.

Di antara nama-nama yang diburu, terselip satu sosok yang tak biasa. Ia bukan sekadar pemimpin gerombolan, tetapi juga tokoh yang diselimuti aura mistis—Peutua Gam Masen. Ia berasal dari Masen, yang kini merupakan salah satu gampong di Kecamatan Darul Hikmah, Kabupaten Aceh Jaya. Dari wilayah pesisir barat itulah pengaruhnya tumbuh dan menyebar. Ia dikenal sebagai guru ilmu kebal sekaligus pawang harimau.

Pada 23 April 1910, dua brigade pasukan Marsose bergerak dari Tangse. Mereka membawa perbekalan untuk delapan hari, dengan empat hari di antaranya diperkirakan akan dihabiskan dalam pertempuran. Namun, medan yang dihadapi jauh lebih berat dari rencana di atas kertas.

Pasukan harus memanjat tebing-tebing batu di hulu Sungai Ulee Labu, lalu menuruni lereng curam yang nyaris tegak lurus. Saat senja tiba, mereka terjebak di antara air terjun dan dinding batu. Tak ada jalan maju, tak ada jalan mundur. Malam itu mereka bermalam di atas batu-batu besar, tanpa api, tanpa makanan hangat, hanya dingin yang menggigit tulang.

Perjalanan berlanjut dengan susah payah. Selama berjam-jam mereka merangkak, menebas rimbunnya hutan pegunungan, mencari jejak yang tak pasti. Hari demi hari berlalu, hingga perbekalan habis pada 1 Mei. Namun patroli tetap berjalan—antara tekad dan kecurigaan: apakah pemandu mereka benar menunjukkan jalan, atau justru menyesatkan?

Harapan muncul pada 2 Mei, ketika mereka menyusuri Krueng Seukuleh. Sang pemandu tiba-tiba mengenali jalur menuju ladang milik Peutua Gam Masen. Lebih dari itu, tampak jejak kaki baru—tanda kehidupan yang sedang mereka buru.

Dengan hati-hati, pasukan menyeberangi sungai melalui jembatan rotan yang rapuh. Mereka bergerak senyap, menyusup di balik hutan. Dari kejauhan, terlihat sebuah ladang sederhana. Di sana, dua perempuan dan seorang lelaki sedang mencabut ketela.

Enam orang Marsose dipilih untuk mengendap dan mengepung. Waktu terasa lambat—hampir satu jam mereka merayap tanpa suara, menjaga agar ranting patah pun tak mengkhianati posisi.

Ketika serangan akhirnya dilakukan, semuanya terjadi dalam sekejap.

Lelaki di ladang itu bukan orang biasa. Bertubuh besar, berjenggot hitam, dan bersenjata rencong, ia tidak memilih menyerah. Tanpa ragu, ia menerjang dua serdadu di depan. Tembakan karabin meletus, peluru menghantam tubuhnya. Namun ia tetap bergerak, seolah tak gentar oleh luka.

Hingga akhirnya, sebuah tebasan kelewang merobohkannya.

Perlawanan itu berhenti di sana. Salah satu perempuan berhasil melarikan diri—ia adalah istrinya. Seorang lagi, putrinya, sempat tertangkap sebelum akhirnya dikembalikan.

Dan lelaki yang gugur itu, tak lain adalah Peutua Gam Masen.

Begitulah akhir kisah sang “Pawang Harimau”. Ia tidak jatuh dalam pelarian, tidak pula dalam persembunyian, tetapi di ladang sederhana—tempat kehidupan berlangsung, dan kematian menjemput dengan cara yang paling sunyi.

Namun seperti banyak kisah dalam Perang Aceh, kematian bukanlah penutup. Nama Peutua Gam Masen tetap hidup dalam ingatan kolektif—sebagai simbol keberanian, keyakinan, dan perlawanan yang tak pernah benar-benar padam. Kini, seolah menjadi gema dari masa lalu itu, nama Masen tetap terpatri dalam bentang alam Aceh melalui Kawasan Ekosistem Ulu Masen, salah satu kawasan hutan konservasi terbesar dan terpenting di Pulau Sumatra. Meski tidak ada catatan yang secara langsung menghubungkan nama kawasan tersebut dengan sosok Peutua Gam Masen, keberadaan nama “Masen” yang terus hidup hingga hari ini seakan menjadi pengingat bahwa tanah Aceh menyimpan banyak jejak sejarah yang tidak selalu tertulis dalam batu nisan, tetapi tetap bertahan dalam nama tempat, cerita rakyat, dan ingatan masyarakat dari generasi ke generasi. (Hasnanda Putra)