Banghas

Jingga Zaman di Kuta Alam 

5432
×

Jingga Zaman di Kuta Alam 

Sebarkan artikel ini
FOTO/IWANVANWILANBMasjid dan Underpass Beurawe

Banda Aceh selalu menyimpan banyak kisah, yang terus mengalir dari tutur dan tulisan. Seperti kuta kecil di pinggiran Krueng Aceh ini, penuh cerita sepanjang masa. Sebagian menyebut pernah menjadi pusat Kerajaan Aceh bernama Meukuta Alam. Raja-raja Aceh menjadikan kawasan ini istana sekaligus pertahanan sebelum pindah ke kawasan Daruddunia (Pendopo sekarang).

Dalam beberapa literatur disebutkan pusat Kerajaan Aceh mengalami perpindahan tempat beberapa kali. Awalnya ibukota di Gampong Pande sebagai asal mula Kerajaan Aceh, kemudian juga pernah tersebut Kuta Alam, seterusnya Darul Kamal di arah Mata Ie-Peukan Bilui dan terakhir Daruddunia kawasan Meuligoe atau Pendopo sekarang.

Dalam daftar penguasa Aceh atau silsilah raja-raja Aceh, tersebut sebuah dinasti paling kuat bernama Meukuta Alam sekaligus peletak pondasi Kerajaan Aceh Darussalam. Dinasti ini dimulai oleh Sultan Ali Mughayat Syah bin Sultan Syamsu Syah bin Sultan Munawwar Syah (1496-1528).

FOTO/IWANVANWILAN Underpas Beurawe – Kuta Alam di malam hari 

Dalam sejarah, Sultan Ali Mughayat Syah dikenal sebagai bapak pemersatu Aceh yang mampu menguasai Daya, Pedir dan Pase di paruh pertama kepemimpinannya. Sejumlah ekspedisi perluasan wilayah gencar mulai di masa kekuasaannya sekaligus dikenal sebagai Raja Aceh yang membawa pulang Lonceng Cakradonya dari Pasai ke Kutaradja.

Dinasti Meukuta Alam berakhir di masa Sultan Zainal Abidin ibn Abdullah (1576-1577), selepas itu Aceh dipimpin Dinasti Perak.

Belanda di era kolonial juga menjadikan Kuta Alam sebagai basis utama dengan membangun asrama besar dan rumah sakit militer. Sebagian besar bangunan bersejarah tersebut masih terlihat utuh sampai sekarang.

Dalam perjalanan waktu kawasan Kuta Alam ini menjadi sebuah kecamatan utama di Kota Banda Aceh dengan populasi penduduk terbanyak saat ini di Ibukota Provinsi Aceh. Buku Banda Aceh Dalam Angka 2019 mencatat jumlah penduduk Banda Aceh 265.111 jiwa, populasi terbanyak dan terpadat di Kecamatan Kuta Alam dengan 52.645 jiwa.

Pembangunan Underpass makin mempercantik kawasan ini, apalagi sebelumnya telah berdiri megah Masjid Babutaqwa Aspol, dekat persimpangan jembatan Beurawe – Simpang Surabaya. Ramai jamaah setiap waktu, selain dalam masjid yang teduh juga toilet masjid yang bersih.

Underpass Beurawe memiliki panjang 202 meter, lebar 10,4 meter untuk 2 lajur 2 arah. Underpass ini merupakan satu paket dengan pembangunan fly over Simpang Surabaya. Proyek yang bertujuan mengurangi kemacetan ini menghabiskan biaya Rp 272 miliar, dan menjadi bagian dari transformasi Banda Aceh dari kota besar menjadi kota metropolitan.

Di malam hari, kawasan ini juga terlihat cantik dengan lampu-lampu jalan yang terang dan warna warni.

Mengingat sejarah Meukuta Alam yang pernah berjaya dalam paruh abad 15, Masjid Babutaqwa seakan bagian tak terpisahkan dari istana dengan gedung-gedung dalam komplek balairung Sultan dan taman-taman sekitarnya. Berpadu warna khas dan terpaan senja seakan Meukuta Alam kembali ada di sudut kota yang penuh cerita.

Kuta Alam juga dikenal luas perantau khususnya mahasiswa sebagai tempat kos paling favorit karena akses transportasi kiri kanan yang mudah kemana saja baik ke Kampus Darussalam, Pasar Atjeh, ke jalur Ulee Kareng atau ke Simpang Surabaya sekitarnya.

Berjuta kenangan dan jejak kerajaan telah menjadikan Kuta Alam sebagai kawasan penting di Banda Aceh. Letak strategis di tepi Krueng Aceh dan akses ke semua daerah dalam kota serta jalur ke Darussalam dan Ulee Kareng di perbatasan Aceh Besar.

Begitulah Kuta Alam telah melalui banyak masa dalam perjalanan waktu. Kita adalah pelintas yang terus akan berganti dari generasi ke generasi dalam sinestesia zaman. Dan suatu hari sejarah akan terus dibaca dan ditulis ulang, agar kisah-kisah Kuta Alam tidak menjadi dongeng di pergantian senja. (Hasnanda Putra)