Banghas

Cahaya Syawal di Serambi Mekah

199
×

Cahaya Syawal di Serambi Mekah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi perayaan zaman kesultanan Aceh

Pagi itu, langit di atas Banda Aceh masih berbalut sisa kabut laut. Angin dari Selat Malaka berembus perlahan, membawa aroma asin yang bercampur dengan wangi kayu gaharu dari halaman istana. Hari itu bukan hari biasa—itulah 1 Syawal, hari kemenangan setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga.

Di halaman besar Masjid Raya Baiturrahman—yang pada masa awalnya telah menjadi pusat ibadah kerajaan—orang-orang mulai berdatangan. Para uleebalang mengenakan pakaian terbaik, ulama berjalan tenang dengan sorban putih, dan rakyat jelata datang berbondong-bondong, membawa harapan dan kegembiraan yang sama.

Di antara mereka, kabar berembus pelan: Sultan akan hadir.

Tak lama kemudian, rombongan istana tampak. Di bawah naungan payung kebesaran, hadir sosok yang disegani sekaligus dicintai: Sultan Iskandar Muda. Ia bukan sekadar penguasa, tetapi penjaga agama, pelindung rakyat, dan simbol kejayaan Aceh Darussalam.

Salat Id pun dimulai. Dalam saf yang rapat, tak ada perbedaan antara bangsawan dan rakyat biasa. Semua tunduk dalam satu kiblat, satu takbir, satu harapan.

Istana yang Terbuka

Usai salat, gerbang istana tidak tertutup—justru terbuka lebar. Hari itu bukan hari untuk menjaga jarak kekuasaan, melainkan hari untuk mendekatkan hati.

Rakyat diizinkan masuk ke halaman istana. Mereka bersalaman, sebagian mencium tangan sultan, sebagian lagi hanya menunduk penuh hormat. Dalam tradisi ini, kekuasaan tidak tampak menakutkan—ia hadir sebagai pelindung yang dekat.

Di dalam istana, hidangan disusun panjang. Nasi, daging, kuah rempah, dan berbagai makanan khas tersaji tanpa sekat. Tidak ada yang pulang dengan tangan kosong. Idul Fitri menjadi hari di mana istana berbagi, bukan sekadar memerintah.

Sejarawan seperti Amirul Hadi mencatat bahwa momen seperti ini bukan hanya ritual sosial, tetapi bagian dari sistem politik: memperkuat hubungan antara penguasa dan rakyat melalui nilai-nilai Islam.

Meugang: Daging untuk Semua

Beberapa hari sebelum Syawal tiba, suasana sudah lebih dulu hidup. Di pasar-pasar dan gampong, kerbau dan sapi disembelih dalam jumlah besar. Tradisi itu dikenal hingga kini sebagai Meugang.

Konon, pada masa Sultan Iskandar Muda, penyembelihan ini tidak dibiarkan menjadi urusan individu semata. Istana ikut mengatur, memastikan bahwa daging tidak hanya dinikmati oleh yang mampu, tetapi juga sampai ke tangan fakir miskin.

Di sebuah gampong yang jauh dari pusat kerajaan—barangkali di pedalaman seperti Seulimeum atau wilayah perbukitan—seorang ibu memasak daging meugang dengan penuh syukur. Anak-anak menunggu di dekat tungku, mencium aroma yang hanya datang beberapa kali dalam setahun.

Hari itu, mereka merasa sama seperti orang-orang di istana.

Syawal sebagai Simbol Kekuasaan dan Kasih

Idul Fitri di Aceh bukan sekadar hari suci. Ia adalah panggung di mana kekuasaan menunjukkan wajah terbaiknya.

Sultan hadir sebagai imam, sebagai dermawan, sebagai pemimpin yang tunduk pada syariat. Rakyat melihat, merasakan, dan mempercayai. Dalam dunia tanpa media, peristiwa seperti ini adalah bahasa paling kuat untuk membangun legitimasi.

Aceh saat itu dikenal luas oleh dunia luar. Para penjelajah Eropa yang singgah pada abad ke-17 sering mencatat kemegahan dan keteraturan kerajaan ini. Salah satunya adalah Peter Mundy, yang menggambarkan Aceh sebagai negeri yang kaya, teratur, dan kuat dalam identitas Islamnya.

Dan Idul Fitri adalah salah satu momen ketika semua itu tampak nyata.

Jejak yang Tak Pernah Hilang

Waktu berlalu. Kesultanan runtuh, perang datang silih berganti, dan zaman berubah.

Namun, ketika bulan Ramadan berakhir, masyarakat Aceh masih melakukan hal yang sama: membeli daging untuk Meugang, memasak bersama keluarga, dan saling mengunjungi di hari raya.
Di kampung-kampung, di kota-kota, bahkan di perantauan—denyut itu tetap hidup.

Seolah-olah, dari balik sejarah yang panjang, gema masa lalu masih berbisik:
Bahwa Idul Fitri bukan hanya tentang kembali ke fitrah, tetapi juga tentang menjaga hubungan—antara manusia, antara pemimpin dan rakyat, dan antara masa lalu dengan masa kini. (Hasnanda Putra)