Banghas

Bintang-Bintang di Pundak Marzuki

795
×

Bintang-Bintang di Pundak Marzuki

Sebarkan artikel ini
Brigjen Drs Marzuki Ali Basyah MM dan Hasnanda Putra ST MM MT FOTO/ DOK BNNP ACEH

Di sebuah lembah yang kabutnya tak pernah benar-benar pergi dan rumah-rumah kayu berdiri di antara gemericik sungai yang tak pernah lelah bercerita. Tangse. Di sinilah, tanah gugurnya para pewaris darah Teungku Chik di Tiro dan putri pejuang Cut Nyak Dien, lahir seorang anak yang kelak pulang membawa dua bintang—Marzuki Ali Basyah.

Masa kecilnya tak hanya berwarna kampung. Ada babak indah di Asrama Polisi Punge, Banda Aceh, mengikuti penugasan sang ayah. Kepada penulis, ia pernah tersenyum saat mengenang satu kisah: ketika dimandikan orang tua di bak mandi, Marzuki kecil senang bermain busa sabun. Dengan jemari mungil, ia membentuk busa itu menjadi bintang kecil, menempelkannya di dada, lalu berdiri tegak memamerkannya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali ia membuat bintang itu, seolah ingin meyakinkan orang tuanya — dan mungkin takdir — bahwa kelak ia akan memiliki lebih dari satu bintang di tubuhnya.

Tanda itu ternyata benar. Waktu berjalan, dan bintang-bintang itu hadir bukan dari busa, tapi dari kerja keras, pendidikan, dan pengabdian panjang.

Ia memasuki Akademi Kepolisian (Akpol) pada 1991. Lima tahun kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) 1996, Sespim Polri 2006, dan Sespimti 2017. Pendidikan ini bukan sekadar gelar, tetapi tempaan jiwa yang mematangkan langkahnya sebagai pemimpin.

Kariernya berawal di berbagai penugasan lapangan. Wakapolres di Kuningan dan Ciamis, lalu memegang komando sebagai Kapolres Dairi pada 2008 dan Kapolres Simalungun pada 2010. Kemampuannya di bidang manajemen sumber daya manusia mengantarkannya menjadi Karo SDM di tiga wilayah berbeda: Polda Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Aceh.

Tahun 2020, ia kembali ke tanah kelahiran sebagai Irwasda Polda Aceh, mengawasi kinerja dengan ketegasan yang dibalut kebijaksanaan. Pendidikan di Sespim Lemdiklat Polri pada 2021 membawanya ke amanah baru sebagai Kepala BNNP Gorontalo (2023), lalu Kepala BNNP Aceh (2024).

Meski langkahnya banyak dihabiskan di berbagai penjuru negeri, ia tak pernah melupakan akar. Setiap pulang ke Tangse, ia rutin berziarah ke makam kedua orang tuanya di Cot Arang, Blang Dhod. Di sela doa-doa yang ia bisikkan, ia menyempatkan diri bersilaturahmi dengan keluarga besar, menyambung ikatan darah dan rasa yang menjadi kekuatan batinnya.

Dan kini, perjalanan panjang itu sampai pada babak yang istimewa: Kapolri menunjuknya sebagai Kapolda Aceh yang baru.

Bagi Marzuki Ali Basyah, bahwa Aceh bukan hanya wilayah hukum, melainkan jiwa dari sejarah panjang yang pernah berdarah untuk mempertahankan martabatnya. Tantangan yang akan ia hadapi mungkin sekeras ombak Samudra Hindia yang menghantam pantai barat Aceh, tetapi keyakinannya seteguh Gunong Alimon Tangse.

Kini di pundaknya akan tersemat dua bintang, di dadanya tertanam tekad, dan di hatinya mengalir darah seorang putra Pidie yang berjanji tak akan membiarkan tanah kelahirannya berjalan tanpa penjaga. Dan mungkin, di sudut hatinya, anak kecil dari Asrama Punge itu masih ada — masih memegang bintang di dada. Bedanya, bintang itu kini bukan busa sabun yang mudah hilang, tetapi bintang sejati, simbol pengabdian, yang mungkin saja akan terus bertambah seiring waktu.

Sebab, seperti yang ia peragakan berkali-kali di masa kecilnya, bintang di tubuhnya memang tak akan berhenti pada satu.

Bagi masyarakat Tangse dan Banda Aceh, nama Marzuki Ali Basyah bukan sekadar deretan pangkat atau jabatan. Ia pernah menorehkan kesan yang tinggal di hati — di Tangse, tanah kelahirannya yang sederhana namun sarat sejarah, tempat ia pulang untuk meneguk rindu dan menabur doa di pusara orang tua. Dan di Banda Aceh, kota yang pernah menjadi rumah masa kecilnya, ia tinggal bersama orang tuanya di Lampaseh Kota, melangkah di jalan-jalan yang dulu ia kenal dari tawa dan permainan. Penunjukannya sebagai Kapolda Aceh bukan hanya berita tentang pergantian pucuk pimpinan kepolisian, melainkan kisah seorang anak daerah yang kembali membawa bintang di pundak mengabdi untuk negeri. (Hasnanda Putra)