posaceh.com, Jakarta – Perang antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel telah memasuki hari keenam pada Kamis (5/3).
Sejauh ini, belum ada tanda-tanda dari Iran maupun AS mau menghentikan aksi saling serang apalagi menuju meja perundingan. Berikut sejumlah fakta perkembangan terkini peperangan yang semakin meluas di Timur Tengah itu:
Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) melaporkan sedang menyiapkan pasukan Kurdi dengan tujuan memicu pemberontakan di Iran dalam beberapa hari mendatang.
Milisi Kurdi diperkirakan akan mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan Israel, meski bentuk dukungan tersebut belum diungkapkan. Rencana ini muncul di tengah perang yang tengah berlangsung antara Iran vs AS-Israel yang telah berlangsung lima hari terakhir.
“Kami baru saja melakukan percakapan menarik dengan seorang pejabat senior Kurdi Iran yang mengatakan pasukan oposisi Kurdi Iran sedang mempersiapkan operasi darat di wilayah barat Iran dalam beberapa hari mendatang,” ujar koresponden Internasional Utama CNN , Clarissa Ward.
“Mereka menunggu dukungan dari AS dan Israel sebagai bagian dari operasi ini, meski ia tidak memberikan rincian mengenai bentuk dukungan itu,” tambah dia.
Ia juga menegaskan bahwa Presiden AS Donald Trump baru saja menelpon pimpinan salah satu partai oposisi Kurdi Iran pada Senin (2/3/2026).
Amerika Serikat disebut mulai mengalami kekurangan persediaan rudal penting, termasuk rudal serang darat Tomahawk dan rudal pencegat SM-3, di hari kelima berperang melawan Iran, Rabu (4/3)
Menurut laporan CNN , seorang pejabat senior AS membocorkan bahwa Washington berspekulasi serangan ke Iran akan meningkat dalam 24 jam ke depan. Namun, pada saat yang sama pejabat Anda juga mengatakan persediaan rudal dan pencegat AS semakin menipis.
Operasi militer AS ke Iran ini berlangsung ketika Pentagon memang sudah menghadapi kekurangan rudal Patriot, karena sebagian besar persediaan telah digunakan untuk mendukung pertahanan udara Ukraina selama empat tahun perang dengan Rusia.
Bocoran pejabat AS ini mengindikasikan jika serangan terhadap Iran berlanjut lebih dari 10 hari, persediaan sejumlah rudal penting milik AS bisa benar-benar mulai menipis.
AS rugi alat militer hampir Rp33 T
Amerika Serikat mengalami kerugian hampir bernilai US$2 miliar atau sekitar Rp33,8 triliun nilai peralatan militer dalam empat hari pertama operasi militer terhadap Iran sejak Sabtu (28/2/2026).
Salah satu penyumbang kerugian besar adalah sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 bernilai sekitar US$1,1 miliar (sekitar Rp18,6 triliun).
Sistem itu ditempatkan di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, dan rusak setelah terkena serangan rudal Iran.(Muh/*)











