Opini

Organisasi adalah Jalan, Bukan Tujuan

34
×

Organisasi adalah Jalan, Bukan Tujuan

Sebarkan artikel ini
Muhammad Ikram (Foto: Dok. PMII UIN Ar-Raniry)

Oleh Muhammad Ikram*

Di beberapa kegiatan, seperti pada aksi 4 pulau dari aliansi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Aceh menunjuk saya sebagai koordinator aksi. Selanjutnya pada demo RUU TNI saya dipilih sebagai korlap aksi dari gabungan Cipayung plus se-Kota Banda Aceh.

Kemudian saya menginisiasi Komisariat PMII UIN Ar-Raniry yang saya pimpin untuk melaksanakan penggalangan dana untuk disalurkan kepada korban bencana banjir dan longsor yang terjadi di sejumlah kabupaten/kota yang ada di provinsi Aceh.

Selanjutnya saya bentuk tim relawan PMII UIN Ar-Raniry selama 25 hari dan saya juga dipilih sebagai ketua relawan pada Desa Rhing Krueng, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Inisiasi relawan ini adalah sebagai implementasi nyata dan langsung untuk bakti sosial PMII UIN Ar-Raniry kepada masyarakat.

Selanjutnya diskusi-diskusi, bedah buku Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936), kaderisasi formal, dan pelatihan-pelatihan skill maupun softskill yang sudah kami buat. Dan saya ingin menyampaikan di dalam tulisan ini bahwa pikiranku organisasi adalah jalan tapi bukan tujuan.

Satu kegiatan sosial dan pengabdian kepada masyarakat yang dilancarkan PMII Aceh. (Foto: Dok. PMII UIN Ar-Raniry)

Organisasi adalah Kendaraan

Organisasi adalah kendaraan, ia menjadi alat untuk menyalurkan gagasan, energi, dan semangat perjuangan. Menjadikan organisasi sebagai tujuan akhir justru akan mengkerdilkan makna keberadaannya. Organisasi harus dipandang sebagai sarana untuk mencapai cita-cita besar, bukan sebagai ruang yang membatasi.

Tujuan sejati seorang organisatoris adalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Organisasi hanya menyediakan ruang untuk belajar, berlatih, dan mengasah diri agar mampu menghadapi tantangan kehidupan nyata. Jika organisasi dijadikan tujuan, maka orang yang berada di dalamnya akan berhenti berkembang dan terbatas pada strukturalnya saja.

Bahaya besar muncul ketika organisasi dijadikan tujuan. Fanatisme buta akan lahir, membuat anggota sibuk mempertahankan simbol dan nama, tetapi lupa pada nilai dan substansi. Akibatnya, organisasi kehilangan relevansi dan menjadi rutinitas tanpa makna.

Organisasi adalah laboratorium nilai. Di organisasi kita belajar tentang kepemimpinan, solidaritas, keberanian, dan pengabdian. Semua itu bukan untuk kepentingan organisasi semata, melainkan untuk peningkatan kualitas pribadi tangguh, kuat, serta menjadi bekal mengabdi kepada masyarakat dan bangsa.

Struktur organisasi ibarat kerangka bangunan. Ia penting, tetapi bukan inti. Yang lebih penting adalah nilai yang dihidupi oleh anggotanya. Tanpa nilai, struktur hanyalah bangunan kosong yang tidak memberi manfaat. Maka, fokus kita harus pada internalisasi nilai, bukan sekadar mempertahankan struktur.

Organisasi memberi jalan untuk mengabdi. Ia membuka kesempatan untuk berbuat, berkontribusi, dan menebar manfaat. Jalan itu bisa berbeda-beda, tetapi tujuannya sama: kemaslahatan umat dan bangsa. Organisasi yang hidup adalah organisasi yang memberi ruang bagi pengabdian nyata.

Kekuatan organisasi terletak pada kaderisasi. Proses membentuk kader adalah inti dari perjalanan organisasi. Jika organisasi dijadikan tujuan, kaderisasi akan mandek. Tetapi jika organisasi dipandang sebagai jalan, kaderisasi akan terus hidup dan berkembang, melahirkan generasi yang siap memimpin.

Organisasi tidak boleh terjebak menjadi menara gading yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Ia harus terbuka, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Organisasi yang menutup diri akan kehilangan relevansi dan mati perlahan. Organisasi harus hadir di tengah masyarakat, bukan menjauh darinya.

Jalan Menuju Perubahan

Organisasi adalah jalan menuju perubahan. Ia menjadi medium untuk memperjuangkan keadilan, menegakkan kebenaran. Tanpa orientasi perubahan, organisasi hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna. Organisasi harus menjadi motor penggerak, bukan sekadar wadah formalitas.

Maka oleh sebab itu organisasi bukanlah tujuan, melainkan jalan. Tujuan kita adalah manusia yang berdaya, kuat serta utuh secara intelektual ideologinya, berani dan kokoh atas kebenaran bukan keburukan yang diselimuti oleh kata kebenaran, organisasi hanyalah kendaraan yang mengantarkan kita ke sana.

Jangan berhenti pada kendaraan, dan teruslah melaju menuju cita-cita. Organisasi yang hidup adalah organisasi yang terus bergerak, bukan yang berhenti!

* Muhammad Ikram, Ketua Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Ar-Raniry Banda Aceh.