posaceh.com, Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang untuk meningkatkan koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) imbas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup di posisi Rp17.957/US$ pada perdagangan Rabu (3/6/2026).
“Kalau ada [yang] kita bisa melihat ada koordinasi yang bisa ditingkatkan sehingga memperbaiki nilai tukar, kita akan melakukannya,” kata Purbaya ditemui di Kompleks Parlemen, Rabu (3/6/2026).
Bagaimanapun, Bendahara Negara tersebut mengatakan masalah menjaga rupiah merupakan wilayah kewenangan bank sentral. Sejauh ini, kata dia, KSSK masih melakukan rapat berkala secara normal.
“Sekarang itu masih dalam rahasia bank sentral kita. Kecuali bank sentral minta rapat cepat, ya kita akan rapat cepat. Kalau masalah nilai tukar, bank sentral adalah ahlinya. Kita serahkan ke bank sentral,” tuturnya.
Purbaya menyebut sejatinya KSSK setiap bulan mengadakan pertemuan untuk berdiskusi di tingkat deputi untuk memberikan masukan terhadap KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Isu Negatif
Di sisi lain, Purbaya menyebut pelemahan rupiah terjadi imbas rumor negatif di pasar. Dia menyebut bahkan terdapat isu bahwa Purbaya meminta perbankan untuk melakukan stress test jika rupiah menembus Rp18.000/US$. Padahal, dia tidak pernah menyatakan isu tersebut.
“Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah menjadi negatif. Tapi kalau kita lihat, kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi saja. Supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat,” ungkapnya.
“Karena pada akhirnya kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya. Jadi untuk saya fokusnya di situ.”
Rupiah semakin tidak bertaji terhadap dolar AS. Dalam penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah salah satu menjadi mata uang terlemah di kawasan Asia dengan depresiasi 0,62%.
Mata uang Tanah Air ditutup di posisi Rp17.957/US$. Ini merupakan rekor terlemah sepanjang sejarah Indonesia merdeka.
Pelemahan rupiah sejalan dengan mata uang kawasan yang hari ini bergerak di zona merah, yang dipicu oleh kenaikan harga minyak Brent hampir US$100 per barel, dan membawa indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama kembali bertahan tinggi di level 99.
Rupiah menempati posisi terlemah kedua setelah ringgit Malaysia, lalu disusul rupee India. Bahkan yuan offshore dan dolar Singapura yang selama ini cukup stabil ikut melemah dalam sesi perdagangan hari ini.
Namun, bagi rupiah tekanan eksternal yang datang dari kenaikan harga minyak mentah dunia, gangguan geopolitik, dan tingginya harga dolar AS, juga diperparah dengan kondisi domestik yang masih sarat dengan inkonsistensi kebijakan. (Muh/*)











