Banghas

Letnan De Bruun dan Sang Pengantin di Rumah Van Heutsz

28
×

Letnan De Bruun dan Sang Pengantin di Rumah Van Heutsz

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kisah tragis seorang opsir Belanda, De Bruun dalam Perang Aceh (Ai)

Di sebuah rumah dinas di sekitar area Keraton Kutaraja (Banda Aceh -sekarang), pakaian pengantin sudah dipesan dari Jawa. Seorang gadis Belanda menunggu hari bahagianya. Ia adalah putri seorang overste, sahabat dekat Joannes Benedictus van Heutsz, yang mati dalam operasi besar pertamanya di Aceh. Sang ayah sebelum tewas sempat melihat putrinya bertunangan dengan seorang opsir muda penuh masa depan: Letnan De Bruun.

H.C. Zentgraaff dalam buku Aceh melukiskan De Bruun sebagai seorang letnan harapan. Ia telah memperoleh Willemsorde, tanda jasa tertinggi militer Belanda. Tetapi sebagaimana banyak opsir muda di Aceh, keberanian tidak selalu sejalan dengan nasib baik. Uang tidak banyak dimilikinya. Untuk itulah Van Heutsz mengambil alih seluruh biaya pernikahan mereka. Sang calon pengantin bahkan tinggal di rumah jenderal itu.

Di antara Meulaboh dan Teunom, sekitar tahun 1904 perang masih berkobar. Gerilyawan Aceh terus bergerak di rimba, menyerang patroli, lalu menghilang. Operasi-operasi kecil berlangsung hampir setiap hari.

Ketika situasi di pesisir barat dianggap mulai terkendali, Van Heutsz bersiap kembali ke Kutaraja dengan “kapal putih”. Pernikahan De Bruun sudah dijadwalkan berlangsung hari Minggu, sehari setelah mereka tiba. Tetapi pada detik terakhir, datang kabar tentang sekelompok pasukan dipimpin seorang panglima sagoe. Informasi itu dianggap penting. Kesempatan memukul pejuang Aceh terlalu berharga untuk dilewatkan.

Di masa perang Aceh, operasi dadakan seperti itu biasa terjadi. Semangat ofensif yang ditanamkan Van Heutsz membuat para opsir mudanya nyaris tak pernah menolak tugas.

Dua brigade marsose kembali dijadikan ujung tombak. Komandannya: Letnan De Bruun.

Maka pernikahan itu ditunda seminggu lagi.

Pasukan bergerak masuk ke medan berat. Mereka melewati hutan belukar, lalu tiba di sebuah sungai kecil yang dalam. Sebatang pohon pinang dijadikan titian. Pasukan harus menyeberang satu demi satu. Di medan seperti itulah orang Aceh biasa memasang jebakan.

Seorang sersan bumiputra bersama beberapa marsose lebih dulu meniti batang pinang dan mengamankan seberang sungai. Semuanya tampak tenang. Tetapi ketenangan di Aceh sering kali hanya jeda sebelum maut datang.

Tiba-tiba meledak tembakan dari arah kanan.

Refleks pasukan menoleh ke sana. Pada saat itulah sekitar enam puluh pejuang Aceh menerjang dari kiri, keluar dari alang-alang setinggi manusia. Mereka rupanya sengaja memancing Kompeni masuk ke perangkap di tepi sungai itu.

Pertempuran berubah menjadi duel jarak dekat. Kelewang melawan karaben. Tubuh beradu di jalan sempit dekat titian. Pasukan yang masih berada di seberang sungai tidak bisa membantu dengan tembakan karena kawan dan lawan sudah bercampur.

Satu-satunya cara menolong adalah menyeberang sambil menghunus kelewang.

Para marsose melakukannya tanpa ragu. Mereka satu demi satu berlari di atas batang pinang menuju medan maut. Banyak yang roboh begitu tiba di seberang. Tetapi tidak seorang pun mundur.

Di sanalah De Bruun bertahan bersama anak buahnya.

Zentgraaff menulis, jarang sekali dalam sejarah perang Aceh sebuah pasukan dihancurkan hampir seluruhnya pada siang bolong. Letnan De Bruun tewas bersama sebelas serdadu lain. Delapan lainnya luka berat. Di pihak Aceh pun banyak korban berjatuhan, tetapi para pejuang berhasil membawa pergi sebagian senjata rampasan.

Kapal yang mestinya membawa De Bruun pulang untuk menikah kini justru mengangkut jenazahnya menuju Ulee Lheue. Dari pelabuhan itu ia tidak menuju pelaminan, melainkan ke Kerkhof Peutjoet.

Kabar kematiannya mula-mula diterima secara kacau. Ada istri opsir lain yang mengira suaminyalah yang tewas ketika melihat kapal datang dengan bendera setengah tiang. Setelah diketahui korban sebenarnya adalah De Bruun, suasana rumah Van Heutsz berubah muram.

Kini tugas paling berat jatuh kepada sang jenderal sendiri.

Di dalam rumah itu, calon pengantin De Bruun masih berada dekat pakaian pengantinnya, mungkin sedang membayangkan hidup baru yang akan dimulai beberapa hari lagi. Van Heutsz harus masuk ke kamarnya dan mengatakan bahwa tunangannya memang telah tiba dari pesisir barat — tetapi sebagai jenazah.

Bertahun-tahun kemudian, Van Heutsz mengakui, itulah tugas paling menyakitkan yang pernah dilakukannya sepanjang perang Aceh. Sebuah perang yang bukan hanya menelan ribuan nyawa, tetapi juga menghancurkan mimpi-mimpi kecil yang nyaris tiba di depan pintu bahagia.
(Hasnanda Putra)