Banghas

Penembak Jitu Aceh dan Rubuhnya Sang Jenderal

289
×

Penembak Jitu Aceh dan Rubuhnya Sang Jenderal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi seorang pejuang, penembak jitu Aceh menembak Jenderal Kohler di Masjid Raya Baiturrahman (Ai)

Pagi di Kutaraja, 14 April 1873, tidak dimulai dengan teriakan.
Ia dimulai dengan menunggu.

Di halaman Masjid Raya Baiturrahman—yang saat itu masih dikelilingi tanah basah, pagar kayu, dan semak-semak—seorang lelaki Aceh berlutut. Senapannya telah ia kenal seperti mengenal denyut nadinya sendiri. Ia tidak menghitung menit. Ia mengukur napas.

Di hadapannya, sejarah sedang berjalan tanpa sadar.

Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler, panglima ekspedisi Belanda pertama ke Aceh, melangkah ke depan. Seragamnya rapi, sikapnya yakin. Ia datang membawa ribuan tentara, meriam, dan keyakinan kolonial bahwa Aceh akan tunduk dalam hitungan hari.

Ia tidak tahu bahwa pada detik itu, dirinya telah menjadi titik bidik.

Tarikan pelatuk itu singkat.
Bunyinya kering.
Dan tubuh sang jenderal rubuh di halaman masjid.

Tidak ada sorak.
Tidak ada kemenangan yang dirayakan.

Hanya satu peluru, dan Belanda kehilangan panglimanya.

Fragmen Arsip yang Dingin

Dalam laporan resmi Belanda, peristiwa itu dicatat singkat dan nyaris tanpa emosi.

Dalam notula Enquêtecommissie Atjeh (1874), kematian Köhler disebut sebagai akibat:

“een schot uit de hinderlaag”
(sebuah tembakan dari penyergapan).

Tak ada nama penembak.
Tak ada arah tembakan yang pasti.
Tak ada kisah heroik.

Bagi Belanda, ini adalah aib militer: seorang jenderal gugur bukan oleh meriam, bukan oleh pasukan besar, melainkan oleh satu orang yang bersembunyi dan menunggu.

Karena itu, arsip memilih diam.

Ia yang Tak Bernama
Aceh mengingatnya dengan cara lain.

Dalam hikayat lisan dan cerita kampung, penembak itu bukan tokoh tunggal, melainkan perwujudan: hulubalang masjid, penjaga kota, lelaki yang hafal sudut cahaya pagi. Kadang namanya dilekatkan pada Teuku Nyak Raja Lueng Bata, kadang pada jaringan pejuang kota Kutaraja, kadang tak disebut sama sekali.

Sejarawan Aceh seperti Teuku Ibrahim Alfian dan Ali Hasjmy menulis dengan hati-hati:
identitas penembak Köhler tidak pernah dapat dipastikan secara akademik, meski keterlibatan pejuang Aceh lokal tak terbantahkan.

Mungkin memang begitu seharusnya.
Di Aceh, keberanian tidak selalu butuh nama.

Senapan, Kesabaran, dan Watak

Yang sering dilupakan: penembak itu tidak membawa rencong.
Ia membawa senapan laras panjang—senjata yang datang melalui perdagangan, lalu dipelajari, disesuaikan, dan dipakai dengan disiplin.

Dalam majalah militer Belanda Militaire Spectator, beberapa tahun kemudian, perwira kolonial menulis dengan nada getir:

“Orang Aceh menembak dengan sabar, jarang meleset, dan tidak tergesa.”

Belanda mengira itu teknik.
Aceh tahu itu watak.
Peluru tidak ditembakkan karena marah.
Ia dilepaskan karena waktu telah tepat.

Setelah Tubuh Itu Jatuh

Kematian Köhler mengguncang moral pasukan. Ekspedisi pertama ditarik mundur. Strategi dirombak. Aceh—yang hendak ditaklukkan dengan cepat—berubah menjadi perang terpanjang dan paling berdarah dalam sejarah kolonial Belanda: hampir empat puluh tahun.

Satu peluru itu memaksa imperium belajar satu hal pahit:
tanah ini tidak tunduk pada peta dan pangkat.

Aceh mungkin kalah dalam statistik perang. Namun hari itu, Aceh menang harga diri.

Warisan yang Sunyi

Kini, halaman Masjid Raya telah berubah. Marmer dingin menggantikan tanah basah. Anak-anak berlari, jamaah berlalu-lalang. Tidak ada penanda bahwa di tempat itu, seorang jenderal pernah rubuh.
Dan tak ada pula tugu bagi penembaknya.

Mungkin karena ia tidak menginginkannya. Ia hanya menjalankan satu amanah: tanah ini tidak diinjak dengan angkuh.

Di Aceh, pahlawan sejati bukan yang dipahat, melainkan yang menghilang setelah tugasnya selesai.

Dan di antara sunyi sejarah di sela arsip yang dingin dan hikayat yang hangat
satu peluru itu masih bergema,
mengajarkan bahwa kadang,
sejarah digerakkan bukan oleh pasukan besar,
melainkan oleh kesabaran seorang lelaki yang menunggu. (Hasnanda Putra)