NewsOlahraga

KONI Aceh dan Pengprov Ingin PORA Digelar 2026

24
×

KONI Aceh dan Pengprov Ingin PORA Digelar 2026

Sebarkan artikel ini
Pengurus KONI Aceh, Pengprov dan Sekda, M Nasir Syamaun (kemeja putih paling tengah depan) berpose bersama usai pembukaan Rakerprov KONI Aceh. Foto : Ist.

posaceh.com,Banda Aceh – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh selaku induk dan pembina prestasi cabang olahraga di Aceh dan Pengurus Provinsi (Pengprov) Cabang Olahraga berharap agar pelaksanaan PORA ke-15 di Aceh Jaya, sesuai skedul atau Noppember tahun 2026.

“Ini semata mata untuk kesinambungan penjenjangan karir dan prestasi atlet dalam meniti event yang juga secara berjenjang,” kata Saiful Bahri atau Pon Yaya, Ketua Umum KONI Aceh, Jumat (08/05/2026) pada rapat kerja provinsi (Rakerprov).

Pon Yaya mengungkapkan ‘suara hati’ KONI Aceh itu, saat memberikan sambutan dalam ajang Rakerprov KONI Aceh di Hotel Grand Naggroe.

Menurutnya, pelaksanaan PORA tahun 2026 dirasakan sebagai sebuah keniscayaan, untuk menghindari terjadinya perekrutan atlet mewakili daerah secara unfair, atau main comot, tanpa melalui jenjang kejuaraan atau adu prestasi.

“Saya berharap Rakerprov kali ini membahas masalah PORA itu secara lebih intens dan mengeluarkan rekomendasi yang juga mewakili suara mayoritas,” kata Pon Yaya.

Ditambahkan, kehendak penyelenggaraan PORA ke-15 di tahun 2026 sesuai rencana itu juga datang dari mayoritas Pengprov selaku pemilik dan pembina atlet secara langsung.

“Mereka menyatakan tahun 2027 adalah persiapan puncak atlet Aceh menuju Pra PON, Porwil untuk kepastian menatap[ PON 2028 NTB/NTT. Jadi kita hanya menampung aspirasi dan masukan dari teman teman Pengprov,” tandas Pon Yaya yang disambut tepuk tangan floor Rakerprov.

Ketum KONI Aceh itu juga menegaskan komitmennya dalam memperkuat pembinaan atlet guna menghadapi agenda besar olahraga nasional, khususnya Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

Menurutnya, seluruh potensi harus dimaksimalkan sejak dini agar mampu bersaing di tingkat nasional. “Seluruh kekuatan harus kita maksimalkan. Pembinaan terus berjalan, termasuk melalui program latihan atlet muda dan pelajar hasil seleksi dari berbagai kejuaraan,” ujarnya.

Pon Yaya juga mengajak seluruh pengurus cabang olahraga untuk bekerja lebih maksimal, dengan memastikan setiap program berjalan terarah dan terukur. “Kita harus memastikan setiap tahapan berjalan baik agar hasilnya maksimal sesuai harapan masyarakat dan pemerintah,” tegasnya.

Ia turut menyoroti pentingnya dukungan anggaran dari pemerintah dalam menunjang keberhasilan pembinaan, terutama menjelang Pra-PON 2027 dan PON 2028. “Dukungan tersebut menjadi faktor penentu dalam meningkatkan prestasi olahraga Aceh secara berkelanjutan,” ujarnya.

Desak di 2026

Sementara itu, Jajarann pengurus provinsi Pengprov Cabor peserta Pekan Olahraga Aceh (PORA) ke-15 di Aceh Jaya mendesak semua stake holder terkait olahraga di Aceh, untuk melaksanakan PORA XV tersebut di tahun 2026.

Karena jika dilaksanakan tahun 2027, arena multi event bergengsi di Aceh tersebut, terancam hanya menjadi ajang reuni atlet dan pelaku olahraga di Aceh. Karena tak ada lagi target yang ingin dicapai dari event dimaksud.

Hal itu terungkap dari pernyataan terbuka para Ketua Pengprov yang dihubungi awak media, Jumat (08/05/2026) siang ini. Para ketua Pengprov itu sepakat bahwa PORA adalah sebuah proses penjenjangan karir prestasi atlet secara sportif dan jauh dari upaya unfair. Dengan kata lain, PORA adalah penjenjangan prestasi untuk menapak Pra PON, Porwil hingga PON.

“Tanpa penjenjangan seperti itu, akan muncul reaksi keras dari semua lini, dalam pembentukan atlet atau kontingen untuk event yang lebih tinggi. Tentu hal seperti itu sangat tidak kita inginkan,” kata Drs HT Rayuan Sukma, Ketua Pengprov PABSI serta juga Plt Ketua Muaythai Aceh.

“Kita rekrut atlet tanpa melalui event berjenjang secara resmi, itu sama dengan menafikan prestasi atlet yang telah berdarah-darah dalam menjalani Latihan. Jelas ini sangat tidak kita harapkan,” kata Ketua Umum Pengprov PASI Aceh, Drs Bahtiar Hasan, M.Pd.

Di bagian lain Ketua Pengprov Korfbal Aceh, Dr Mansur MKes mengingatkan, pelaksanaan PORA ke-15 tak boleh dipandang sebagai agenda rutin, akan tetapi juga instrumen strategis dalam menjaga kesinambungan pembinaan olahraga prestasi di Tanah Rencong. “Jika dilaksakan PORA ke-15 Aceh Jaya di tahun 2027, jelas kesinambungan prestasi dan penjenjangan secara regulative tak terlaksana atau putus di tengah jalan. Karena itu PORA XV memang harus dilaksanakan di tahun 2026,” demikian Dr Mansur.

Hal senada juga dikatakan oleh Ketua Pengprov FORKI Aceh, Sulaiman SE yang dihubungi secara terpisah. Menurutnya, adalah hal yang sangat naif jika PORA Aceh Jaya dilaksanakan tahun 2027.

Karena itu sama saja mengundang perdebatan yang tak berujung dalam menentukan atlet ke jenjang multi event yang lebih tinggi.

“Catat, kami tak mau ambil risiko dengan kebijakan pelaksanaan PORA tahun 2027. Kami berharap KONI Aceh selaku induk organisasi olahraga di Aceh dapat mencari solusi yang konstruktif, demi keberlangsungan pembinaan olahraga prestasi di Aceh,” kata Sulaiman.

Semrentara Ketua Harian Pengprov Tarung Derajat Aceh, Yanyan Rahmat yang dihubungi secara terpisah mengatakan, pelaksanaan PORA ke-15 di tahun 2026 adalah sebuah keniscayaan. Karena itu juga amanah dari Musorprovlub KONI Aceh tahun 2025.

“Jadi itu rasanya tak bisa ditawar lagi, selain itu tahun 2026 adalah puncak pembinaan dan seleksi atlet Aceh. Karena tahun 2027 kita sudah masuk zona Pra PON dan Porwil untuk menuju PON 2028 di NTB/NTT,” kata pria yang biasa disapa Kang Yayan itu.

Sebaiknya 2027

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) M Nasir Syamaun, mengatakan PORA sebaik dilaksanakan 2027, karena saat ini ada enam kabupaten yang masih kesulitan terkena bencana hidrometeorologi pada November 2025, perlu recovery atau pemulihan setahun.

“Karena itulah perlu dipertimbangkan dengan matang tentang pelaksanaan PORA,” Kata M Nasir ketika membuka Rakerprov KONI Aceh seraya berharap Raker bisa menghasilkan rekomendasi yang rasional. (Sdm).