Nasional

DEN Lapor ke Presiden: Fundamental Ekonomi Jauh dari Krisis 98, Tapi

38
×

DEN Lapor ke Presiden: Fundamental Ekonomi Jauh dari Krisis 98, Tapi

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Subianto menerima Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan beserta jajaran di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/6/2026). FOTO/Dok. BPMI Sekretariat Presiden

posaceh.com, Jakarta – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyampaikan laporan mengenai kondisi fundamental ekonomi Indonesia terkini kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan kemarin, Selasa (9/6/2026).

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mochamad Firman Hidayat mengklaim bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih kuat dibandingkan saat krisis 1998.

“Kami dari Dewan Ekonomi Nasional memang menyampaikan kepada Bapak Presiden terkait dengan situasi ekonomi sekarang ya. Mungkin yang pertama yang kami sampaikan, kami sampaikan kepada Bapak Presiden bahwa fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang baik gitu ya,” kata Firman.

“Bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998. Selain dari indikator-indikator makro seperti pertumbuhan yang masih tinggi, inflasi yang masih stabil, salah satu yang kami highlight adalah neraca korporasi yang dalam posisi yang sangat sehat,” tegasnya.

Namun demikian, dia menilai pemerintah perlu mewaspadai adanya ketidakpastian ekonomi global. Menurut kajian DEN, dampak perang ini sepertinya lebih tinggi, lebih lama dari perkiraan awal DEN.

Lalu, DEN menyampaikan mengenai faktor pelemahan rupiah yang perlu diwaspadai pemerintah. Pelemahan rupiah yang dibarengi oleh kenaikan harga energi global berisiko memicu kenaikan harga-harga barang. Hal ini akan mengerek kenaikan inflasi.

“Dampak perang ini kenaikan harga energi global dan kemudian pelemahan rupiah ini bisa berdampak kepada kenaikan biaya produksi dan distribusi,” katanya.

Dia pun memaparkan data Indeks Harga Konsumen yang inflasinya masih berkisar 3%, sementara Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) yang menghitung biaya produksi barang, inflasinya telah mencapai 5%-7%.

“Dan ini yang perlu diantisipasi nanti di semester kedua, tapi saya kira pemerintah sudah mempersiapkan langkah-langkahnya,” tegasnya.(Muh/*)