Banghas

“Darah di Lammeulo: Hikayat Perang Cumbok”

1324
×

“Darah di Lammeulo: Hikayat Perang Cumbok”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Konflik Lokal Berdarah, Perang Cumbok (Ai)

Langit Pidie pada penghujung 1945 tampak muram. Awan hitam menggantung seolah menjadi pertanda akan datangnya badai. Di balik bukit, di antara rimbun pepohonan, bayang-bayang perang tengah disiapkan. Di sebuah meunasah tua, Tgk. Daud Beureueh duduk bersila, wajahnya keras seperti batu karang yang diterpa ombak. Di tangannya, maklumat yang baru saja ditulis—sebuah seruan jihad:
“Melawan Belanda dan sekutu-sekutunya adalah perang sabil. Siapa yang gugur, syahid di jalan Allah.”

Namun, siapa sangka, musuh yang sesungguhnya bukan hanya yang datang dari luar. Di tanah sendiri, sesama darah Aceh telah memendam bara. Bara yang dipupuk sejak zaman Belanda—ketika Snouck Hurgronje datang dengan senyum liciknya, memisahkan uleebalang dan ulama. Bara itu kini membesar, siap melalap segalanya.

Di Beureunun, suara-suara keras menggema di rumah Teuku Keumangan Umar. Uleebalang berkumpul, wajah-wajah tegang menatap satu sama lain. Teuku Daud Cumbok—pimpinan yang gagah dengan sorot mata bagaikan mata elang—menggebrak meja kayu:
“Kita tidak akan tunduk pada ulama! Senjata Jepang di Sigli adalah hak kita, bukan untuk PUSA! Jika mereka menghalangi, kita lawan!”

Keputusan diambil: membentuk Barisan Penjaga Keamanan (BPK). Cap Bintang, Cap Sauh, Cap Tombak—tiga bendera kehormatan dikibarkan. Di dada mereka, harga diri bangsawan Aceh berkobar.

Namun, di sisi lain, pemuda-pemuda PUSA menghunus pedang niat. Mereka tak lagi percaya pada uleebalang yang dianggap kaki tangan penjajah. Maka lahirlah laskar-laskar: Hisbullah, Mujahidin, PRI—pasukan rakyat yang bertekad menghapus feodalisme dari bumi Aceh.

Desember 1945. Bau mesiu mulai menyelimuti udara. Di Sigli, suara tembakan pertama meletus—sebuah suara yang memecahkan persaudaraan berabad-abad. Tiga hari, 4–6 Desember, darah mengalir di jalan-jalan. Kolonel Sjamaun Gaharu dan Mayor Teuku Hamid Azwar berusaha menghentikan perang, tapi api kebencian sudah terlanjur menyala.

Pada dini hari 25 Desember, ketika dunia merayakan damai Natal, Aceh justru terjaga dalam pekik perang. Pasukan MBRU—gabungan rakyat dan TKR—bergerak dari Garot dan Tangse, mengepung markas uleebalang di Lammeulo. Dalam gelap, langkah-langkah mereka terdengar seperti dentang takdir.

Pertempuran pecah. Dentuman senjata, jerit manusia, dan takbir bercampur jadi satu. Rumah-rumah uleebalang terbakar. Bendera kebesaran mereka yang dulu menjulang kini menjadi abu yang diterbangkan angin.

Teuku Daud Cumbok, dengan sisa pasukannya, melarikan diri ke hutan Seulawah. Di dadanya berkecamuk antara marah dan sedih—marah karena kalah, sedih karena perang ini bukan melawan penjajah, tapi saudara sendiri. Namun takdir sudah tertulis. 16 Januari 1946, ia tertangkap di kaki gunung.

Konon, sebelum dieksekusi, Daud Cumbok berdiri tegak. Pandangannya menembus langit Aceh, seolah ingin berkata:
“Aku kalah, dan kalian pun tak pernah menang. Aku Ampon Cumbok akan mati sebagai aneuk agam,”

Peluru menyalak. Tubuh Teuku Daud Cumbok rebah ke bumi, dan bersamanya runtuhlah singgasana feodal yang berabad-abad bertahan di Aceh.

Namun perang ini meninggalkan luka. Hampir seratus bangsawan tewas, dan darah tak berdosa menghitamkan tanah Pidie. Rakyat bersorak karena runtuhnya feodalisme, tapi di sudut hati mereka, ada yang patah: persaudaraan yang tak pernah kembali seperti dulu.

Perang Cumbok selesai, tapi kisahnya tetap hidup—sebagai pelajaran, bahwa perang saudara hanya menyisakan tangis dan penyesalan. (Hasnanda Putra)