Dalam tradisi maritim Aceh, Khanduri Laot sering dipahami sebagai ritual milik para nelayan laki-laki—mereka yang setiap hari menantang ombak, menjemput rezeki dari laut, dan menjaga adat di atas perahu. Namun di balik gegap gempita upacara itu, ada kekuatan lain yang bekerja dalam diam: perempuan pesisir. Mereka hadir di setiap sudut tradisi, dari dapur umum hingga pantai, dari ruang keluarga hingga pasar. Khanduri Laot, tanpa sentuhan perempuan, tidak akan pernah sesempurna sekarang.
Sejak subuh menyingsing, aktivitas perempuan sudah dimulai. Mereka berkumpul di dapur-dapur umum yang dibangun sementara untuk keperluan kenduri. Suara pisau memotong bumbu, gemericik santan mendidih, dan derap langkah di tanah basah berpadu dengan desiran angin laut. Menu khas Aceh menjadi karya kolektif mereka: kuah beulangong yang pekat rempah, ikan bakar beraroma arang, boh rom-rom yang manis dan kenyal, hingga aneka kue tradisional warisan turun-temurun. Proses memasak ini bukan sekadar rutinitas domestik, melainkan simbol gotong royong yang mengikat hubungan antarperempuan pesisir. Di sela-sela kesibukan, mengalir cerita, canda, dan doa—semua menjadi bumbu sosial yang memperkuat ikatan komunitas.
Salah satu ritual khas dalam tradisi ini adalah meurandeh, yaitu membagi makanan kenduri kepada rumah-rumah warga, termasuk mereka yang tidak dapat hadir. Para perempuan menjadi garda utama dalam kegiatan ini. Mereka memastikan bahwa setiap rumah menerima bagian, tanpa memandang status sosial atau kemampuan untuk melaut. Tindakan ini menegaskan nilai inklusivitas Khanduri Laot: keberkahan laut harus dirasakan semua orang, termasuk mereka yang sedang sakit, lansia, janda nelayan, atau keluarga yang sedang ditimpa musibah. Melalui tangan perempuan, berkah itu menjangkau seluruh kampung, menghadirkan rasa kebersamaan yang khas.

Di luar ritual kenduri, peran perempuan dalam kehidupan maritim Aceh tidak kalah penting. Ketika suami, anak, atau saudara laki-laki melaut berhari-hari, perempuanlah yang menjaga stabilitas keluarga. Mereka mengelola keuangan rumah tangga, memperbaiki jaring sederhana, mengolah sebagian hasil tangkapan menjadi keumamah yang tahan lama, serta membawa ikan segar ke pasar-pasar tradisional. Di bale-bale pasar itu, perempuan pesisir berdiri sebagai wajah ekonomi laut. Mereka bernegosiasi harga, menjaga kualitas dagangan, dan menjadi penghubung antara hasil laut dengan kebutuhan masyarakat luas. Dalam aktivitas ini, keberlanjutan ekonomi pesisir sebagian besar bertumpu pada ketangguhan mereka.
Lebih jauh lagi, perempuan adalah penjaga nilai-nilai adat. Di rumah, di teras, atau di tepi pantai ketika menunggu perahu kembali, mereka menuturkan pantangan melaut, doa-doa keselamatan, serta legenda-legenda laut yang sarat makna ekologis. Cerita tentang makhluk laut, batas-batas moral, dan etika menangkap ikan diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Jika laki-laki menjaga laut dari ancaman fisik, perempuan menjaga laut melalui narasi—agar anak-anak tumbuh dengan rasa hormat terhadap alam dan pemahaman bahwa laut bukan sekadar sumber rezeki, tetapi ruang kehidupan yang harus dijaga bersama.
Dalam beberapa tahun terakhir, keterlibatan perempuan dalam konservasi mulai terlihat lebih kuat. Mereka membentuk kelompok penanam mangrove, mengolah limbah laut menjadi kerajinan, serta mengadakan edukasi lingkungan bagi anak-anak sekolah. Peran ini menunjukkan bahwa menjaga laut tidak hanya dilakukan di atas perahu, tetapi juga melalui tindakan kecil dan berkelanjutan di darat. Dengan ketelatenan mereka, kawasan pesisir lebih terjaga, dan kesadaran ekologis semakin tumbuh di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, Khanduri Laot adalah gambaran hubungan harmonis antara manusia dan laut, antara laki-laki dan perempuan, antara kerja keras dan doa. Perempuan pesisir, dengan tangan yang hangat, hati yang sabar, dan tekad yang kuat, menjadi energi tersembunyi di balik kekhidmatan ritual ini. Mereka menyambut nelayan yang pulang, memeluk mereka dengan doa keselamatan, dan memastikan bahwa tradisi tetap mengalir melalui generasi.
Khanduri Laot bukan hanya milik para pelaut, tetapi milik seluruh komunitas. Dan di dalamnya, perempuan adalah tiang yang menopang nilai, budaya, ekonomi, dan spiritualitas pesisir. Mereka adalah penjaga laut dari darat—peran yang mungkin tak selalu tampak, tetapi sangat menentukan keberlangsungan kehidupan maritim Aceh. (Adv)











