Banghas

Cinta Marsose di Tangse (Bagian 2)

257
×

Cinta Marsose di Tangse (Bagian 2)

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Letnan H.J. Schmidt dan Nyak Mameh, di Tangse. (Ai)

Kabut di Tangse bukan sekadar gejala alam. Ia adalah arsip yang turun perlahan dari langit, menutup bukit, menyelimuti sungai, dan menyamarkan jejak-jejak lama yang tak pernah benar-benar selesai. Di pagi seperti itu, Tangse terasa seperti halaman terakhir sebuah kisah yang tertunda.

Di bawah rimbun bambu dan bayang hutan Ulu Masen, sebuah rumoh Aceh masih berdiri dengan tiang-tiang tua yang menyimpan suara masa lalu. Orang-orang kampung menyebutnya rumah sunyi—bukan karena kosong, melainkan karena terlalu banyak kenangan yang tinggal di dalamnya.

Di sanalah, bertahun-tahun silam, Letnan H. J. Schmidt kerap singgah. Ia perwira Marsose, bagian dari pasukan elite kolonial Hindia Belanda yang ditugaskan memburu perlawanan Aceh hingga ke jantung pedalaman. Seragamnya selalu rapi, senjatanya tak pernah jauh dari jangkauan. Namun setiap kali duduk di bawah rumah panggung itu, Schmidt terlihat seperti manusia biasa yang sedang menunggu sesuatu yang tak pernah bisa ia miliki.

Dari celah papan lantai, suara Nyak Mameh turun perlahan. Tak ada sentuhan. Tak ada janji. Cinta mereka lahir dari jarak dan hidup dari diam. Schmidt adalah serdadu penjajah; Nyak Mameh perempuan Aceh yang teguh pada adat dan iman. Di antara keduanya berdiri dinding yang lebih tebal dari kayu rumah: keyakinan dan sejarah panjang perlawanan.

Schmidt bukan perwira biasa. Dalam catatan tugas, ia secara khusus ditugaskan mengejar ulama-ulama Tiro—para tokoh agama yang tetap mengangkat senjata dan mengobarkan perlawanan setelah perang panjang menguras tenaga kolonial. Jalur Tangse, Geumpang, hingga pedalaman Pidie bukan sekadar wilayah patroli, melainkan ruang keyakinan dan darah.

Setiap langkah Schmidt ke hutan adalah langkah menjauh dari rumah panggung itu. Setiap perintah pengejaran adalah jarak baru bagi cinta yang sejak awal tak pernah memiliki masa depan.

“Aku tak akan pergi dari keyakinanku,” kata Nyak Mameh suatu sore.
Schmidt mengangguk. Ia tak membantah. Ia tahu, cinta ini hanya bisa hidup selama ia tidak menuntut apa pun.

Hari-hari di Tangse berjalan di antara tembakan dan sunyi. Pasukan Marsose keluar-masuk hutan, sementara para pejuang Aceh bergerak seperti bayang—menyerang lalu menghilang. Schmidt berada di tengah pusaran itu: laporan, patroli, dan malam-malam panjang yang selalu berakhir dengan diam.

Hingga suatu hari, Tangse kehilangan jejaknya.

Tak ada perpisahan. Tak ada salam. Schmidt dipindahkan—atau lebih tepatnya, ditarik oleh perang ke wilayah lain yang lebih panas. Dalam arsip militer, kepindahan itu hanya satu baris laporan. Dalam ingatan Nyak Mameh, itu adalah jeda yang tak pernah tertutup.

Ia menjalani hidup sebagaimana adat menghendaki: menikah, menjadi ibu, dan menyimpan sunyi dalam dirinya. Namun setiap kabut turun terlalu tebal, ingatannya selalu kembali pada suara sepatu bot di tanah basah dan mata asing yang perlahan belajar mencintai Aceh.

Bertahun-tahun kemudian, kabar itu datang tanpa seremoni.

Schmidt tewas.

Bukan di Tangse.
Bukan pula di bawah rumah panggung itu.

Ia gugur di tempat lain—ditusuk oleh pejuang Aceh dalam sebuah pertempuran jarak dekat. Tak ada upacara. Tak ada makam yang dikenali. Tubuhnya lenyap bersama perang, menyatu dengan tanah yang tak pernah ia kuasai, namun diam-diam ia pahami.

Sejarah mencatat, kematian dengan cara serupa bukanlah hal asing. Pada Juli 1933, Kapten Ch. E. Schmid, Komandan Divisi V Marsose, ditikam oleh seorang Aceh bernama Amat Leupon di Lhoksukon, Aceh Utara. Perang Aceh memang panjang dan personal. Pangkat tidak selalu menjadi pelindung, dan senjata api kerap kalah oleh keberanian jarak dekat.

Berita kematian Schmidt sampai ke Tangse hanya sebagai bisik. Seperti cinta mereka dulu tumbuh: pelan, tertahan, dan tersembunyi. Nyak Mameh mendengarnya sambil duduk di tangga rumah. Ia tidak menangis. Ada hal-hal yang terlalu dalam untuk ditumpahkan dengan air mata.

Sejak itu, orang-orang Tangse percaya: bila senja turun terlalu cepat, atau kabut bertahan lebih lama di lembah, itu adalah sisa kisah yang belum sepenuhnya pergi.

Anak-anak yang bermain di kolong rumah kadang mendengar bunyi langkah. Bukan langkah orang kampung. Bukan pula tentara. Hanya suara sepatu di tanah basah—datang dan pergi, tanpa wujud.

Di Tangse, cinta tidak selalu berakhir dengan bahagia. Kadang ia hanya menjadi jejak: tertimbun tanah, diselimuti kabut, namun tak pernah benar-benar hilang.

Dan rumah itu tetap berdiri.
Menjaga jarak antara bawah dan atas.
Menjaga kisah tentang seorang Marsose dan seorang perempuan Aceh—yang saling mencintai tanpa pernah saling memiliki.

Di Tangse, sejarah tidak hanya ditulis oleh pemenang.
Ia hidup dalam cerita-cerita yang tak sempat menjadi masa depan. (Hasnanda Putra)