Nasional

Dolar Tembus Rp 18.000, Pengusaha Efisiensi & Stop Buka Lowongan Kerja

26
×

Dolar Tembus Rp 18.000, Pengusaha Efisiensi & Stop Buka Lowongan Kerja

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). FOTO/CNBC Indonesia

posaceh.com, Jakarta- Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar menembus ke level Rp 18.000/U$, pada perdagangan pagi ini, Kamis (4/6/2026).

Pengusaha mulai mengambil ancang-ancang untuk melakukan efisiensi hingga berhenti sementara untuk merekrut pegawai baru atau hiring freeze.

Shinta menjelaskan bahwa dunia usaha telah menghadapi tekanan nilai tukar secara bertahap dalam beberapa bulan terakhir.

Hingga dampaknya pada sektor riil semakin terasa. Merespons kondisi ini, menurut Shinta, dunia usaha melakukan beberapa langkah mitigasi.

“Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, hiring freeze, pengendalian biaya non-esensial, penundaan ekspansi dan investasi baru, diversifikasi pasar, serta memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi hedging untuk mengelola risiko nilai tukar,” kata Shinta, kata Shinta, melalui pesan singkat, Kamis (4/6/2026).

Dia menjelaskan bagi dunia saat ini tantangannya berada pada dampak yang ditimbulkan seperti biaya produksi, pembiayaan, dan kepastian berusaha. Melihat ketergantungan bahan baku impor masih berada di kisaran 80%.

“Pelemahan Rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, mempersempit margin usaha, dan mengurangi ruang perusahaan untuk melakukan ekspansi,” katanya.

Tekanan ini terjadi pada sektor industri tekstil, kimia, dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, otomotif, serta berbagai sektor yang masih mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya.

Selain itu, kondisi ini juga semakin berat karena dunia usaha masih menghadapi biaya logistik, energi, serta biaya pembiayaan yang relatif tinggi.

Hal itu membuat pengusaha menghadapi tekanan berlapis atau externally driven cost pressure yang cukup signifikan.

Di sisi lain, menurut Shinta, aktivitas dunia usaha juga sudah terlihat mengalami penurunan optimisme. Data PMI Manufaktur kembali masuk ke zona kontraksi sejak Juli 2025 dan tren penurunan indeks kepercayaan industri menunjukkan bahwa sektor riil sedang menghadapi fase yang menantang.

“Apalagi pelemahan Rupiah saat ini jauh lebih dalam dibandingkan posisi pada kuartal pertama tahun ini, ketika sebagian (10 subsektor) manufaktur tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, dan 4 subsektor manufaktur diantaranya alami kontraksi,” tuturnya.

Melansir data Refinitiv, rupiah di pasar spot per pukul 09.11 WIB tercatat menembus level psikologis Rp18.000/US$ untuk pertama kalinya. Mata uang Garuda berada di posisi Rp18.015/US$ atau melemah 0,42%.

Pelemahan ini terjadi cukup cepat. Rupiah pertama kali menutup perdagangan di atas level psikologis Rp17.000/US$ pada 6 April 2026. Artinya, hanya dalam 59 hari kalender, rupiah kembali terdepresiasi sekitar Rp1.000/US$ hingga menembus Rp18.000/US$.(Muh/*)